Liputan6.com, Jakarta Keberadaan Artificial Intelligence (AI) dalam kehidupan sehari-hari tak bisa dihindarkan lagi. Lalu, bagaimana dampak dan manfaatnya di dunia jurnalistik.
Rektor Pradita University Richardus Eko Indrajit menuturkan, AI sebenarnya bisa menjadi pembantu jurnalis untuk memudahkan kerja, tanpa melupakan profesionalisme jurnalistik.
Advertisement
"Sampai kapanpun, AI tidak bisa menggantikan tugas wartawan. Tugasnya hanya membantu, sebagai co-pilot, bukan menggantikan," kata Eko dalam workshop jurnalistik di Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (17/09/2025).
Menurutnya, AI bisa membantu kerja jurnalis atau pekerja di bidang apapun hanya sebagai alat.
"Mengapa AI penting bagi jurnalis? Pertama, kita sudah hidup di era industri 5.0, perubahan landscape media digital, sehingga informasi yang dihadirkan sudah lebih realtime," ujarnya.
Lalu, media massa sudah bukan lagi berkompetisi dengan sesamanya, melainkan sudah dengan pengguna media sosial. Di sana lahir atau bermunculan citizen journalism, dengan begitu, seorang jurnalis bisa menjadikan AI sebagai asisten.
"Asisten untuk mencari tahu narasumber, berita itu bohong atau tidak, menggali informasi sebelum mewawancarai narasumber. Sehingga, waktu yang dihemat bisa digunakan untuk investigasi dan menciptakan narasi yang mendalam," tutur Eko.
Bukan hal yang tabu lagi penggunaan AI di dunia jurnalistik. Aplikasi yang bisa dipakai untuk jadikan AI sebagai asisten seperti news gathering, news writing, fact-checking, hingga penggunaan AI untuk personalization.
Eko mencontohkan, penggunaan AI di media besar di negara barat sudah dilakukan. Seperti New York Times yang menggunakan AI hanya untuk drafting dan analisis, bukan untuk menulis ataupun membentuk opini.
"Etikanya, kalau mau pakai AI, bilang! Ngaku saja, karena itu tidak tabu. Sebab kita di era 5.0, kita bekerja sama dengan mesin. Tapi bagaimana hidup kita tidak dirusak oleh AI," katanya.
Bukan hanya itu saja, penggunaan AI pada jurnalistik juga harus disertai dengan upaya akurasi. Kemudian, AI prinsipnya hanya membantu, sedangkan keputusan sepenuhnya ada di jurnalis.
Menurutnya, dengan menyikapi bijak kegunaan AI, seorang manusia bisa memanfaatkan potensinya yang besar. Sehingga, jadikan AI sebagai alat pembantu saja bukan menggantikan.