Liputan6.com, Jakarta - Radit menghampiri Nurma dan Markum yang baru saja tiba. Wajahnya tegang, matanya penuh amarah. Tanpa basa-basi, ia langsung mengkonfrontasi mereka.
“Apa yang kalian lakukan ke Mirsa?! Kalian pikir aku bakal diam aja?!” serunya tajam. “Aku nggak akan pernah ninggalin istriku. Bahkan menganggap dia meninggal aja… itu udah cukup kejam, Bu!”
Advertisement
Di kejauhan, Karina mendengar sebagian ucapan Radit. Kata "istriku", "meninggal", dan "cukup kejam" menggema di telinganya. Wajahnya pucat. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Dia benar-benar terpukul.
Sementara itu, di kantor, Mirsa menyodorkan secangkir kopi hangat ke meja kerja Reza. "Ini kopinya," katanya lembut. Reza tersenyum hangat. “Terima kasih, Mirsa.”
Tepat saat cangkir mendarat di atas meja, Reza mengulurkan sebuah paperbag berisi sesuatu. Mirsa memandangnya bingung.
Ranti Penasaran
Di luar ruangan, Ranti baru saja akan masuk. Namun langkahnya terhenti ketika melihat pintu terbuka sedikit. Rasa penasaran membuatnya melongok ke dalam.
Matanya membelalak saat melihat Reza menyerahkan sebuah kotak pada Mirsa—entah apa isinya, tapi cukup membuat darah Ranti mendidih.
"Dasar perempuan penggoda!" gumam Ranti geram dalam hati. "Aku yakin ini semua gara-gara rayuan Mirsa! Dia sengaja manfaatin Mas Reza! Dan aku gak akan tinggal diam!"
Sore hari, sepulang kerja, Mirsa sampai di rumah. Di ruang tamu, ia melihat Karina duduk terisak, tertunduk menahan tangis. Perlahan, Mirsa duduk di sampingnya.
Karina mengangkat wajahnya—matanya sembab, wajahnya hancur. Suaranya bergetar saat berbicara.
"Aku… baru tahu kenyataan pahit tentang suamiku…" "Radit selalu bilang, istri pertamanya udah meninggal. Itu alasan dia nikahin aku. Tapi nyatanya… istri pertamanya masih hidup!"
Mirsa terdiam. Napasnya tercekat.
Setiap kata Karina terasa seperti pisau yang menembus jantungnya. Bagaimana tidak? Karena perempuan yang disebut Karina sebagai “istri pertama” yang masih hidup… adalah dirinya sendiri.