Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PAN, Abdul Hakim Bafagih, merespons rencana penggabungan Pelita Air dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Hal itu disampaikan Hakim dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP), Kamis (11/9).
Menurut Hakim, Pelita Air tengah menunjukkan kinerja positif dan tidak selayaknya dilebur dengan Garuda.
Advertisement
“Saya menolak dengan keras upaya penggabungan Pelita Air dengan Garuda Indonesia,” katanya seperti dikutip dari keterangan diterima.
Hakim mengaku, dirinya sudah mencoba langsung layanan Pelita Air dan membagikan pengalamannya di media sosial. Menurut dia, respons publik menunjukkan citra positif maskapai tersebut.
“Beberapa minggu lalu saya naik Pelita, saya coba posting di media sosial di Instagram. Saya coba sampling sedikit saja bagaimana tanggapan teman-teman tentang Pelita Air. Apik kabeh! salut saya. Bagus semuanya. Ini perusahaan lagi bagus-bagusnya, lagi cakep-cakepnya,” ungkap dia.
Hakim khawatir, penggabungan Pelita dengan Garuda justru tidak berbuah manis. Karenanya dis menegaskan sikapnya menolak rencana tersebut.
"Maka dari itu, saya Abdul Hakim Bafagih, Anggota DPR RI dari Fraksi PAN, menolak upaya itu, menolak rencana itu, keberatan saya,” tegasnya.
Opsi Terbaik
Hakim menyarankan, opsi terbaik adalah menjadikan Pelita Air langsung sebagai anak usaha Danantara Asset Management (DAM), bukan dilebur dengan Garuda.
“Kalau memang mau di-spin off, dijadikan langsung anak usahanya Danantara, anak usahanya holding operasional DAM. Jangan kemudian jadi entitas di bawahnya Garuda. Pertamina harus bersuara. Saya takut, khawatir terseret Pelitanya,” saran Hakim.
“Kalau mau menyelamatkan Garuda, takeover saja Citilink-nya. Masih banyak kok skema yang bisa ditawarkan,” imbuhnya menutup.