Kylian Mbappe dan Cerita Hidupnya Setelah Tinggalkan PSG

Kylian Mbappe menjadi sorotan besar setelah kepindahannya dari PSG ke Real Madrid pada musim panas 2024. Sang penyerang bergabung ke Santiago Bernabeu dengan status bebas transfer.

oleh Aga Deta AndityaDiperbarui 11 September 2025, 12:08 WIB
Pemain Real Madrid, Kylian Mbappe, melakukan selebrasi setelah mencetak gol ke gawang Osasuna pada laga pekan perdana La Liga di Stadion di Santiago Bernabeu, Rabu (20/8/2025) dini hari WIB. (AP Photo/Manu Fernandez)

Liputan6.com, Jakarta Kylian Mbappe menjadi sorotan besar setelah kepindahannya dari PSG ke Real Madrid pada musim panas 2024. Sang penyerang bergabung ke Santiago Bernabeu dengan status bebas transfer.

Kisah hidup dan perjalanan kariernya kembali diangkat dalam edisi khusus majalah L’Equipe. Dalam kesempatan itu, Mbappe juga berbicara mengenai ambisinya untuk meraih Ballon d’Or.

Namun, bukan hanya dirinya yang buka suara. Sang ibu sekaligus agennya, Fayza Lamari, turut berbagi cerita panjang mengenai perjalanan anaknya.

Lamari menyingkap masa kecil Mbappe hingga akhirnya menjadi bintang utama Real Madrid. Ia juga menceritakan suka duka keluarga di balik kesuksesan sang penyerang.


Perjalanan ke Real Madrid

Aksi Kylian Mbappe dalam laga Real Madrid versus Real Mallorca di La Liga 2025/2026, Minggu (31/8/2025). (AP Photo/Manu Fernandez)

Lamari mengingat momen ketika Mbappe meninggalkan PSG pada musim panas 2024. Saat itu, banyak pihak menilai PSG lebih dekat dengan gelar Liga Champions.

Namun, Mbappe tetap memilih Madrid meski harus memulai dari awal. Keputusan itu disebut Lamari sebagai titik balik besar dalam karier putranya.

“Mereka mengatakan PSG lebih dekat meraih Liga Champions, dan dia menjawab dengan mata polos: ‘Ya, saya tahu, tapi itu tidak masalah, saya mulai dari nol.’ Saat itu saya kembali menemukan Kylian yang dulu saya impikan di kamarnya,” ujar Lamari dilansir Diario AS.

“Ketika para fans bersorak atau mencemooh dia, di situlah kamu kehilangan anakmu. Dia menjadi milik semua orang, kecuali kamu. Pada level itu, tidak ada kehidupan di luar sepak bola,” tambah Lamari.


Idola Masa Kecil dan Inspirasi

Pemain Real Madrid, Kylian Mbappe, melepaskan tendangan penalti saat melawan Osasuna pada laga pekan perdana La Liga di Stadion di Santiago Bernabeu, Rabu (20/8/2025) dini hari WIB. (AP Photo/Manu Fernandez)

Kecintaan Mbappe pada Real Madrid berawal sejak kecil. Zinedine Zidane dan Cristiano Ronaldo menjadi sosok penting yang menginspirasinya.

Menurut Lamari, putranya bahkan pernah menganggap dirinya orang Portugis hanya karena kagum pada Ronaldo. Ia mendukung Portugal semata-mata karena ada idolanya di sana.

“Itu bermula dengan Zidane ketika dia berusia empat tahun. Lalu Cristiano Ronaldo – baginya, dia adalah orang Portugis. Dia akan menonton pertandingan Portugal dan mendukung Ronaldo. Dia berkata: ‘Saya orang Portugis’,” ungkap Lamari.

“Pada usia 14, dia berkata kepada saya: ‘Ibu, dia menyentuh jaket saya. Saya tidak akan mencucinya lagi’,” kenang Lamari tentang pertemuan Mbappe dengan Zidane.

Lanjut Baca:

Lamari juga menyinggung soal konsekuensi ketenaran. Ia mengaku lebih bangga dengan sosok pribadi Mbappe dibanding statusnya sebagai pesepak bola. Ia bahkan jujur mengakui bahwa putranya pernah menunjukkan sikap arogan. Namun, sebagai ibu, ia merasa perlu untuk selalu mengingatkan Mbappe agar tetap rendah hati. “Saya tidak suka kata ‘ikon.’ Itu menakutkan saya. Orang-orang membicarakan ketenaran tetapi tidak tentang ekspektasi dan konsekuensinya. Saya lebih bangga dengan pria yang dia jadi, bukan pemainnya,” ujar Lamari. “Tentu ada masa ketika dia arogan. Tapi sebagai ibu, kamu harus membawanya kembali ke bumi. Dia berhak merasa lelah kadang-kadang. Dia juga manusia,” tegas Lamari.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya