Cek Rekomendasi Saham Hari Ini 10 September 2025, Ada BBCA hingga MEDC

Berikut rekomendasi saham saat laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih melanjutkan koreksi pada perdagangan Rabu (10/9/2025).

oleh Agustina MelaniDiperbarui 10 September 2025, 06:55 WIB
Ilustrasi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan koreksi pada perdagangan saham Rabu, (10/9/2025). IHSG hari ini akan berpotensi ke posisi 7.233-7.390.

IHSG merosot 1,785 ke posisi 7.628 dan masih didominasi oleh tekanan jual meskipun volume sudah relatif mengecil pada perdagangan saham, Selasa, 9 September 2025.

Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, pada label hitam dan merah, IHSG masih akan melanjutkan koreksinya untuk membentuk bagian dari wave [c] dari wave 4. Hal ini seiring IHSG akan mengarah ke 7.233-7.390.

“Namun demikian, masih terdapat peluang IHSG menguat ke area 7.696-7.771 sekaligus menguji area resistance terdekatnya,” ujar Herditya.

Ia mengatakan, IHSG akan berada di level support 7.547,7.448 dan level resistance 7.771,7.943 pada Rabu pekan ini.

Dalam riset PT Pilarmas Investindo Sekuritas menyebutkan, IHSG berpotensi melemah terbatas dengan level support dan level resistance 7.600-7.900.

Rekomendasi Saham

Untuk rekomendasi saham hari ini, PT Pilarmas Investindo Sekuritas memilih saham PT Surya Internusa Semesta Tbk (SSIA), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET).

Sedangkan Herditya memilih saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL).

Rekomendasi Saham

Pekerja melintas di layar IHSG di BEI, Jakarta, Rabu (4/3/2020). IHSG kembali ditutup Melesat ke 5.650, IHSG menutup perdagangan menguat signifikan dalam dua hari ini setelah diterpa badai corona di hari pertama pengumuman positifnya wabah corona di Indonesia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Berikut rekomendasi teknikal dari MNC Sekuritas:

1.PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) - Buy on Weakness

Saham AMRT terkoreksi 1,44% ke 2.050 dan masih didominasi oleh tekanan jual, pergerakan AMRT masih berada di fase downtrendnya. "Kami perkirakan, posisi AMRT sedang berada pada bagian dari wave (c) dari wave [y] dari wave X," kata Herditya.

Buy on Weakness: 1.925-2.040

Target Price: 2.200, 2.280

Stoploss: below 1.880

 

2.PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) - Buy on Weakness

Saham BBCA terkoreksi 2,27% ke 7.525 dan disertai dengan meningkatnya volume penjualan. "Kami perkirakan, posisi BBCA sedang berada pada bagian dari wave (v) dari wave [c]," ujar Herditya.

Buy on Weakness: 7.050-7.425

Target Price: 7.700, 8.100

Stoploss: below 7.000

 

 

Rekomendasi Saham Lainnya

Pengendara mobil dan sepeda motor melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (10/10/2019). Sebanyak 205 saham melemah sehingga mendorong IHSG ke zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

3.PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) - Buy on Weakness

Saham MEDC menguat 1,23% ke 1.230 dan disertai dengan munculnya volume pembelian. Herditya mengatakan, pihaknya perkirakan, posisi MEDC sedang berada pada bagian awal dari wave [b] dari wave B.

Buy on Weakness: 1.165-1.200

Target Price: 1.270, 1.330

Stoploss: below 1.100

 

4.PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) - Buy on Weakness

Saham NCKL menguat 5,56% ke 1.140 dan masih didominasi oleh volume pembelian, pergerakan NCKL pun masih cenderung uptrend. "Kami perkirakan, posisi NCKL sedang berada pada bagian dari wave (iii) dari wave [v]," kata dia.

Buy on Weakness: 1.085, 1.120

Target Price: 1.175, 1.250

Stoploss: below 1.070

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Cadangan Devisa

Petugas memperlihatkan uang pecahan US$100 dan rupiah di pusat penukaran uang, Jakarta, , Rabu (12/8/2015). Reshuffle kabinet pemerintahan Jokowi-JK, nilai Rupiah terahadap Dollar AS hingga siang ini menembus Rp 13.849. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Dalam riset PT Pilarmas Investindo Sekuritas menyoroti mengenai cadangan devisa. Cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2025 turun ke USD 150,7 miliar, terendah dalam sebulan terakhir. Hal ini akibat pembayaran utang luar negeri dan intervensi Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah.

Meski menurun, cadangan masih kuat setara 6,3 bulan impor, di atas standar internasional. "Pelemahan rupiah hingga 16.500 per dolar AS sempat terjadi karena demonstrasi ricuh, tetapi arus masuk modal asing bersih tetap positif USD 750 juta terutama ke obligasi dan saham,” demikian seperti dikutip.

Selain itu, tambahan dukungan juga datang dari penerbitan Kangaroo Bonds AUD 800 juta. "Kami menilai penurunan cadangan devisa dipengaruhi stabilisasi rupiah, pembayaran utang, surplus perdagangan yang menyusut akibat tarif baru Amerika Serikat, serta capita outflow dari SBN. Pergantian menteri keuangan turut memberikan dampak jangka pendek, tetapi pelemahan rupiah diperkirakan hanya sementara," demikian seperti dikutip.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya