Liputan6.com, Moskow - Presiden Vladimir Putin menyatakan bahwa setiap pasukan Barat yang ditempatkan di Ukraina akan menjadi target sah bagi serangan Rusia, sebuah ancaman yang meningkatkan eskalasi di tengah upaya sekutu Kyiv mencari formula dukungan pasca perang yang meyakinkan.
Sehari setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan rencana—yang masih samar—mengenai paket dukungan bagi Ukraina yang didukung 26 negara, Putin pada Jumat (5/9/2025) menegaskan bahwa setiap bentuk jaminan keamanan yang melibatkan pengerahan pasukan akan bertentangan dengan penolakan lama Moskow terhadap keberadaan pasukan NATO di Ukraina.
Advertisement
"Oleh karena itu, jika ada pasukan yang muncul di sana, terutama sekarang, saat operasi militer berlangsung, kami berasumsi bahwa mereka akan menjadi target sah untuk dihancurkan," kata Putin dalam sebuah forum ekonomi di Vladivostok seperti dilansir The Guardian.
Jaminan Keamanan
Sementara upaya Donald Trump untuk mendorong tercapainya kesepakatan damai dalam konflik Rusia-Ukraina belum menunjukkan hasil nyata, para pemimpin Eropa mencoba menyusun jaminan keamanan bagi Ukraina jika kelak ada kesepakatan damai.
Pertemuan 35 pemimpin di Paris pada Kamis (4/9) ditujukan untuk memfinalisasi bagaimana bentuk jaminan itu serta meminta dukungan Amerika Serikat (AS) dalam implementasinya. Namun, banyak negara Eropa, termasuk Jerman, Spanyol, dan Italia, menolak memberikan komitmen pengerahan pasukan.
Meski sejumlah negara bersedia mengirim pasukan, rencana pada awal tahun untuk membentuk misi penjaga perdamaian yang mengawasi garis gencatan senjata dengan cepat dipersempit menjadi gagasan "pasukan penenang" yang ditempatkan jauh dari garis depan dan difokuskan pada pelatihan, bukan pertempuran.
Pada Kamis, Macron mengumumkan bahwa 26 negara telah berkomitmen memberikan jaminan keamanan pasca perang bagi Ukraina, mencakup kehadiran darat, laut, dan udara.
"Pada hari konflik berhenti, jaminan keamanan itu akan diterapkan," ungkap Macron dalam konferensi pers bersama Presiden Volodymyr Zelenskyy di Istana Elysee, Paris.
Berbicara di Kota Uzhhorod, Ukraina barat, pada Jumat, Zelenskyy menegaskan rencana itu kemungkinan melibatkan pasukan Barat dalam jumlah signifikan.
"Penting bahwa kita sedang membahas semua ini ... Jumlahnya pasti ribuan, bukan hanya sedikit," ujarnya setelah bertemu Presiden Dewan Eropa Antonio Costa.
Putin Undang Zelenskyy ke Moskow
Putin dinilai yakin bahwa negara-negara Barat enggan berperang demi Ukraina, sehingga ancamannya pada Jumat ditujukan untuk menakut-nakuti ibu kota-ibu kota Eropa mengenai bahaya eskalasi jika mengerahkan pasukan.
Sementara itu, Trump masih tidak konsisten mengenai bentuk dukungan yang mungkin diberikan AS. Dalam sebuah pertemuan dengan Zelenskyy dan para pemimpin Eropa bulan lalu—sebelum dia bertemu Putin di Alaska—Trump tampak menjanjikan keterlibatan AS, meski detailnya masih kabur.
Pada Jumat, NBC melaporkan bahwa AS bisa saja bersedia memimpin pemantauan zona penyangga demiliterisasi di sekitar garis depan setelah gencatan senjata, dengan kemungkinan pasukan darat berasal dari negara-negara non-NATO. Namun, semua rencana ini masih sangat hipotetis dan bergantung pada kesepakatan damai antara Moskow dan Kyiv—yang untuk saat ini belum terlihat dekat.
Trump sendiri telah beberapa kali menetapkan tenggat untuk tercapainya kemajuan menuju perdamaian, namun semuanya berlalu tanpa hasil. Setelah bertemu Putin di Alaska, dia mengatakan berharap presiden Rusia dan Zelenskyy bisa bertemu langsung, dilanjutkan dengan pertemuan tiga pihak.
Zelenskyy sudah lama menyatakan kesediaannya bertemu Putin, namun Kremlin selalu berkilah dengan alasan kondisi belum memungkinkan. Pada Jumat, Putin mengatakan bahwa mencapai kesepakatan dengan Ukraina akan praktis mustahil, sehingga pertemuan tidak ada gunanya. Namun, dia mengklaim tetap terbuka untuk bertemu, asalkan Zelenskyy yang datang ke Moskow.
"Saya sampaikan saya siap. Silakan datang. Kami pasti akan menyediakan kondisi kerja dan keamanan dengan jaminan penuh, 100 persen," ujar Putin.
Sementara itu pada Jumat, Zelenskyy tidak secara langsung menanggapi apakah dia bersedia bepergian ke Moskow.
"Kami siap untuk segala bentuk pertemuan. Namun, kami tidak merasakan bahwa Putin siap mengakhiri perang ini," imbuhnya.