Nama Wakil Ketua DPRD Kapuas Hulu Dicatut untuk Penipuan Rp15 Juta

Warga di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat mendadak gaduh. Jumat (05/09/2025) pagi, mereka mendapatkan pesan WhatsApp berantai mengatasnamakan Wakil Ketua DPRD Kapuas Ali Topan Akbar.

oleh Aceng MukaramDiperbarui 05 September 2025, 16:17 WIB
Wakil Ketua DPRD Kapuas Hulu Ali Topan Akbar. Foto Istimewa

Liputan6.com, Jakarta Warga di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat mendadak gaduh. Jumat (05/09/2025) pagi, mereka mendapatkan pesan WhatsApp berantai mengatasnamakan Wakil Ketua DPRD Kapuas Ali Topan Akbar.

Pengirim pesan meminta bantuan uang Rp 15 juta. Bahasa pesan itu dibuat sangat meyakinkan, seolah-olah ditulis langsung oleh seorang pejabat penting yang tengah terdesak.

Begini bunyi pesannya:

“Bisa minta tolong punya saldo 15jt di rekening gak? Pinjam dulu, besok pagi jam 9 saya balikin. Di kirim ke BRI ini ya: BANK BRI Naufal Nabhaan Alhad 013701226713505. Kirim bukti transfer ya. Saya mau transfer ke rekan kerja saya, tapi rekening saya lagi limit, makanya saya cari pinjaman.”

Salah satu pedagang ikan di pinggir sungai Kapuas yang enggan disebutkan namanya, mendapat kiriman pesan tersebut.

Saat menerima pesan itu, ia refleks terkejut karena mengenal sosok Ali Topan Akbar dari baliho politik yang pernah berjajar di jalan utama.

“Saya sempat mau transfer. Syukurlah istri saya cek ulang nomornya. Ternyata beda dengan nomor beliau yang saya simpan,” ucapnya, matanya masih berkaca-kaca mengingat detik genting itu.

Klarifikasi

Kabar ini akhirnya sampai ke telinga Ali Topan Akbar sendiri. Saat dikonfirmasi, suaranya terdengar tegas, namun ada nada lelah menahan kesal.

“Tidak benar. Jelas itu penipuan,” kata Ali Topan Akbar.

Ali menegaskan, dia tidak pernah meminta uang melalui pesan WhatsApp. Nomor pribadinya diretas, dan identitasnya dipakai untuk memuluskan skema kejahatan digital.

“Saya imbau masyarakat Kapuas Hulu agar jangan gampang percaya. Kalau ragu, silakan hubungi saya langsung atau kantor DPRD,” ujarnya.

Fenomena penipuan digital di Indonesia memang mengkhawatirkan. Modusnya kian kreatif, terutama dengan memanfaatkan figur publik. Hacker tahu, nama pejabat bisa menciptakan kesan kredibilitas.

Menurut data Kementerian Komunikasi tahun 2024, lebih dari 11.700 laporan penipuan berbasis WhatsApp diterima sepanjang tahun. Sebanyak 35 persen di antaranya menggunakan nama pejabat atau aparat sebagai umpan.

Pada kasus Kapuas Hulu, peretas memanfaatkan nama besar Ali Topan Akbar untuk memancing rasa percaya calon korban.

Mereka menyasar orang-orang yang mengenal reputasi sang pejabat namun tidak dekat secara personal, sehingga verifikasi jarang dilakukan.

Langkah Pencegahan dan Tips Keamanan

Kasus Kapuas Hulu menjadi pengingat keras bahwa penipuan digital semakin canggih.

Ada beberapa langkah yang direkomendasikan Kemenkominfo dan Polri untuk mencegah jatuhnya korban.

1. Verifikasi Identitas

Selalu pastikan nomor WhatsApp yang menghubungi sesuai dengan nomor resmi.

2. Hindari Transfer Terburu-buru

Jangan langsung mengirim uang tanpa konfirmasi melalui panggilan atau bertemu langsung.

3. Gunakan Fitur Laporkan dan Blokir

WhatsApp menyediakan fitur “laporkan” dan “blokir” untuk nomor mencurigakan.

4. Edukasi Literasi Digital

Warga perlu memahami teknik phishing, spoofing, dan rekayasa sosial.

5. Hubungi Aparat Berwenang

Jika menemukan kasus serupa, segera hubungi Polres Kapuas Hulu atau lapor.go.id.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya