Terobsesi Novel Favorit, Pria China Nekat Curi 20 Artefak Kuno

Bagaimana pria ini menjalankan aksi gilanya?

oleh Indra Cahya VanleonDiterbitkan 05 September 2025, 19:30 WIB
Orang-orang mengunjungi Pemakaman China Cape Collinson untuk memberi penghormatan kepada orang tercinta yang telah meninggal di dekat Chai Wan, Hong Kong, 5 April 2021. Kegiatan ini untuk menandai Festival Ching Ming yang juga dikenal sebagai pembersihan makam. (Peter PARKS/AFP)

Liputan6.com, Beijing - Seorang pria di China nekat melakukan aksi perampokan makam setelah terobsesi membaca novel fiksi bertema pencurian makam. Ia berhasil menggali situs pemakaman kuno dan mencuri 20 artefak budaya yang berusia ribuan tahun, berasal dari 771 SM.

Pelaku bernama Yu, berasal dari Provinsi Hubei, China Tengah. Setiap hari ia menghabiskan waktu membaca novel-novel bertema pencurian makam.

Namun, ketika fiksi tidak lagi memuaskan rasa penasarannya, ia mulai memverifikasi detail dalam cerita dengan meneliti catatan daerah setempat, dilansir dari SCMP, Jumat (5/9/2025).

"Saya terus membaca, dan semakin saya baca, semakin saya terobsesi. Saya mulai menggali lebih dalam: dinasti apa? tokoh penting siapa? bagaimana makam dibangun? Beberapa memang benar-benar ada," ujar Yu.

 

Ilustrasi buku, cerpen, novel (sumber: pixabay)

Yu semakin penasaran ketika ia membaca tentang teknik mistis yang digambarkan dalam novel. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk mencoba menerapkannya dalam kehidupan nyata.

Aksinya dimulai ketika notifikasi di ponselnya mengabarkan penemuan arkeologi di Makam Keluarga Guo, situs warisan budaya yang dilindungi di Hubei. Informasi bahwa banyak artefak giok dan perunggu ditemukan membuat Yu tergoda melakukan penggalian ilegal.

Ia pun merekrut seorang pria bermarga Chen dan beberapa orang lainnya. Yu mengaku terlebih dahulu mempelajari kondisi pegunungan sekitar untuk memperkirakan lokasi makam. Ia kemudian menggunakan alat khusus bernama sekop Luoyang untuk mempersempit pencarian.

Setelah dua minggu eksplorasi diam-diam, Yu akhirnya menemukan bagian yang diyakini sebagai pintu masuk makam. Ia pun menghantam tanah dengan sekopnya.

"Saya melihat ada korosi berwarna hijau. Jika itu ada di permukaan, maka yang di bawah pasti bukan batu. Itu perunggu," katanya.

Dalam dua malam, mereka berhasil menggali 20 artefak perunggu. Agar cepat mendapatkan uang, mereka menghubungi seorang pria bermarga Li sebagai perantara untuk mencari pembeli kaya.

Ditangkap Polisi dan Divonis Penjara

Ilustrasi penjara (AFP)

Pada November 2023, polisi yang menyamar sebagai pembeli sepakat dengan harga 4 juta yuan (Rp9,1 miliar) untuk 20 artefak tersebut. Transaksi inilah yang akhirnya menjebak Yu dan komplotannya.

Menurut para ahli, semua artefak berasal dari periode Musim Semi dan Gugur (771 SM). Sembilan di antaranya bahkan diklasifikasikan sebagai benda budaya kelas satu nasional.

Usai penangkapan, Yu dan Chen divonis 10 tahun hingga 10 tahun 3 bulan penjara, serta didenda 70.000 yuan (Rp 159 juta) untuk menutupi biaya penyelamatan arkeologi. Sementara Li, sang perantara, dijatuhi hukuman tiga tahun enam bulan penjara karena menyembunyikan hasil tindak kriminal.

Insiden ini dilaporkan CCTV dan langsung memicu reaksi di media sosial China daratan. Banyak yang menilai kasus itu sekaligus menggelikan dan mengejutkan.

"Kalau dia menyalurkan usahanya ke hal yang produktif, dia bisa jadi arkeolog hebat," tulis seorang warganet.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya