Massa Didominasi Perempuan Demo DPR Kompak Bawa Sapu Lidi, Ternyata Ini Maknanya

Massa Aliansi Perempuan Indonesia kompak membawa sapu lidi saat menggelar demo di depan Gedung DPR/MPR di Jakarta, Rabu (3/9/2025). Sapu lidi dibawa sebagai simbol bersih-bersih dari semua permasalahan dan bentuk kekerasan di Indonesia.

oleh Raynaldo Ghiffari LubabahDiperbarui 03 September 2025, 12:34 WIB
Massa Aliansi Perempuan Indonesia membawa sapu lidi saat demo di depan Gedung DPR

Liputan6.com, Jakarta - Massa Aliansi Perempuan Indonesia kompak membawa sapu lidi saat menggelar demo di depan Gedung DPR/MPR di Jakarta, Rabu (3/9/2025). Sapu lidi dibawa sebagai simbol bersih-bersih dari semua permasalahan dan bentuk kekerasan di Indonesia.

Selain membawa sapu lidi, mereka juga membentangkan poster yang bertuliskan sejumlah tuntutan serta menyampaikan orasi.

Salah satu orator menyampaikan sapu lidi yang mereka bawa pada unjuk rasa tersebut merupakan simbol untuk menyapu seluruh penjahat demokrasi.

"Kita akan menyapu seluruh penjahat demokrasi. Kita akan menyapu segala bentuk kekerasan," kata orator tersebut.

Soroti Gaji DPR 32 Kali Lipat Pendapatan Rakyat

Massa juga menyoroti sejumlah ketimpangan antara rakyat dan para pejabat, terutama dalam hal pendapatan, mengingat pendapatan rakyat saat ini rata-rata masih di bawah upah minimum regional (UMR), terutama kaum perempuan.

Sementara pendapatan anggota DPR, kata orator itu, rata-rata mencapai 32 kali lipat dari pendapatan rakyat, dan belum termasuk dengan tunjangan yang akan ditambahkan.

"Bagaimana upah DPR kita yang selisihnya sangat jauh dari apa yang didapatkan oleh rakyat-rakyat kita. Untuk itu, kita meminta segera hentikan menghamburkan uang rakyat untuk kepentingan pribadi," seru orator tersebut.

Gelisah Lihat Aksi Represif Aparat

Massa juga menyampaikan sejumlah kegelisahan mereka terhadap tindakan aparat saat mengamankan demo besar-besaran beberapa waktu lalu.

Dalam orasinya, seorang massa aksi bernama Eka juga mengungkap sebanyak 10 korban meninggal dunia akibat tindakan represif aparat saat mengawal aksi demontrasi pada 25-31 Agustus 2025.

Untuk itu, massa meminta agar pemerintah segera menghentikan tindakan represif terhadap rakyat, terlebih mengingat unjuk rasa merupakan bagian dari demokrasi.

"Kita melihat bahwa sejak 25 Agustus, aksi yang dilakukan masyarakat begitu direspons represif aparat, dan ada 10 korban jiwa," ujar Eka.

Infografis Gaji hingga Tunjangan Anggota DPR Tahun 2025. (Liputan6.com/Gotri/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya