Liputan6.com, Jakarta Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan pandangannya bahwa konsep disabilitas tidak hanya berlaku bagi manusia, melainkan juga pada makhluk hidup dan alam sekitar.
Menurutnya, semua ciptaan Tuhan yang mengalami keterbatasan tetap layak dihargai dan dirawat.
Advertisement
“Bagi saya pribadi, disabilitas itu bukan hanya orang. Kucing yang pincang, burung yang tidak bisa terbang, rumput yang kering, bahkan sungai yang dikotori, semua itu bentuk disabilitas yang perlu diberikan pelayanan,” terang Nasaruddin di Jakarta, Rabu (27/8/2025).
“Di Kementerian Agama kami mengembangkan ekoteologi: mencintai sesama manusia, mencintai alam, dan mencintai Tuhan. Kalau orang tidak mencintai alam, berarti dia tidak mencintai Tuhan,” sambungnya mengutip laman Kemenag.
Dia menegaskan bahwa pihaknya terus berupaya menghadirkan layanan inklusif, termasuk bagi kalangan disabilitas. Dijelaskan Menag, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang mencetak Al-Quran dengan tanda isyarat. Saat ini, Kemenag juga tengah menyiapkan Musabaqah Qiraatul Kutub (MQK) Internasional yang juga akan melibatkan penyandang disabilitas netra.
“Nanti pembukaan MTQ Internasional itu di Istiqlal, jadi kita undang temen-temen untuk datang juga. Ini cara kita memberi ruang agar teman-teman difabel juga bisa menunjukkan kemampuannya,” ungkapnya.
MTQ Internasional Ditunda karena Situasi Tak Kondusif
Sayangnya, menyusul aksi unjuk rasa yang berujung ricuh belakangan ini, MTQ Internasional terpaksa ditunda.
Penundaan ini diputuskan Direktorat Jenderal (Ditjen) Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) bersama otoritas Rabithah 'Alam Islami.
Ajang ini awalnya dijadwalkan berlangsung pada 1–3 September 2025 di Jakarta.
Keputusan penundaan diambil setelah mempertimbangkan situasi keamanan yang belum kondusif terkait aksi demonstrasi yang terjadi di Jakarta dan berbagai daerah lainnya.
Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Ahmad Zayadi, mengatakan, keselamatan seluruh pihak menjadi prioritas utama.
“Dengan penuh pertimbangan, kami harus menunda pelaksanaan MHQ internasional ini. Kondisi Jakarta dan beberapa wilayah lain yang masih dipenuhi aksi demonstrasi tidak memungkinkan terselenggaranya kegiatan secara aman dan lancar,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (30/8/2025).
Rencanakan Tanggal dan Lokasi Pengganti
MHQ internasional bagi penyandang disabilitas netra ini sedianya akan menjadi sejarah baru. Kolaborasi Ditjen Bimas Islam dengan Rabithah ‘Alam Islami tersebut dirancang untuk menghadirkan 15 peserta dari 12 negara yang sebelumnya telah melalui tahapan seleksi ketat hingga lolos ke babak final di Jakarta.
Namun, situasi sosial, politik dan keamanan yang belum kondusif membuat panitia menilai perlu adanya penjadwalan ulang.
“Kami paham banyak pihak yang kecewa, terutama peserta dan pendamping yang sudah bersiap diri. Tapi kami percaya keputusan ini yang terbaik demi keamanan bersama,” tambah Zayadi.
Lebih lanjut, Zayadi menjelaskan, pihaknya masih berkoordinasi dengan Rabithah ‘Alam Islami dan otoritas terkait lainnya mengenai opsi waktu dan lokasi baru.
Kemenag berupaya memastikan ajang internasional ini tetap bisa terlaksana, meski harus bergeser dari jadwal semula.
“Kami ingin menjaga semangat para penghafal Al-Quran penyandang disabilitas netra. Inklusivitas dan penghargaan terhadap ketekunan mereka tetap menjadi komitmen utama Kementerian Agama. Semoga dalam waktu dekat, kita bisa menggelar MHQ ini dalam kondisi yang lebih aman dan penuh keberkahan,” harap Zayadi.
MHQ Internasional Disabilitas Netra Pertama di Indonesia
Sebelumnya, para hafiz penyandang disabilitas netra sudah bersiap menyambut MHQ Internasional yang digelar Kemenag secara perdana.
Sebelum terjadi unjuk rasa di beberapa titik di Jakarta dan kota lainnya, Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, mengatakan, ajang ini segera digelar pada 1 - 3 September 2025.
MHQ internasional menjadi bentuk penghargaan terhadap ketekunan dan kecintaan para penghafal Al-Quran yang menyandang disabilitas netra.
“Pelaksanaan kegiatan perdana ini merupakan wujud komitmen Kemenag dalam mendorong inklusivitas dan kesetaraan akses terhadap nilai-nilai keislaman di tingkat global,” ujar Abu Rokhmad di Jakarta, Kamis (28/8/2025) mengutip laman resmi Kemenag.
Abu Rokhmad menambahkan, MHQ internasional merupakan hasil kolaborasi Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama dengan Rabithah ‘Alam Islami.
Rabithah ‘Alam Islami atau Liga Muslim Dunia adalah organisasi Islam nonpemerintah terbesar di dunia yang berpusat di Makkah, Arab Saudi. Lembaga ini berdiri pada Mei 1962 dengan dukungan Raja Faisal bin Abdulaziz.