Liputan6.com, Jakarta - Puluhan murid penyandang disabilitas dari Sekolah Khusus (SKh) Negeri 01 Kota Cilegon mengikuti pelatihan membatik di Sanggar Batik Inklusif Rinara, Banten, Jumat (29/8/2025). Mereka diajarkan teknik membatik dengan canting hingga sablon, bahkan menjahit.
Salah satu murid, Iman, berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih medali dalam lomba membatik tingkat provinsi hingga nasional.
Advertisement
General Manager PLN UID Banten, Muhammad Joharifin, mengapresiasi semangat para murid dan ibu-ibu yang ikut dalam kegiatan tersebut.
"Setiap goresan batik mereka adalah kisah perjuangan, keberanian, dan cinta budaya. Semangat anak-anak istimewa ini benar-benar menggerakkan hati,” ujarnya.
Batik khas Kota Cilegon kini lahir dari tangan anak-anak istimewa dengan beragam motif. Jika sebelumnya untuk menghasilkan 100 lembar kain batik dibutuhkan waktu hingga tiga bulan, kini berkat dukungan PLN, produksi dapat dipercepat menjadi hanya satu bulan.
Dari Lokal ke Nasional
Koordinator Humas dan Layanan Informasi Publik Kementerian ESDM, Pandu Satria Jati, menegaskan program Batik Rinara bukan hanya mendukung UMKM, tetapi juga membuka ruang inklusif bagi anak berkebutuhan khusus. “Batik Rinara mendukung UMKM sekaligus membuka ruang bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk berkembang,” katanya.
Program Batik Rinara sebelumnya menorehkan prestasi dalam ajang Bina Mitra UMKM 2024. PLN pun berkomitmen melakukan pendampingan agar Batik Rinara dapat menembus pasar nasional sebagai ikon inklusif dari Banten.
Tenaga Ahli BP Taskin, Real Rahadinnal, menilai model ini patut dicontoh oleh lembaga lain.
"Model ini bisa menjadi contoh bagi lembaga lain dalam menciptakan program inklusif yang berdampak langsung,” ujarnya.
Dengan pelatihan ini, anak-anak istimewa semakin percaya diri terhadap kemampuannya, sementara ibu-ibu kelompok rentan juga memperoleh peluang ekonomi tambahan bagi keluarga mereka.