AC Milan Menang Berkat Set-Piece dan Belajar dari Kesalahan

AC Milan bangkit dari kekalahan 1-2 pada laga pembuka Serie A melawan Cremonese dengan cara yang tepat. Rossoneri meraih kemenangan tandang 2-0 atas Lecce di Vi

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 01 September 2025, 14:22 WIB
Pelatih AC Milan, Massimiliano Allegri, memberikan instruksi kepada Alexis Saelemaekers saat laga Serie A melawan Cremonese di Stadion San Siro, Milan, Italia, Sabtu, 23 Agustus 2025. (AP Photo/Luca Bruno)

Liputan6.com, Jakarta AC Milan bangkit dari kekalahan 1-2 pada laga pembuka Serie A melawan Cremonese dengan cara yang tepat. Rossoneri meraih kemenangan tandang 2-0 atas Lecce di Via del Mare.

Sejenak laga ini terlihat akan berakhir mengecewakan ketika gol Matteo Gabbia dan Santiago Gimenez dianulir. Pertandingan bahkan masuk 15 menit terakhir dengan skor masih imbang tanpa gol.

Namun, set-piece menjadi kunci pembuka jalan. Umpan Luka Modric disundul Ruben Loftus-Cheek, lalu Christian Pulisic memastikan kemenangan dengan penyelesaian rapi di akhir laga.


Belajar dari Kesalahan

Pemain Lecce, Ylber Ramadani (20), dan Santiago Gimenez dari AC Milan berebut bola dalam laga Serie A di Stadion Via del Mare, Lecce, Italia, Sabtu (30 Agustus 2025). (Giovanni Evangelista/LaPresse via AP)

Massimiliano Allegri tampak mengambil pelajaran dari kekalahan kontra Cremonese. Lawan Lecce, Milan jelas tampil dengan pola 3-2-5 saat menguasai bola, meregangkan pertahanan untuk mencari celah.

Dalam salah satu momen, Yunus Musah menjaga lebar permainan sementara Loftus-Cheek masuk ke half-space. Modric lalu memanfaatkannya dengan pergerakan cerdas untuk mengirim umpan silang.

Fofana tak sebebas dibanding saat melawan Cremonese, membuat bentuk 3+2 Milan lebih stabil. Di luar penguasaan bola, mereka turun menjadi 5-4-1 yang kompak dan sulit ditembus.


Efektivitas Set-Piece

Gelandang AC Milan, Luka Modric, merayakan gol timnya dalam laga Serie A antara Lecce dan AC Milan di Via del Mare, Lecce, Italia, Jumat, 29 Agustus 2025. (Giovanni Evangelista/LaPresse via AP)

Lecce mengandalkan zonal marking ketika bola mati, tapi itu justru memberi celah. Gabbia mampu bergerak di blindside dua bek dan menanduk bola dengan leluasa.

Situasi serupa terjadi pada gol Loftus-Cheek. Lecce memakai garis tinggi, meninggalkan ruang besar di belakang barisan pertama sehingga Loftus-Cheek bisa lolos tanpa kawalan untuk mencetak gol.

Meski demikian, masih ada satu kekurangan Milan. Transisi dari lini belakang ke tengah kadang terputus karena tak ada gelandang yang turun, memaksa Pavlovic membawa bola sendiri atau melakukan umpan jauh.

Sumber: Sempre Milan


Klasemen Serie A/Liga Italia

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya