Liputan6.com, Jakarta - Harga daging ayam di Pasar Anyar, Bogor mengalami kenaikanpada awal September ini. Menurut Seorang pedagang ayam potong, Juna (48), kenaikan harga dipicu oleh momen bulan Maulid Nabi Muhammad SAW yang membuat permintaan masyarakat terhadap daging ayam meningkat.
"(Harga ayam) lagi naik karena bulan Mulud. Bulan Mulud, Natal, Tahun Baru pasti naik ayam. Bulan hari-hari besar aja naik ayam mah," ujar Juna.
Advertisement
Soal harga, Juna menuturkan, daging ayam dipatok berbeda tergantung ukuran. "Kalau yang kecil ya, saya ngeteng Rp 40.000. Kalau yang gede Rp 33.000, lebih mahal lagi ada Rp 50.000 yang satu setengah kiloan,” ujarnya.
Berdasarkan keterangan Juna, ayam berukuran kecil justru dibanderol lebih mahal dibanding ayam besar karena dari segi rasa dianggap lebih enak. Biasanya, ayam kecil yang dijual di pasar merupakan ayam berusia di bawah 40 hari.
Salah seorang pembeli, Nisa, mengaku tetap membeli ayam meski harganya sedang mahal. Baginya, ayam merupakan makanan pokok yang hampir setiap hari dikonsumsi oleh keluarganya.
Jumlah Pembelian Berkurang
"Walaupun harga ayam sedang mahal, saya tetap beli karena ayam ini makanan pokok. Tapi untuk sekarang jumlahnya saya kurangi, menyesuaikan uang yang tersedia," ujar dia.
Pernyataan Nisa juga sejalan dengan Juna. Juna mengatakan,meski harga ayam mengalami kenaikan pembeli tetap ada karena daging ayam sudah menjadi kebutuhan pokok.
Hanya saja, jumlah pembelian biasanya berkurang. Ia menambahkan, persaingan dengan penjual ayam di luar pasar juga ikut memengaruhi penjualan.
"Ada, yang butuh pasti beli. Emang ini makanan pokoknya. Tapi jumlah mereka belinya berkurang. Biasa beli sekilo jadi setengah. Lagi pulang sekarang banyak saingan-saingan ayam dipinggir-pinggir jalan. Kan kalau yang belanja itu yang penting murah. Padahal ayamnya beda,” kata Juna sambil memotong ayam.
Stok Daging Ayam Aman
Terkait adanya aksi unjuk rasa yang berlangsung di Bogor, Juna menegaskan, ketersediaan stok daging ayam tetap melimpah dan distribusi tidak terganggu. Namun, ia melihat ada kemungkinan daya beli masyarakat sedikit bergeser karena pembeli memilih alternatif yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.
"Melimpah kalau stok mah ya. Walaupun ada aksi kemarin enggak pengaruh, tapi kalau daya pembeli ya mungkin malah beli di pinggir-pinggir jalan, mungkin di rumah, di kampung-kampung cari alternatif yang lebih deket sama rumah mereka biar gak keluar jauh."
Mengenai perkiraan harga ke depan, Juna menilai kenaikan saat ini bersifat musiman karena bertepatan dengan momentum bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dia menuturkan, harga akan kembali normal setelah periode ini berakhir, meski tetap ada potensi fluktuasi harian.
Harga Tahu dan Tempe
"Standar kayaknya. Kalau udah (bukan bulan mulud) normal lagi. Kalau ayam tiap-tiap momen hari besar pasti naik. Kalau normal ya 30–33 per kilogram. Naiknya tiap hari seribu, tergantung ayamnya.”
Di sisi lain, harga tahu dan tempe di Pasar Anyar masih stabil. Tahu kuning dan tahu putih sama-sama dibanderol Rp5.000 per kantong plastik berisi lima potong, sedangkan tempe ukuran besar Rp10.000 dan tempe kecil Rp5.000.