SKK Migas: Proyek Abadi Masela Akhirnya Masuki Fase Feed

Status Masela sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak 2017 menjadi bukti pentingnya proyek ini bagi negara. Namun, ia tidak menutup mata bahwa perjalanan menuju fase FEED sempat tertunda berkali-kali.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 28 Agustus 2025, 14:00 WIB
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto dalam acara peresmian fase Feed proyek LNG Abadi, di Jakarta, Kamis (28/8/2025). (Liputan6.com/Arief) 

Liputan6.com, Jakarta - Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menyampaikan bahwa Proyek Abadi, Blok Masela, resmi memasuki fase Front End Engineering Design (FEED). Momentum ini menjadi penanda babak baru setelah perjalanan panjang penuh tantangan.

Djoko menjelaskan, proyek Masela sendiri memiliki cadangan gas raksasa sekitar 18,54 triliun kaki kubik (TCF). Dari jumlah tersebut, kapasitas produksi penuh yang ditargetkan mencakup 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA), 150 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD), serta 35 ribu barel kondensat per hari.

“Dapat kami laporkan bahwa cadangan gas di Proyek Masela ini lebih kurang sekitar 18,54 TCF per kapasitas besar dan nanti dioperasikan penuh sekitar 9,5 MTPA LNG dan 150 MMSCFD per kapasitas, serta kondensat sebesar 35 ribu barel per hari,” ujar Djoko.

Ia menekankan, status Masela sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) sejak 2017 menjadi bukti pentingnya proyek ini bagi negara. Namun, ia tidak menutup mata bahwa perjalanan menuju fase FEED sempat tertunda berkali-kali.

“Proyek ini merupakan Proyek Strategis Nasional atau PSN sejak ditetapkan pada bulan September 2017. Hari ini kita menyaksikan dimulainya pelaksanaan FEED, namun demikian kita tahu bahwa secara jujur proyek ini cukup agak tertunda-tunda,” ujarnya.

 

Dukungan Konten Lokal

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto dalam acara peresmian fase Feed proyek LNG Abadi, di Jakarta, Kamis (28/8/2025). (Liputan6.com/Arief)

Dalam laporannya, Djoko mengutip filosofi Jepang “Nanakorobi Yaoki” yang berarti tujuh kali jatuh, delapan kali bangkit. Ungkapan ini mencerminkan semangat Proyek Masela yang terus bangkit meski sempat menghadapi hambatan teknis maupun nonteknis. Kini, dengan dimulainya FEED, optimisme baru kembali tumbuh.

Kendati demikian, salah satu poin penting yang mendapat sorotan adalah komitmen penggunaan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). SKK Migas pun memastikan akan mendukung penuh selama porsi konten lokal dimaksimalkan.

“Seperti tadi disampaikan oleh Pak Ueda bahwa janji, Pak Ueda janji bahwa proyek ini akan menggunakan sebesar-besarnya lokal konten. Tidak perlu khawatir, Pak Ueda, selama menggunakan TKDN yang cukup besar, tenaga kerja maupun barang, SKK Migas tanpa lama-lama langsung akan menyutujuinya, Pak, untuk biayanya,” ujarnya.

 

Percepatan Perizinan dan Target FID Awal Tahun Depan

Adapun guna mengejar ketertinggalan, SKK Migas dan mitra proyek menempuh strategi pengerjaan paralel. Proses FEED dijalankan bersamaan dengan persiapan tender dan penyelesaian perizinan.

Pemerintah juga membentuk tim terpadu untuk mempercepat dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang ditargetkan rampung September ini.

Djoko menekankan, percepatan perizinan menjadi kunci agar target FEED selesai pada akhir tahun dapat tercapai. Dengan begitu, keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) bisa diteken pada awal tahun depan.

“Proses tender bisa berjalan secara paralel dan kita anggap FEED ini juga bisa selesai pada akhir tahun ini sehingga FID yang kita harapkan bisa dapat ditandatangani pada awal tahun depan,” pungkasnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya