Pertamina Siap Ekspor Avtur Ramah Lingkungan dari Minyak Jelantah

Produksi SAF Pertamina capai 8.700 barel per hari, ditargetkan untuk penerbangan internasional dan ekspor.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 27 Agustus 2025, 19:45 WIB
Bahan bakar Sustainable Aviation Fuel (SAF). Dok PPN

Liputan6.com, Jakarta - PT Pertamina (Persero) tengah menjajaki peluang ekspor Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau avtur ramah lingkungan yang diproduksi dari minyak jelantah.

Komisaris Utama dan Independen Pertamina, Mochammad Iriawan, mengatakan bahwa langkah ini bisa menjadikan Indonesia sebagai pemain utama di kawasan.

“Kami akan komunikasikan (rencana ekspor) nanti, untuk bisa menjajaki ekspor. Kalau sudah melihat hasil daripada SAF kita, pasti negara lain akan melirik (SAF) kita,” ujar Iriawan dikutip dari Antara, Rabu (27/8/2025).

Harga avtur berbahan baku minyak jelantah nantinya harus kompetitif agar bisa bersaing di pasar Asia Tenggara. “Yang jelas, di ASEAN ini kita yang pertama (mengolah minyak jelantah jadi avtur),” katanya.

Saat ini, produksi SAF Pertamina masih terpusat di Kilang Cilacap dengan kapasitas 8.700 barel per hari. Menurut VP Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, SAF tersebut tidak hanya akan dipasarkan untuk maskapai Pelita Air, tetapi juga diarahkan ke pasar ekspor.

 

Bandara Internasional

Virgin Australia Airlines jadi maskapai internasional pertama yang menikmati layanan SAF PT Pertamina Patra Niaga dari Aviation Fuel Terminal (AFT) Ngurah Rai, Bali. (dok Pertamina)

Fadjar menjelaskan bahwa avtur ramah lingkungan ini akan digunakan untuk penerbangan internasional. Karena itu, Kilang Cilacap dipilih bukan hanya karena kesiapan teknis, tetapi juga lokasinya yang strategis, dekat dengan bandara internasional seperti Soekarno-Hatta di Tangerang dan Ngurah Rai di Bali.

“Karena untuk logistiknya juga supaya dekat ke bandara-bandara internasional, seperti Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai,” ujarnya.

Selain itu, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) tengah menyiapkan ekspansi produksi SAF ke Kilang Dumai dan Kilang Balongan.

Langkah ini dilakukan untuk memperluas kapasitas produksi dan menjawab permintaan bahan bakar ramah lingkungan yang terus meningkat, baik dari dalam negeri maupun pasar global.

 

Uji Coba Produksi di Dumai dan Balongan

Perahu kayu membawa muatan melintas di dekat kilang minyak Pertamina Refenery Unit IV Cilacap, Rabu (7/2). RU IV Cilacap menjadi kilang dengan kapasitas terbesar di Indonesia. (Liputan6.com/JohanTallo)

Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman, mengatakan ekspansi SAF menjadi bagian dari komitmen Pertamina dalam transisi energi. “Ke depan, PertaminaSAF juga akan diujicobakan untuk diproduksi di Kilang Dumai dan Kilang Balongan,” jelasnya.

Pertamina juga telah mencatat sejarah baru dengan penerbangan komersial perdana menggunakan SAF. Maskapai Pelita Air sukses melakukan penerbangan rute Jakarta–Denpasar pada Rabu (20/8/2025) dengan PertaminaSAF sebagai bahan bakar.

Menurut Taufik, penerbangan tersebut bukan hanya sekadar perjalanan udara, melainkan simbol nyata peralihan Indonesia menuju energi bersih. Dengan potensi ekspor dan dukungan kapasitas produksi, Pertamina berpeluang besar menjadi pemain penting dalam pasar SAF global, sekaligus mendorong sektor penerbangan lebih berkelanjutan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya