Penanganan Batu Ginjal, Kini Bisa Tanpa Operasi Terbuka

Perkembangan teknologi medis kini membawa angin segar, penanganan batu ginjal bisa tanpa melukai sedikitpun.

oleh Benedikta DesideriaDiperbarui 26 Agustus 2025, 19:20 WIB
Ilustrasi penanganan batu ginjal ( Photo by Robina Weermeijer on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta Batu ginjal masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang banyak dialami masyarakat. Dahulu, penanganan batu ginjal identik dengan operasi terbuka yang berisiko menimbulkan rasa sakit, luka besar, hingga masa pemulihan yang panjang. Namun, perkembangan teknologi medis kini membawa angin segar.

Pasien dengan batu ginjal bisa ditangani dengan metode yang lebih modern, minim sayatan, bahkan ada yang tanpa sayatan sama sekali.

"Pada batu ginjal, sekarang batu yang keras itu bisa dilakukan tindakan tanpa melukai sedikitpun jadi lewat saluran ada alat yang bisa sampai ke ginjal," kata pakar urologi RS Siloam ASRI Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, SpU(K).

Lewat Flexible URS (Ureteroscopy) dokter yang menangani tindakan bisa masuk ke semua ruangan yang ada di ginjal. Seperti diketahui di ginjal ada enam ruangan.

Kehadiran metode ini, kata Nur Rasyid, bisa membantu dokter memastikan keamanan pasien selama menjalani tindakan itu.

"Dalam menjalankan tindakan itu, perlu dipastikan bahwa tekanan di dalam ginjal dalam batas aman. Karena dalam operasi ditakutkan tekanannya terlalu tinggi kan. Nah, kalau tekanan ketinggian, bila di batu ada infeksi itu bisa kuman masuk ke orang itu dan menjadi sepsis," kata Nur Rasyid dalam Siloam Hospitals ASRI Urology-Nephrology Summit 2025 di Jakarta pada Minggu, 24 Agustus 2025.

Kabar baiknya, dengan teknologi Flexible URS didukung oleh tenaga medis yang andal maka tingkat keamanan tekanan bisa dipastikan terjaga.

Harapan pada Transplantasi Ginjal

Pakar urologi RS Siloam ASRI Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, SpU(K) bersama para pakar lainnya dalam Siloam Hospitals ASRI Urology-Nephrology Summit 2025.

Selain membahas mengenai penanganan terkini batu ginjal, dalam Siloam Hospitals ASRI Gelar Urology-Nephrology Summit 2025 juga dibahas metode terkini dalam bidang sistem saluran kemih dan ginjal

Guru Besar Urologi di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu mengatakan bahwa para pakar di Indonesia bisa mengerjakan permasalahan terkait sistem saluran kemih dan ginjal.

"Kita bisa semua kerjakan apa yang terbaik di dunia," kata Nur Rasyid di kesempatan itu.

Bukan cuma permasalahan pengobatan ginjal pada orang dewasa, dalam kesempatan ilmiah itu juga diabas mengenai penanganan pada anak. Misalnya lokasi alat kelamin anak laki-laki yang berada di belakang hingga penanganan tumor di ginjal.

Hadir juga Profesor Yap Hui Kim dari Singapura yang merupakan pakar nefrologi anak. Ia berbagi riset ginjal pediatrik serta keterlibatannya dalam berbagai forum internasional.

Selain nefrologi anak, dalam rangkaian sesi ilmiah dalam summit ini membahas transplantasi ginjal (kidney transplant) dan serta uro-rekonstruksi (uro-reconstruction). 

Berbicara tentang transplantasi ginjal, dari hampir 500 pasien transplantasi ginjal, Siloam ASRI berhasil mencapai 1 year graft survival rate 98,1% dan 5 year graft survival rate 93,5%.

Pencapaian ini lebih tinggi dari benchmark dari ERA (European Renal Association) registry annual report. Pencapaian ini tidak lepas dari kolaborasi yang baik dari tim multidisiplin (dokter, perawat serta penunjang lainnya) serta didukung oleh sistem registri untuk memantau clinical outcomes dari setiap pasien transplantasi ginjal.

Pentingnya Pertukaran Ilmu Bagi Dunia Medis

Siloam Hospitals ASRI Urology-Nephrology Summit 2025

Medical Managing Director Siloam Hospital Group, dr. Grace Frelita, MM mengatakan pentingnya kesinambungan kolaborasi dan pertukaran ilmu bagi dunia medis.

“Kami percaya bahwa kemajuan dunia medis tidak hanya bergantung pada teknologi dan fasilitas, tetapi juga pada kualitas serta kapasitas tenaga kesehatan di semua lini, mulai dari dokter, perawat, hingga tenaga pendukung medis, serta pada pendidikan berkelanjutan dan kolaborasi antarprofesi," kata Grace.

Ia berharap lewat forum ilmiah bisa menghadirkan pertumbuhan bagi para praktisi medis, demi pelayanan kesehatan yang unggul dan berdampak luas bagi masyarakat Indonesia.

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya