Tantangan Pasar Kripto di Tengah Ketidakpastian Global, Simak Analisanya

Indeks Sentimen Pasar Kripto (Crypto Fear and Greed Index) berada di level 53, menunjukkan kondisi netral dengan kecenderungan waspada.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 26 Agustus 2025, 19:00 WIB
Sebanyak 12.000 BTC dilaporkan masuk ke bursa, yang menandakan aksi ambil untung oleh pemegang besar. Ilustrasi kripto (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Pasar aset kripto global kembali tertekan pada perdagangan Selasa pagi. Sejumlah koin utama seperti Bitcoin, Ethereum, hingga Dogecoin tercatat berada di zona merah. Berdasarkan data Coinmarketcap, Bitcoin (BTC) turun 1,12% dalam 24 jam terakhir dan melemah 2,27% sepanjang sepekan, dengan harga terkini di level USD 113.000.

Ethereum (ETH) ikut terkoreksi ke USD 4.200, sementara Cardano (ADA) anjlok 3,84% ke USD 0,92. Aset kripto lain juga melemah, seperti Solana (SOL) di USD 179, XRP di USD 3, dan Dogecoin (DOGE) di USD 0,21. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar kripto global menyusut menjadi USD 3,8 triliun.

Indeks Sentimen Pasar Kripto (Crypto Fear and Greed Index) berada di level 53, menunjukkan kondisi netral dengan kecenderungan waspada. Tekanan harga dipicu sentimen global, termasuk jelang pidato Ketua The Fed Jerome Powell terkait arah kebijakan moneter AS, serta kebijakan regulator Korea Selatan yang memerintahkan penghentian layanan pinjaman kripto di bursa lokal.

Peran Institusi dalam Dinamika Pasar

Dari sisi on-chain, tercatat ada pergerakan besar dari whale dan institusi. Sebanyak 12.000 BTC dilaporkan masuk ke bursa, yang menandakan aksi ambil untung oleh pemegang besar. Namun, akumulasi masih terus terjadi, di antaranya oleh Metaplanet yang membeli 775 BTC senilai USD 93 juta, serta MicroStrategy yang menambah 430 BTC ke portofolionya.

Kondisi ini menciptakan dinamika yang unik. Jika deposit whale berlanjut, potensi kepanikan investor ritel dapat meningkat.

Di sisi lain, akumulasi oleh institusi publik menjadi penopang jangka panjang meskipun dampaknya tidak langsung terasa.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai koreksi pasar saat ini merupakan respons normal terhadap ketidakpastian global.

“Pasar kripto sering kali bergerak lebih cepat dalam merespons sinyal kebijakan makroekonomi dibanding instrumen lain. Tekanan harga yang terjadi saat ini mencerminkan sikap investor yang menahan posisi sambil menunggu kejelasan dari bank sentral Amerika,” jelas Antony dalam keterangannya, Selasa (26/8/2025).

 

Strategi Investor: Risiko Jangka Pendek vs Keyakinan Jangka Panjang

Ilustrasi harga kripto (Foto By AI)

Antony menegaskan bahwa perbedaan strategi antara whale dan institusi menciptakan keseimbangan pasar.

“Deposit besar ke bursa dari whale seringkali memicu volatilitas jangka pendek, dan jika tren ini berlanjut, investor ritel bisa terdorong melakukan aksi jual,” ujarnya.

Namun, ia menekankan bahwa pembelian oleh institusi memperlihatkan semakin kuatnya keyakinan jangka panjang terhadap Bitcoin.

“Perbedaan perilaku antara trader jangka pendek dan strategi perbendaharaan jangka panjang inilah yang membuat dinamika pasar Bitcoin menjadi unik,” tambah Antony.

Lebih lanjut, ia menilai kondisi saat ini dapat menjadi momentum akumulasi.

“Dalam siklus pasar kripto, fase penurunan adalah ruang bagi investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap. Strategi seperti dollar-cost averaging dapat membantu menghadapi volatilitas yang tinggi,” jelasnya.

Menurut Antony, pelemahan altcoin seperti ETH, ADA, maupun SOL juga masih dalam pola rotasi pasar.

“Investor cenderung mengalihkan likuiditas ke aset yang dianggap lebih aman ketika volatilitas meningkat. Pola ini bukan berarti altcoin kehilangan potensi, melainkan refleksi dari sikap konservatif sementara,” tambahnya.

 

Pentingnya Manajemen Risiko dan Transparansi Bursa

Ilustrasi Kripto. (Foto By AI)

Di tengah ketidakpastian, Antony mengingatkan agar investor disiplin menerapkan manajemen risiko.

“Investor sebaiknya tidak hanya melihat potensi keuntungan, tetapi juga memiliki strategi mitigasi risiko seperti diversifikasi portofolio, penggunaan stop-loss, serta penentuan target investasi yang jelas,” katanya.

Ia juga menekankan peran transparansi bursa kripto untuk menjaga kepercayaan publik.

“Di INDODAX, kami terus mengedepankan aspek keamanan dan keterbukaan, termasuk dengan rutin menjalankan proof of reserve. Tujuannya agar pengguna merasa aman sekalipun pasar berada dalam kondisi tidak menentu,” tegas Antony.

Secara historis, tambahnya, volatilitas kripto justru sering membuka peluang. “Setiap fase koreksi biasanya diikuti oleh lahirnya tren baru. Investor yang mampu melihat peluang di balik volatilitas akan lebih siap menghadapi perubahan siklus berikutnya,” pungkas Antony.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya