Kredit Melambat, OJK Yakin Kinerja Perbankan Tak Goyang

Bank-bank kecil dalam kelompok KBMI 1 dan KBMI 2 justru mencatatkan kinerja kredit yang positif. Lalu bagaimana dengan bank besar?

oleh Tira SantiaDiterbitkan 26 Agustus 2025, 09:45 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae usai Peluncuran Roadmap Bank Pembangunan Daerah (BPD) 2024-2027, di Jakarta, Senin (14/10/2024). (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa sektor perbankan nasional masih menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian global maupun domestik. Meski penyaluran kredit melambat, pertumbuhan tetap berlanjut dengan kualitas kredit yang terjaga.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut nominal kredit bermasalah (NPL) mampu ditekan sehingga mendorong penurunan rasio NPL gross.

“Meski melambat, namun kredit perbankan masih tetap tumbuh. Selain itu, nominal kredit bermasalah mampu ditekan yang mendorong penurunan NPL gross,” kata Dian dikutip dari jawaban tertulisnya, Selasa (26/8/2025).

Menariknya, bank-bank kecil dalam kelompok KBMI 1 dan KBMI 2 justru mencatatkan kinerja kredit yang positif. Pertumbuhan tertinggi secara tahunan (yoy) dicatatkan oleh bank-bank KBMI 1, terutama yang berafiliasi dengan platform digital.

“Kinerja bank-bank kecil pada kelompok KBMI 1 dan KBMI 2 masih tercatat baik,” ujarnya.

Hal ini menunjukkan adanya pergeseran strategi pembiayaan yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar.

Untuk mitigasi risiko, perbankan telah memperkuat pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang tercermin dari coverage ratio NPL yang tinggi.

“Mitigasi risiko kredit juga telah dilakukan yang tercermin dari coverage CKPN NPL yang cukup tinggi,” ujar Dian.

 

Likuiditas dan Permodalan Terjaga

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae dalam acara Peluncuran Roadmap Penguatan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Tahun 2024-2027 di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Senin, (14/10/2024). (Sulaeman/Merdeka.com)

Selain pada sisi kredit, ketahanan perbankan juga terlihat dari indikator likuiditas. Bank-bank pada kelompok KBMI 1 dan KBMI 2 memiliki rasio AL/NCD dan AL/DPK yang jauh di atas ambang batas ketentuan. Per Juni 2025, KBMI 1 mencatat AL/NCD 177,13% dan AL/DPK 34,38%, sementara KBMI 2 berada di level 206,56% dan 40,80%.

Likuiditas yang ample ini menjadi faktor penting bagi perbankan dalam menjaga stabilitas operasional dan mendukung ekspansi kredit. Rasio kredit bermasalah (NPL) juga tetap terkendali di bawah threshold, masing-masing 2,61% untuk KBMI 1 dan 2,57% untuk KBMI 2.

Tak hanya itu, “Ketahanan bank pada kelompok KBMI 1 dan KBMI 2 masih cukup kuat dengan rasio CAR yang jauh di atas threshold yaitu 30,75% dan 36,56% yang diharapkan mampu menjadi buffer dalam menyerap potensi risiko,” ujarnya.

 

Stress Test dan Prospek Ekonomi

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae dalam acara Peluncuran Roadmap Penguatan Bank Pembangunan Daerah (BPD) Tahun 2024-2027 di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Senin, (14/10/2024). (Sulaeman/Merdeka.com)

Untuk mengantisipasi berbagai potensi guncangan, OJK secara rutin melaksanakan stress test guna mengevaluasi ketahanan perbankan nasional. Uji ketahanan ini juga dilakukan secara mandiri oleh masing-masing bank dengan skenario dan asumsi yang disiapkan oleh otoritas, termasuk OJK dan Bank Indonesia.

Hasil stress test menunjukkan bahwa permodalan perbankan saat ini masih sangat memadai untuk menghadapi risiko dari perubahan signifikan dalam kondisi makroekonomi. Artinya, bank memiliki bantalan yang cukup untuk merespons potensi tekanan, baik dari sisi likuiditas maupun kualitas kredit.

“Untuk mengukur ketahanan bank dalam menghadapi berbagai potensi shocks makro ekonomi, OJK secara rutin melakukan stress test untuk mengevaluasi ketahanan perbankan Indonesia,” pungkasnya.

Infografis: Deretan Bank Digital di Indonesia (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya