Liputan6.com, Jakarta- Sebanyak 17 warga Sumenep, Jawa Timur, meninggal dunia karena penyakit campak selama periode Februari hingga Agustus 2025. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan karena campak sudah menyebar di 26 kecamatan dan menjangkiti 2.035 orang.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah turun tangan melakukan penyelidikan. Temuan sementara, mayoritas warga yang meninggal karena campak tidak diimunisasi.
Advertisement
"Terdapat 17 kasus kematian dengan mayoritas tidak memiliki riwayat diimunisasi," tutur Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman kepada Liputan6.com pada Sabtu, 23 Agustus 2025.
Pencegahan campak sebetulnya bisa dilakukan lewat imunisasi untuk merangsang tubuh membentuk antibodi pelindung. Vaksin yang digunakan adalah MR (campak-rubella) atau MMR (campak-gondongan-rubella).
Setelah mendapatkan temuan ini, Kemenkes berkoordinasi dengan Dinkes Sumenep, Dinkes Jatim, mitra setempat untuk melakukan penanganan bersama. Mulai dari penyelidikan epidemiologi hingga ketersediaan vaksin untuk pelaksanaan imunisasi massal.
"Termasuk mengirimkan tim untuk melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mencari sumber penularan dan kontak erat kasus serta mendampingi dinkes untuk melakukan survei cepat menentukan target sasaran Outbreak Response Immunization (ORI)," terang Aji.
Apa Itu Campak?
Campak adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus dari famili Paramyxoviridae. Penyakit ini biasanya menyerang anak-anak, namun orang dewasa yang belum pernah terinfeksi atau tidak mendapatkan vaksin juga bisa tertular.
Meskipun sudah ada vaksinasi yang efektif, campak tetap menjadi ancaman kesehatan di berbagai negara, termasuk Indonesia, terutama ketika cakupan imunisasi menurun.
Campak (measles) dikenal sebagai infeksi virus akut yang sangat mudah menular melalui udara, terutama lewat percikan batuk, bersin, atau kontak langsung dengan cairan tubuh penderita. Virus campak masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan dan menyebar ke seluruh tubuh.
Masa inkubasi campak biasanya berlangsung 10–14 hari setelah terpapar virus. Selama masa ini, seseorang belum menunjukkan gejala tetapi sudah bisa menularkan virus ke orang lain.
Gejala Campak
Gejala campak muncul secara bertahap dan biasanya berlangsung selama beberapa hari. Tahap-tahap gejala campak meliputi, gejala awal berupa demam tinggi (bisa mencapai 40°C), batuk kering, hidung meler, mata merah dan sensitif terhadap cahaya (konjungtivitis), dan tubuh lemas dan rewel pada anak-anak.
Kemudian, munculnya bintik boplik. Bintik-bintik putih kecil dengan dasar kemerahan di bagian dalam pipi (tanda khas campak), muncul sekitar 1–2 hari sebelum ruam.
Selanjutnya, ruam kulit (eksantema). Biasanya, ruam ini muncul 3–5 hari setelah gejala awal, berawal dari wajah dan leher, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Ruam berlangsung sekitar 5–6 hari, kemudian menghilang secara bertahap.
Dampak dan Komplikasi Campak
Meskipun sering dianggap sebagai penyakit 'biasa', campak bisa menyebabkan komplikasi serius, bahkan kematian, terutama pada anak-anak yang kekurangan gizi atau memiliki sistem imun lemah.
Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi seperti diare berat dan dehidrasi, infeksi telinga (otitis media), pneumonia (komplikasi paling umum dan penyebab utama kematian akibat campak).
Ada juga ensefalitis (radang otak, dapat menyebabkan kejang hingga kerusakan otak permanen), kebutaan, dan ematian, terutama pada balita jika tidak ditangani dengan cepat.
Pencegahan Campak
Cara terbaik untuk mencegah campak adalah melalui vaksinasi. Di Indonesia, vaksin campak diberikan melalui program imunisasi dasar berupa vaksin campak pertama usia 9 bulan.
Lalu booster campak-rubella (MR) di usia 18 bulan dan saat masuk sekolah dasar (kelas 1).
Ada pula vaksin MR (Measles-Rubella) yang telah terbukti aman dan efektif dalam mencegah penyebaran dua penyakit menular ini.