Kabar Buruk Bagi Pecinta Cokelat: Harga Sudah Mahal dan Bakal Naik Lagi

Lonjakan harga kakao global masih menekan produsen cokelat, membuat harga produk naik di pasaran. Namun analis memprediksi tekanan bisa mereda menjelang Paskah tahun depan.

oleh Satria Aji SaputraDiterbitkan 22 Agustus 2025, 21:00 WIB
Ilustrasi cokelat (iStockphoto)

Liputan6.com, Jakarta - Pecinta cokelat harus siap-siap merogoh kocek lebih dalam. Harga cokelat diprediksi masih akan naik dalam waktu dekat akibat dampak lanjutan dari lonjakan harga kakao di pasar global.

Namun, ada kabar baik: tekanan harga diperkirakan mulai mereda menjelang Paskah tahun depan.

Dikutip dari CNBC, Jumat (22/8/2025), harga kakao melonjak dalam beberapa tahun terakhir hingga menyentuh rekor tertinggi. Penyebabnya, cuaca buruk, serangan hama, dan keterbatasan pasokan di Afrika Barat yang merupakan kawasan penyumbang tiga perempat pasokan kakao dunia.

Kenaikan ini ditambah inflasi ritel global yang semakin menekan biaya produksi dan harga jual produk cokelat.

Survei Which? di Inggris pada 2024 menemukan, cokelat menjadi pendoorng inflasi tahunan tertinggi di supermarket, mencapai 11 persen. Di Amerika Serikat (AS), harga produk populer seperti Hershey’s Kisses naik sekitar 12 persen dalam setahun.

CEO Lindt & Sprüngli, Adalbert Lechner, bahkan menilai harga kakao "tidak akan pernah kembali ke level rendah seperti sebelumnya."

Meski harga kakao berjangka sempat turun dari USD 8.177 per ton pada Januari 2025 menjadi sekitar USD 7.855 di Agustus, angka ini masih jauh lebih tinggi dibanding USD 2.374 pada tiga tahun lalu.

Menurut Tracey Allen, Strategis Komoditas Pertanian di J.P. Morgan, penurunan harga tersebut belum akan terlihat dalam harga cokelat dalam waktu dekat. Pasalnya, industri cokelat masih menanggung “hangover” dari lonjakan harga di kuartal IV 2024.

“Lonjakan harga ini masih menekan biaya bisnis dan pada akhirnya dibebankan ke konsumen. Defisit pasokan kakao dan ketersediaan produk tetap menjadi masalah, sehingga harga tinggi akan bertahan lebih lama,” kata Allen.

Tekanan ke Produsen

Coklat bukan hanya makanan manis yang membuat bahagia, ternyata bermanfaat pada saat haid, loh!/copyright pexels/Pixabay

Lydia Toth, juru bicara asosiasi produsen cokelat Swiss Chocosuisse, mengatakan harga kakao yang naik empat kali lipat dalam dua tahun terakhir telah meningkatkan biaya produksi secara signifikan. Hal ini mempersempit margin produsen, baik perusahaan kecil maupun eksportir besar internasional.

“Sebagian biaya memang sudah dialihkan ke konsumen, tapi penyesuaian harga lebih lanjut masih mungkin terjadi. Kembali ke level harga lama hampir mustahil,” ujarnya.

Meski demikian, ada sedikit harapan. J.P. Morgan memperkirakan pasokan kakao akan membaik berkat cuaca yang lebih baik serta penanaman baru di Ekuador dan Brasil yang mulai menghasilkan. Permintaan industri juga mulai melunak.

Dengan kondisi ini, harga kakao diperkirakan bertahan di level tinggi tapi lebih stabil, sekitar USD 6.000 per ton.

Tarif dan Tekanan Biaya

Ilustrasi cokelat hitam (dok.unsplash)

Namun, risiko tetap ada. Menurut Hamad Hussain, ekonom iklim dan komoditas di Capital Economics, masalah produktivitas kronis, penyakit tanaman, serta kurangnya investasi di Pantai Gading dan Ghana — dua produsen kakao terbesar dunia — akan membuat pasokan tetap ketat.

“Itu akan menjaga harga tetap tinggi di level historis, sehingga mendukung harga cokelat tetap mahal,” jelasnya.

Selain pasokan, faktor biaya lain juga berperan. Di Inggris, kenaikan upah minimum dan iuran karyawan ikut menekan biaya produksi makanan, termasuk cokelat. Sementara di AS, tarif impor diperkirakan menambah tekanan harga dalam beberapa bulan mendatang.

“Kesimpulannya, konsumen kemungkinan akan menghadapi harga cokelat tinggi untuk beberapa waktu,” kata Hussain.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya