Kenyataan Pahit Crystal Palace: Dari Euforia di Wembley ke Larangan UEFA, Hingga Ancaman Eksodus Bintang

Artikel ini akan mengulas perjalanan singkat Crystal Palace dari puncak kejayaan hingga keterpurukan.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 21 Agustus 2025, 17:12 WIB
Pemain Crystal Palace, Eberechi Eze merayakan kemenangan timnya atas Manchester City dalam laga final Piala FA yang berlangsung di Stadion Wembley, London, Inggris, Sabtu (17/05/2025). (AFP/Adrian Dennis)

Liputan6.com, Jakarta Crystal Palace musim lalu mencatat sejarah dengan menjuarai Piala FA untuk pertama kalinya. Namun, kebahagiaan itu cepat sirna karena mereka harus menerima kenyataan pahit di level Eropa.

UEFA menjatuhkan sanksi tegas yang melarang Palace tampil di Liga Europa. Klub yang baru meraih trofi bersejarah itu kini hanya bisa tampil di Conference League.

Artikel ini akan mengulas perjalanan singkat Crystal Palace dari puncak kejayaan hingga keterpurukan. Selain itu, ancaman eksodus pemain bintang menambah peliknya nasib buruk yang mereka hadapi.


Dari Euforia di Wembley ke Batasan Eropa

Para pemain Crystal Palace merayakan gelar juara setelah mengalahkan Manchester City dalam laga final Piala FA yang berlangsung di Stadion Wembley, London, Inggris, Sabtu (17/05/2025). (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Musim lalu, Crystal Palace membuat kejutan dengan mengalahkan Manchester City 1-0 di final Piala FA. Gol tunggal Eberechi Eze memastikan trofi pertama dalam sejarah klub.

Tak hanya itu, Palace juga sukses menaklukkan Liverpool lewat adu penalti untuk meraih Community Shield 2025. Dua trofi dalam satu musim menjadi momen yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Namun, kebahagiaan tersebut tidak bertahan lama. Harapan untuk tampil di Liga Europa pupus setelah sanksi UEFA diumumkan.


Larangan UEFA dan Gugurnya Banding

Logo UEFA Europa Conference League. (OZAN KOSE / AFP)

UEFA resmi mengumumkan pada 11 Juli 2025 bahwa Palace tidak bisa berlaga di Liga Europa. Sanksi ini dijatuhkan karena adanya pelanggaran kepemilikan multi-klub yang melibatkan Lyon.

Crystal Palace sempat mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Namun, pada 11 Agustus 2025, banding itu ditolak dan membuat posisi Palace tak bisa berubah.

Kini, mereka harus berjuang di babak play-off Conference League musim 2025-2026. Pencapaian besar di lapangan seolah tak ada artinya di hadapan aturan ketat UEFA.


Ancaman Eksodus Pemain Bintang

Kapten Crystal Palace, Marc Guehi (kiri) menyundul bola saat pertandingan Liga Inggris melawan Newcastle United di Selhurst Park. (AFP)

Masalah Palace tidak berhenti di Eropa. Ancaman eksodus pemain kunci semakin membuat kondisi klub genting.

Eberechi Eze yang menjadi pahlawan di Wembley kini dikabarkan akan pindah ke Arsenal dengan nilai transfer sekitar £60 juta (Rp1,26 triliun). Arsenal bahkan berhasil menyalip Tottenham yang sebelumnya hampir sepakat mendatangkan sang pemain.

Selain Eze, pemain andalan lain seperti Marc Guehi juga terancam hengkang. Jika para bintang benar-benar pergi, kekuatan Palace bisa runtuh dalam sekejap.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya