Mengenal Operasi Modifikasi Cuaca untuk Kendalikan Hujan di Jakarta

Operasi Modifikasi Cuaca berlangsung selama lima hari pada 17 hingga 21 Agustus 2025 dengan pusat operasi di Posko Bandara Halim Perdanakusuma.

oleh Mevi LinawatiDiterbitkan 19 Agustus 2025, 20:18 WIB
BNPB melakukan operasi modifikasi cuaca dengan menyemai Natrium Klorida (NaCl). (dokumentasi BNPB)

Liputan6.com, Jakarta - Pemprov DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tahap keempat 2025. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari pada 17 hingga 21 Agustus 2025 dengan pusat operasi di Posko Bandara Halim Perdanakusuma.

OMC sebagai langkah mitigasi cuaca ekstrem yang melanda wilayah DKI Jakarta ini merupakan kolaborasi antara BPBD DKI Jakarta, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta TNI Angkatan Udara.

"Langkah ini ditempuh sebagai bentuk mitigasi terhadap potensi peningkatan curah hujan di wilayah Jakarta dan sekitarnya pada periode 18-21 Agustus 2025," ucap Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji, seperti dikutip dari kanal News Liputan6.com, Selasa (19/8/2025).

Lalu apa itu Operasi modifikasi cuaca?

Operasi modifikasi cuaca (OMC) atau Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) hadir sebagai solusi inovatif untuk mengelola dampak hujan. Meskipun sering dikaitkan dengan hujan buatan untuk meningkatkan curah hujan, TMC juga efektif digunakan untuk mencegah atau mengurangi intensitas hujan di area tertentu.

Ini menjadi langkah dalam menghadapi tantangan bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, yang seringkali dipicu oleh curah hujan tinggi.

Modifikasi Cuaca: Upaya Mengendalikan Hujan

Operasi modifikasi cuaca (OMC), atau Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), adalah intervensi manusia untuk mengubah proses alami di atmosfer demi tujuan tertentu. Modifikasi cuaca memungkinkan penyesuaian kondisi cuaca agar lebih aman, produktif, dan sesuai kebutuhan masyarakat, baik untuk meningkatkan curah hujan (hujan buatan) maupun untuk mengurangi intensitas hujan ekstrem.

Tujuan utama dari modifikasi cuaca adalah untuk mengelola curah hujan, baik untuk meningkatkan intensitasnya di suatu tempat (rain enhancement) atau untuk menguranginya (rain reduction).

Dalam konteks pencegahan bencana, TMC sangat relevan untuk mengurangi curah hujan ekstrem yang berpotensi menyebabkan banjir, tanah longsor, atau bahkan untuk mengamankan acara besar kenegaraan dari gangguan cuaca buruk.

Untuk mencegah atau mengurangi hujan, metode paling umum adalah penyemaian awan (cloud seeding). Prinsip kerjanya adalah 'mem-premature-kan' kejadian hujan, yaitu memicu awan hujan agar turun lebih awal di lokasi yang tidak menjadi target bencana. Misalnya, awan yang berpotensi membawa hujan deras dihujankan di atas laut atau waduk sebelum mencapai daratan padat penduduk.

Bahan kimia yang umum digunakan dalam penyemaian awan adalah garam (NaCl) atau perak iodida (AgI), yang berfungsi sebagai inti kondensasi buatan untuk mempercepat pembentukan tetesan air.

Metode penyebarannya dapat dilakukan secara dinamis menggunakan pesawat yang menyebarkan bahan semai ke awan target, atau secara statis menggunakan Ground Based Generator (GBG) di daerah pegunungan yang lebih murah dan dapat beroperasi 24 jam.

Sejarah dan Aplikasi Modifikasi Cuaca di Indonesia

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Indonesia memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak tahun 1977. Ide ini muncul ketika Presiden Soeharto terinspirasi oleh keberhasilan modifikasi cuaca dalam mendukung sektor pertanian di Thailand. Soeharto kemudian mengutus B.J. Habibie untuk mempelajari teknologi ini, yang berujung pada proyek percobaan hujan buatan pertama di Indonesia dengan asistensi dari Thailand.

Pada tahun 1978, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) didirikan, dan proyek hujan buatan secara resmi berada di bawah Direktorat Pengembangan Kekayaan Alam (PKA). Awalnya, fokus utama TMC di Indonesia adalah untuk mendukung sektor pertanian, terutama dalam pengisian waduk-waduk strategis yang digunakan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan irigasi pertanian.

Seiring waktu, aplikasi TMC di Indonesia berkembang pesat, terutama dalam dekade terakhir, untuk membantu mitigasi bencana hidrometeorologi. Istilah "Teknologi Modifikasi Cuaca" mulai digunakan secara resmi pada tahun 2015. TMC telah terbukti efektif dalam penanggulangan kebakaran hutan, mencegah longsor, dan mengatasi banjir di berbagai wilayah.

Berbagai operasi TMC untuk mengurangi curah hujan telah sukses diaplikasikan dalam acara-acara besar dan penanggulangan bencana. Contohnya termasuk dukungan untuk kelancaran SEA Games XXVI Palembang 2011, penanggulangan banjir Jakarta pada tahun 2013, 2014, dan 2020, pengamanan ajang Moto GP Mandalika 2022, hingga KTT G20 2022.

Saat ini, layanan TMC dikelola oleh Laboratorium Pengelolaan TMC di bawah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) setelah integrasi pada tahun 2021.

Infografis Habis Hujan Deras Terbitlah Banjir Jakarta (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya