El Salvador Tawarkan Bitcoin ke Investor Institusi

Undang-Undang Perbankan Investasi mengizinkan lembaga berlisensi untuk menawarkan layanan aset digital dan bitcoin di El Salvador.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 11 Agustus 2025, 15:28 WIB
Ilustrasi bitcoin (Foto: Kanchanara/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Tiga tahun setelah melegalkan bitcoin sebagai alat pembayaran yang sah untuk menarik pengguna ritel ke dalam ekosistem kripto, El Salvador menciptakan jalur terpisah untuk investor institusional dan berkekayaan tinggi.

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Senin (11/8/2025), The Legislative Assembly atau Undang-Undang Perbankan Investasi yang baru saja disetujui oleh majelis legislatif mengizinkan lembaga berlisensi dengan modal minimal USD 50 juta atau Rp 812,52 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.250) untuk menawarkan bitcoin dan layanan aset digital lainnya. Namun, tidak semua orang akan mendapatkan akses tersebut.

Akses akan dibatasi secara eksklusif untuk apa yang disebut “investor canggih”, mereka yang memiliki dana bebas minimal USD 250.000 atau Rp 4,06 miliar serta memiliki pengetahuan keuangan terakreditasi.

Bank investasi yang memenuhi ambang batas akan diberi wewenang untuk menerbitkan obligasi, mengatur kemitraan publik-swasta dan menyediakan atau menerbitkan aset digital termasuk bitcoin.

"Tujuannya adalah untuk menarik modal swasta internasional dan memungkinkan dana dan seseorang berkekayaan tinggi untuk beroperasi di negara ini atau menggunakan entitas kami sebagai platform regional,” ujar anggota parlemen Dania Gonzalez.

Ia menambahkan, reformasi tersebut akan membantu membentuk El Salvador menjadi pusat keuangan khusus untuk kawasan tersebut.

Perebutan Kekuasaan Bukele

Pergeseran ini terjadi seiring Presiden Nayib Bukele mengkonsolidasikan kekuasaan di dalam negeri.

Awal bulan ini, anggota parlemen menyetujui perubahan konstitusi yang memperpanjang masa jabatan presiden dari lima menjadi enam tahun dan menghapuskan batasan masa jabatan.

Langkah ini secara teoretis dapat mempertahankan jabatan yang menyebutkan dirinya sebagai pendukung bitcoin tersebut selama beberapa dekade.

Pemerintahan Bukele juga terus memperluas kepemilikan bitcoin yang dilaporkan negara tersebut meskipun telah setuju menghentikan pembelian publik berdasarkan kesepakatan pinjaman USD 1,4 miliar atau Rp 22,72 triliun dengan Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF).

Dalam konsultasi Pasal IV pada Juli, Dana Moneter Internasional menyatakan negara tersebut mematuhi persyaratan program untuk "tidak melakukan akumulasi Bitcoin" oleh sektor publik.

Namun, data blockchain dari Arkham Intelligence menunjukkan pemerintah sekarang mengendalikan sekitar 6.264 Bitcoin, senilai sekitar USD 739 juta atau Rp 12 triliun dengan harga saat ini, naik dari sekitar 6.160 pada April.

Beberapa analis berpendapat kenaikan terbaru mungkin hanya mencerminkan koin yang berpindah-pindah antar dompet alih-alih pembelian baru sejak perjanjian IMF ditandatangani pada Desember.

Perusahaan Kripto Block Menambah Kepemilikan Bitcoin

Aset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)

Sebelumnya, Block Inc, perusahaan yang didirikan Jack Dorsey menambahkan 108 bitcoin ke kas perusahaan pada kuartal kedua. Dengan demikian, totalnya menjadi 8.692 bitcoin (BTC).

Mengutip Yahoo Finance, ditulis Minggu (10/8/2025), berdasarkan laporan keuangan terbaru, akuisisi ini memiliki biaya dasar sebesar USD 11 juta atau Rp 178,76 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.251). Perseroan juga berencana investasi lebih banyak bitcoin pada masa mendatang.

Dengan harga Bitcoin yang saat ini diperdagangkan mendekati USD 117.000 atau Rp 1,9 miliar, investasi Block dalam Bitcoin kini bernilai sekitar USD 1,15 miliar atau Rp 18,6 triliun.

Untuk kuartal yang berakhir pada 30 Juni, Block mengumumkan pendapatan sebesar USD 6,05 miliar, meningkat 1,5% dibandingkan pendapatan sebesar USD 5,96 miliar pada kuartal pertama. Laba kotor, sebesar USD 2,54 miliar, meningkat 8,2% dibandingkan laba kotor sebesar USD 2,33 miliar.

Direktur Keuangan, Amrita Ahuja kepada CNBC, mengatakan perusahaan telah "melampaui proyeksi laba kotor sendiri."

Perusahaan menghasilkan pendapatan sebesar USD 2,14 miliar dan laba kotor sebesar USD 66 juta dari penjualan Bitcoin melalui Cash App, dompet digital untuk konsumen Amerika.

"Cash App kini memiliki volume peer-to-peer sebesar USD 218 miliar, volume perdagangan sebesar USD 183 miliar, dan 8 juta pelanggan yang terlibat dengan Pendapatan Rata-Rata Per Pengguna (ARPU) tahunan sebesar USD 250,” kata Ahuja.

 

Bertahap Tingkatkan Kepemilikan BTC

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Pada 2020, di bawah CEO Jack Dorsey, mulai membeli Bitcoin. Namun, pembelian Bitcoin oleh Block berbeda secara signifikan dari akuisisi besar MicroStrategy yang dibiayai utang.

Seiring waktu, perusahaan secara bertahap meningkatkan kepemilikan Bitcoin-nya, terutama menggunakannya sebagai lindung nilai terhadap inflasi yang berasal dari mata uang fiat. Perusahaan mencatat keuntungan sebesar usd 212,2 juta dari pengukuran ulang kepemilikan Bitcoin, dibandingkan dengan kerugian sebesar usd 70,1 juta pada periode perbandingan tahun sebelumnya.

Perusahaan ini bertujuan untuk menjadikan Bitcoin sebagai protokol terbuka untuk transaksi internet, dengan fokus pada peluncuran prototipe produk penambangan dan kustodian mandiri, yang menurut Ahuja akan segera diluncurkan.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

INFOGRAFIS: 10 Mata Uang Kripto dengan Valuasi Terbesar (Liputan6.com / Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya