Mason Mount di Persimpangan Karier: Dari Bintang Chelsea ke Ancaman One Year Wonder

Mason Mount, mantan bintang muda Chelsea, berjuang menghidupkan kembali kariernya di Manchester United di tengah cedera dan performa menurun.

oleh Richard Andreas LuturmasDiperbarui 11 Agustus 2025, 06:25 WIB
Pemain baru Manchester United, Mason Mount saat laga pramusim melawan Leeds United di Ullevaal Stadium, Oslo, Rabu (12/7/2023). (Twitter/@ManUtd)

Liputan6.com, Jakarta Nama Mason Mount pernah melambung tinggi saat menjadi bagian dari generasi muda Chelsea di era Frank Lampard.

Bersama Reece James, Christian Pulisic, dan sejumlah talenta akademi lain, Mount membawa The Blues kembali ke Liga Champions di tengah situasi finansial sulit usai kepergian Roman Abramovich.

Kala itu, Mount tampil memikat: lincah di sepertiga akhir lapangan, berani melewati dua hingga tiga lawan, dan punya tembakan keras serta akurat dari luar kotak penalti.

Gayanya mengundang perbandingan dengan Frank Lampard, dan banyak yang memprediksi ia akan menjadi pilar timnas Inggris di masa depan.


Penurunan Performa dan Kepergian ke Rival

Suatu kehormatan bagi rekrutan anyar Manchester United asal Chelsea, Mason Mount yang baru saja resmi berlabuh di Old Trafford untuk menghadapi musim 2023/2024. Gelandang Timnas Inggris itu mendapatkan nomor punggung 7, nomor keramat yang sebelumnya menjadi milik Cristiano Ronaldo. Seperti diketahui, para pengguna nomor punggung 7 dalam skuad MU mayoritas adalah para pemain pilihan yang digadang-gadang menjadi bintang, hingga kerap menjadi beban para penggunanya. Berikut deretan 7 pemilik nomor punggung 7 MU sebelum Mason Mount. (Instagram.com/ManchesterUnited)

Sayangnya, kilau itu meredup cepat. Setelah musim terbaiknya, Mount tak lagi konsisten, membuat sejumlah pelatih Chelsea frustrasi.

Pada akhirnya, sang 'anak emas' akademi dilepas ke Manchester United, sebuah langkah yang mengejutkan mengingat rivalitas kedua klub.

Di Old Trafford, alih-alih membungkam kritik, Mount justru kesulitan mendapat tempat di tim utama. Rangkaian cedera mengganggu ritmenya, dan kepercayaan publik terhadap kemampuannya kian terkikis.


Kepercayaan dari Amorim, Tekanan dari Garnacho

Gelandang Manchester United asal Inggris #07, Mason Mount, merayakan kemenangan timnya di akhir pertandingan leg kedua semifinal Liga Europa antara Manchester United dan Athletic Club Bilbao di Stadion Old Trafford di Manchester, Inggris barat laut, pada 8 Mei 2025. (Oli SCARFF/AFP)

Pelatih baru United, Ruben Amorim, tetap menunjukkan keyakinan pada Mount, bahkan memberinya tempat di laga-laga besar seperti final Liga Europa.

Keputusan itu mengorbankan Alejandro Garnacho yang kala itu dalam performa lebih baik, hingga memicu rumor transfer sang winger muda.

Bagi Mount, dukungan ini adalah kesempatan langka untuk membalikkan narasi. Di usia 26 tahun, ia harus bekerja lebih keras dari sebelumnya untuk membuktikan dirinya layak berada di level tertinggi.


Menghindari Label One Year Wonder

Istilah One Year Wonder telah menjadi momok bagi banyak pemain muda Inggris yang gagal mempertahankan performa awal mereka.

Mason Mount kini berada di titik kritis: Bangkit dan membangun kembali reputasinya, atau selamanya dikenang sebagai bintang yang hanya bersinar sekejap.

 
 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya