MRT Jakarta: Bangunan Klasik Tak Bertuan Jadi Tantangan Pembangunan di Kota Tua

Tantangan paling utama dalam mengelola kawasan Kota Tua soal regulasi dalam membangun atau mengelola aset Kawasan Kota Tua.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiperbarui 08 Agustus 2025, 05:45 WIB
Sejumlah pengunjung menggunakan sepeda yang disewakan di halaman Museum Fatahillah, kawasan Kota Tua, Jakarta. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta - Kawasan Kota Tua dikelilingi sejumlah bangunan klasik. Bangunan bergaya eropa peninggalan arsitektur Belanda tersebut menjadi ciri khas yang menarik minat wisatawan dalam dan luar negeri. 

Namun Menurut Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta (Perseroda), Farchad Mahfud tidak sedikit dari bangunan-bangunan tersebut yang tak bertuan. Sehingga menjadi tantangan bagi pihaknya dalam mengembangkan kawasan yang pada 2029 nanti akan menjadi stasiun MRT.

"Tantangan paling utama adalah soal regulasi dalam membangun atau mengelola aset tersebut,” kata Farchad kepada awak media di Jakarta, Kamis (7/8/2025).

Farchad mengamini, kawasan Kota Tua dikenal sebagai pusat bangunan bersejarah yang dilindungi undang-undang. Dia membandingkan, jika di luar negeri, bangunan bersejarah dianggap sebagai cagar budaya yang sangat bernilai tiggi. 

"Tapi di sini? Masih banyak pertanyaan, mau diapakan bangunan-bangunan ini?," tanya dia.

Menurut Farchad, tantangan berikutnya adalah ada bangunan klasik di kawasan Kota Tua itu dimiliki oleh lembaga perbankan. Hal tersebut menjadi keterbatasan dalam pengembangan kawasan, sebab biasanya pengembangan hanya bisa dilakukan dengan mengikuti industri yang sejenis.

“Jadi belum tentu mereka izinkan mengembangkan asetnya menjadi industri lain di luar core business mereka,” jelasnya.

Farchad meyakini, jika boleh disesuaikan, sejatinya gedung-gedung tersebut memiliki nilai arsitektural yang sangat tinggi dan layak dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem kota modern tanpa menghilangkan nilai historisnya. 

"Bangunan-bangunan ini ada padanannya seperti kota-kota tua di luar negeri. Bahkan di beberapa tempat, struktur seperti ini bisa menjadi area yang hidup dan atraktif,” yakin Farchad.

 

Jadikan Kawasan Wisata Bernilai

Direktur Pengembangan Bisnis PT MRT Jakarta (Perseroda), Farchad Mahfud saat membei papaan mengenai potensi Kota Tua Jakata. (Liputan6.com/M Radityo Priyasmoro)

Farchad tidak menampik, tantangan selanjutnyaa lebih bersifar teknis dalam membangun infrastruktur modern seperti MRT tanpa merusak atau menggoyang struktur lama yang rapuh.

"Gedung-gedung ini sudah sangat tua. Jadi pertanyaannya, kalau mau dibangun, gimana caranya supaya enggak rubuh?” tanya dia.

Saat ini, Farchad memastikan MRT Jakarta terus mempelajari pengalaman dari kota-kota lain di dunia yang berhasil merevitalisasi kawasan kota tua mereka. Dia menegaskan, hal itu bukan sesuatu yang mustahil. 

"Ada kota-kota yang lebih tua dari Jakarta, tapi mereka bisa membangun sistem transportasi tanpa merusak nilai sejarahnya. Jadi Kita berharap Kota Tua bisa menjadi sentra baru ekonomi Jakarta dan juga kawasan wisata yang hidup,"  Farchad memungkasi.

 
 
 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya