Dirut TBS Energi Beli 335 Ribu Saham TOBA, Segini Nilainya

Direktur Utama PT TBS Energi utama Tbk Dicky Yordan membeli 335.000 saham TOBA dengan harga Rp 1.135 per saham.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 08 Agustus 2025, 06:00 WIB
Pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (8/4/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 7,9% ke level 5.996,14. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta -  Direktur Utama PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) Dicky Yordan menambah kepemilikan saham TOBA pada akhir Juli 2025.

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Jumat (8/8/2025), Direktur Utama PT TBS Energi utama Tbk Dicky Yordan membeli 335.000 saham TOBA dengan harga Rp 1.135 per saham. Nilai pembelian saham TOBA itu sebesar Rp 380,22 juta.

“Tujuan dari transaksi investasi, status kepemilikan langsung,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informasi BEI.

Setelah transaksi, Dicky Yordan memiliki 125.986.321 saham atau setara 1,525% dari sebelumnya 125.651.321 saham atau setara 1,521%.

Mengutip data RTI, harga saham TOBA merosot 3,26% ke posisi Rp 1.040 per saham. Harga saham TOBA dibuka stagnan di posisi Rp 1.075 per saham. Saham TOBA berada di level tertinggi Rp 1.085 dan terendah Rp 1.040 per saham. Total frekuensi perdagangan 13.059 kali dengan volume perdagangan 785.324 saham. Nilai transaksi Rp 83 miliar.

Sementara itu, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berbalik arah ke zona merah. Sempat di zona hijau, IHSG ditutup melemah tipis 0,18% ke posisi 7.490,18.

Pada perdagangan saham Kamis pekan ini, IHSG dibuka naik ke posisi 7.546,33. IHSG berada di level tertinggi 7.580,55 dan level terendah 7.490,18.

Sebanyak 343 saham melemah sehingga bebani IHSG. 261 saham menguat dan 199 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 2.036.293 kali dengan volume perdagangan 35,7 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 16,8 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.270.

Mayoritas sektor saham tertekan. Sektor saham teknologi susut 4,46%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham infrastruktur melemah 1,64%, sektor saham transportasi tergelincir 0,47%, sektor saham energi terpangkas 0,27%, sektor saham consumer nonsiklikal turun 0,17% dan sektor saham properti terpangkas 0,15%.

Sementara itu, sektor saham basic naik 1,21%, dan catat penguatan terbesar. Sektor saham industri mendaki 0,41%, sektor saham consumer siklikal menanjak 0,61%, sektor saham kesehatan menguat 0,51% dan sektor saham keuangan menanjak 0,08%.

Kinerja Semester I 2025

Ilustrasi Laporan Keuangan, Laba, Rugi. Foto: Freepik/mindandi

Sebelumnya, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mengumumkan kinerja keuangan untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2025. Tahun ini menjadi momen penting bagi TBS dalam mempercepat transformasi portofolio bisnisnya ke arah yang lebih berkelanjutan dan berdampak jangka panjang.

Di tengah kondisi pasar batubara yang terus melemah dan langkah strategis divestasi dari aset-aset konvensional, TBS tetap mencatat kemajuan nyata dalam agenda transisinya. Perseroan telah secara aktif masuk ke dalam tiga lini usaha baru pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik.

Ketiga pilar ini menjadi pondasi utama dalam membangun bisnis yang lebih resilien, rendah karbon, dan berorientasi masa depan.

Semester ini, pendapatan konsolidasian tercatat sebesar USD 172,2 juta, menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 248,7 juta.

Penurunan ini utamanya disebabkan oleh menurunnya volume penjualan segmen pertambangan batubara dari 1,7 juta ton menjadi 0,7 juta ton, serta turunnya harga jual rata-rata dari USD 83 per ton menjadi USD 52,9 per ton.

Segmen pertambangan dan perdagangan batubara membukukan pendapatan USD 91,6 juta atau 53% dari total pendapatan menurun dari 82% tahun sebelumnya mencerminkan penurunan ketergantungan TBS pada sektor ini. Sebaliknya, sektor-sektor hijau mulai menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Divestasi 2 Unit PLTU

TBS mencatat rugi bersih sebesar USD 115,3 juta, yang sebagian besar berasal dari rugi non-kas divestasi dua anak usaha PLTU senilai USD 96,9 juta. Meskipun demikian, TBS menerima dana tunai sebesar USD 123,6 juta dari transaksi tersebut, yang memperkuat kondisi kas perusahaan.

Divestasi dua unit PLTU ini juga menurunkan emisi karbon sebesar 1,4 juta ton CO₂e atau 86% dalam setahun mengacu pada metodologi Greenhouse Gas Protocol dan hasil tinjauan EY Indonesia. Ini menjadi langkah besar dalam pencapaian target netral karbon 2030.

Bisnis pengelolaan sampah mencatat pendapatan USD 59,6 juta dan EBITDA USD 10 juta dengan margin EBITDA 17%. Ini memperlihatkan profitabilitas yang menjanjikan dibandingkan sektor batubara.

Akuisisi Sembcorp Environment dan Sembcorp Enviro Facility di Singapura memperluas jangkauan regional TBS di sektor limbah. “Kami percaya bisnis ini akan menjadi salah satu motor penggerak utama pertumbuhan jangka panjang TBS,” ujar Direktur TBS, Juli Oktarina dalam keterangan resmi, Rabu (30/7/2025).

Proyek EBT

Dalam energi terbarukan, dua proyek strategis tengah dikembangkan yaitu PLTS Terapung Tembesi (46 MWp) di Batam, bersama PLN Nusantara Power, ditargetkan COD semester II 2026. PLTMH Sumber Jaya (6 MW) telah beroperasi secara komersial sejak 22 Januari 2025.

Sektor Kendaraan ListrikDi sektor ekosistem kendaraan listrik, Electrum terus mempercepat transisi Indonesia menuju mobilitas listrik berkelanjutan. Hingga 20 Juli 2025, Electrum mencatat kemajuan signifikan dalam mendorong adopsi kendaraan listrik di Indonesia.

Jumlah unit motor listrik (E2W) yang telah beroperasi mencapai 5.406 unit, meningkat 87% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan infrastruktur juga sangat pesat, dengan jumlah stasiun penukaran baterai (BSS) melonjak 150% menjadi 320 titik dari sebelumnya 128 titik.

Saat ini, lebih dari 21.000 penukaran baterai terjadi setiap hari, mencerminkan tingginya kepercayaan dan keterlibatan pengguna terhadap ekosistem Electrum.

Pengurangan Emisi

Di sisi lingkungan, inisiatif ini telah berkontribusi pada pengurangan emisi karbon lebih dari 20 ton CO₂ per hari, mempertegas peran Electrum dalam mendukung target keberlanjutan nasional.

Juli juga menyampaikan bahwa tahun ini menjadi tonggak penting dalam transformasi TBS menuju bisnis yang lebih berkelanjutan.

“Kami sedang berada di fase strategis untuk mereposisi portofolio kami dan fokus pada pengembangan bisnis yang tidak hanya memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang, tetapi juga berkontribusi positif terhadap lingkungan dan masyarakat,” ujar dia.

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya