Jelang HUT ke-80 RI, Indonesia Diharap Jadi Bangsa yang Semakin Bermartabat

Usia ke-80 tahun dapat menjadi pijakan bagi bangsa Indonesia untuk menjadi kader dunia yang unggul.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiperbarui 06 Agustus 2025, 09:32 WIB
Pengibaran Bendera Merah Putih dalam upacara HUT ke-78 RI di Istana Merdeka, Kamis (17/8/2023). (Tangkapan layar Youtube Sekretariat Presiden)

Liputan6.com, Jakarta - Republik Indonesia memasuki momentum peringatan HUT ke-80. Pendiri Restorasi Jiwa Indonesia, Syam Basrijal mengatakan, momentum tersebut harus diresapi oleh seluruh masyarakat untuk menjadikan Indonesia lebih damai dan bermartabat. Tujuannya, agar bangsa bisa lebih bijak dan mampu berpikir jernih.

"Makna utama peringatan kemerdekaan Republik Indonesia tidak sekadar lomba dan parade semata. Kemerdekaan bukan hanya soal bendera, parade, atau lomba 17-an. Kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan batin untuk berpikir jernih, merasa damai, dan bertindak sadar," kata Syam dalam keterangan diterima, Selasa (5/8/2025).

Dalam konteks sosial, Syam menilai, banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengisi Hut ke-80 RI secara konstruktif. Dia meyakini, usia ke-80 tahun dapat menjadi pijakan bagi bangsa Indonesia untuk menjadi kader dunia yang unggul.

"Di usia 80 tahun, Indonesia memerlukan lebih dari sekadar euforia. Kita perlu menghidupkan kembali semangat gotong royong dan empati sosial, bukan hanya kompetisi dan konten viral," jelas dia.

Dia mendorong, simbol-simbol kemerdekaan harus dieksplorasi lebih luas demi menjadikan generasi muda sebagai penerus yang terdidik dan memiliki kekuatan mental yang baik di semua lingkungan.

"Mendidik generasi muda tentang makna simbolik kemerdekaan, bukan hanya ritualnya. Lalu menumbuhkan literasi jiwa di sekolah, rumah, dan ruang publik, agar anak-anak tumbuh bukan hanya cerdas, tapi juga berjiwa sehat," sambung Syam. 

 

 

Makna Kemerdekaan

Syam pun menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk kembali meresapi makna kemerdekaan yang lebih mendalam.

"Sebagai bangsa, mari kita pulih. Sebagai masyarakat, mari kita sadar. Dan sebagai pribadi, mari kita jujur bahwa selama kita tidak bersatu di tingkat batin, bangsa ini akan tetap terpecah di permukaan," dia menandasi.

Infografis Warisan Budaya TakBenda UNESCO dari Indonesia. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya