Liputan6.com, Jakarta- Hari belum benar-benar terang. Rina (29) sudah bersiap menembus padatnya jalanan menuju Jakarta Pusat. Tempat dia mencari nafkah setiap hari selama hampir sembilan tahun terakhir.
Rutinitas itu bukan cuma soal waktu dan jarak, tapi juga tenaga, emosi, dan ongkos yang tak murah. Rina adalah potret dari ribuan pekerja urban yang menggantungkan harapan di ibu kota, meski tinggal jauh dari pusat ekonomi.
Advertisement
Setiap hari, dia menempuh perjalanan dari rumah ke kantor dengan mengandalkan transportasi umum. Namun, satu moda tak cukup. Rina harus berpindah dari ojek online, naik KRL, lalu kembali naik ojek untuk sampai ke kantornya.
Biaya transportasi pun tak bisa dianggap ringan. Dalam sehari, Rina merogoh kocek antara Rp50.000 hingga Rp65.000. Jika ditotal, pengeluarannya bisa mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per bulan. Hampir setengah dari pendapatannya.
“Biasanya saya hemat makan dan jajan. Jadi jarang nongkrong juga sama teman-teman. Enggak beli barang yang dirasa enggak perlu,” ujarnya, menggambarkan betapa ketatnya dia mengatur pengeluaran.
Belakangan, Rina mencoba beralih ke moda transportasi yang lebih murah, TransJakarta. Rutenya memang sedikit memutar, tapi ongkosnya jauh lebih ringan.
"Pulang-pergi (naik TransJakarta) cuma habis Rp21.000. Tapi kalau terlambat, saya tetap pilih naik KRL karena lebih cepat," katanya.
Kendati harus merogoh kocek dalam setiap hari, Rina masih berusaha menyisihkan sedikit uang untuk ditabung. Meski tak besar, baginya itu sudah cukup jadi penyemangat.
Naik KRL Habiskan Rp15.000 Per Hari
Sama seperti Rina, Ria (33) juga memulai harinya sebelum matahari muncul di ufuk timur. Warga Klapanunggal, Bogor, ini setiap pagi menyalakan motornya dan menembus kemacetan menuju Stasiun Nambo. Tas kerja menggantung di punggung, masker menutupi wajah. Rutinitas yang nyaris tak pernah absen.
Setibanya di stasiun, Ria naik KRL tujuan Jakarta Kota. Namun, dia turun di Stasiun Gondangdia. Dari sana, dia berjalan kaki sekitar tujuh menit menuju kantornya di kawasan Menteng.
Perjalanan Ria menghabiskan ongkos harian sekitar Rp15.000. Rinciannya, Rp5.000 untuk parkir motor, dan Rp10.000 untuk tiket KRL pulang-pergi.
Dulu, Ria sempat mencoba moda transportasi LRT yang lebih modern dan cepat. Namun, biayanya jauh lebih tinggi. Dalam sebulan, dia harus mengeluarkan hingga Rp1,7 juta hanya untuk ongkos LRT dan ojek online menuju kantornya.
“Nggak sanggup kalau harus naik LRT setiap hari. Bisa-bisa gaji habis cuma buat ongkos,” ujarnya.
Jarak rumah ke kantor Ria mencapai 48,5 kilometer, dan waktu tempuhnya hampir dua jam sekali jalan. Praktis, hidup Ria banyak dihabiskan di jalan.
“Pergi pagi, pulang malam. Sampai rumah sudah capek. Mana sempat baca buku atau main sama anak,” ungkap ibu satu anak itu, dengan nada lelah tapi pasrah.
Naik Motor Lebih Hemat Ongkos
Berbeda dari Rina dan Ria yang mengandalkan transportasi umum, Agil memilih menunggangi motor menuju kantornya. Keputusan itu bukan tanpa alasan. Baginya, motor adalah jalan pintas untuk menghemat waktu dan menghindari stres akibat kemacetan serta perpindahan moda yang merepotkan.
Jarak rumah ke kantornya sekitar 33 kilometer. Jika kondisi tubuh sedang fit, Agil akan langsung tancap gas ke kantor. Tapi kalau lelah, dia tak ragu untuk mencari alternatif, biasanya dengan KRL.
"Soal waktu dan fleksibilitas, motor memang paling efisien. Kalau full tank isi bensin Rp70 ribu, bisa dipakai seminggu lebih," katanya.
Dalam sebulan, biaya transportasinya hanya sekitar Rp280.000 sampai Rp300.000. Jauh lebih hemat dibanding moda lain. Untungnya, dia juga tak selalu harus ke kantor karena sistem kerja hybrid yang memperbolehkannya sesekali WFH.
Agil sebenarnya tak menutup mata terhadap pilihan transportasi umum. KRL dan LRT bisa saja jadi opsi. Tapi realitanya, tak sesimpel itu.
"Kalau naik KRL, saya mesti parkir dulu di Stasiun Depok Baru. Itu butuh 30 menit sendiri dari rumah, dan itu kalau jalanan lancar. Kalau LRT, saya harus naik motor dulu ke Stasiun Lebak Bulus, yang juga makan waktu sekitar 30 menit," tuturnya.
Bagi Agil, keputusan naik motor adalah hasil kalkulasi antara waktu, tenaga, dan ongkos. Meskipun ada capek dan risiko lebih tinggi di jalan, motor masih jadi solusi paling masuk akal untuk rutinitasnya yang padat.