Curhat Warga Pinggiran Jakarta Tekor di Ongkos Cuma Buat Ngantor: Berjam-jam di Jalan 3 Kali Ganti Angkutan

Tio, warga Cibubur yang bekerja di Jakarta mengaku menghabiskan Rp33.500 untuk sekali jalan sampai ke kantor.

oleh Winda NelfiraDiperbarui 05 Agustus 2025, 12:09 WIB
Pegawai pulang kerja berjalan di trotoar Jalan Sudirman, Jakarta, Selasa (12/5/2020). Pemerintah memberi kelonggaran bergerak bagi warga berusia di bawah 45 tahun untuk mengurangi angka pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi virus corona COVID-19. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta Jika melihat di peta, wilayah Cibubur ke Jakarta hanya belasan kilometer. Tetapi bagi para pekerja di kota penyangga yang saban hari pulang pergi, melalui dua kawasan itu bak melewati dua dunia berbeda.

Seperti pengakuan Tio (32), pekerja di industri kreatif Jakarta. Baginya, perjalanan dari rumah ke tempat kerja bukan sekadar rutinitas. Lebih dari itu, bagian pengorbanan besar demi keluarga. Meski diakuinya ongkos transportasi untuk menuju tempat kerja bikin 'boncos'.

"Saya sudah enam bulan tinggal di Cibubur. Setiap hari harus ke kantor di Jakarta Pusat, tepatnya di daerah Gambir," ujar Tio memulai cerita kepada Liputan6.com, Selasa (5/8/2025).

Melipir Cari Hunian di Pinggiran Jakarta

Sementara, penurunan okupansi apartemen sewa diduga terjadi karena penundaan keputusan perusahaan karena ketidakpastian ekonomi. Penurunan okupansi apartemen sewa juga imbas kebijakan efisiensi pemerintah khususnya pada apartemen yang mayoritas penyewanya dari sektor pemerintah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Tio sebelumnya tinggal di sebuah apartemen di Kalibata, Jakarta Selatan. Lokasinya lebih dekat ke kantor. Tetapi lama kelamaan, dia dan keluarga kecilnya merasa hidup di apartemen terlalu sempit untuk anak mereka yang sedang bertumbuh. Sehingga, keputusan pun dibuat. Dia melipir dari Jakarta, mencari hunian yang lebih luas dan lingkungan yang lebih bersahabat bagi tumbuh kembang anaknya.

"Di Cibubur, harga hunian lebih murah ketimbang di Jakarta. Selain itu, di Cibubur juga ada Stasiun LRT Harjamukti," ujar Tio.

Adapun Stasiun LRT Harjamukti dengan kode HAR ini terletak di Jalan Taman Bunga Wiladatika, Kota Depok, Jawa Barat. Stasiun ini bisa dibilang strategis karena menghubungkan kota-kota penyangga seperti Depok, Cibubur, Ciracas hingga ke pusat kota Jakarta seperti Dukuh Atas.

Ongkos Rp33.500 Sekali Jalan

Layanan LRT Jabodebek pada Juli 2025. (Dok KAI)

Tiga moda transportasi digunakan Tio setiap hari untuk pergi-pulang kerja, mulai dari ojek online, LRT, hingga busway. Tio memulai perjalanan dari Harjamukti lalu melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Rasuna Said. Setelah itu, dia menyambung dengan moda TransJakarta untuk sampai ke tempat kerjanya di Gambir.

“Jadi durasi perjalanan sekitar dua jam. Pulangnya pun bisa sama waktu tempuhnya,” tutur Tio.

Tio merinci, rutinitas paginya dimulai pukul 06.30 WIB. Ia akan naik ojek online (Ojol) dari rumah ke Stasiun LRT Harjamukti, menempuh perjalanan sekitar 10-15 menit. Namun, jika lalu lintas (Lalin) sedang padat, waktu tempuh bisa lebih lama.

Sekali jalan, Tio merogoh kocek Rp15 ribu untuk Ojol, Rp15 ribu untuk LRT, dan Rp3.500 untuk tarif TransJakarta. Bila dikalikan perjalanan pulang-pergi selama lima hari kerja, biaya transportasi yang dikeluarkan Tio tiap bulannya mencapai Rp1,4 juta.

Bawa Bekal dan Tidak Banyak Jajan

Aktivitas pekerja saat jam pulang kantor di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (29/9/2022). Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengungkapkan bakal mendukung pemerintah pusat jika hendak mencabut satus pandemi Covid-19 menjadi endemi dan akan menyesuaikan program-program penunjang kebijakan tersebut. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Kendati harus merogoh kocek cukup besar setiap bulan, Tio tetap bersyukur dengan adanya sistem transportasi yang kini jauh lebih terintegrasi. Moda transportasi seperti LRT, TransJakarta, dan KRL dinilai sudah cukup membantu perjalanan harian pekerja yang menggantungkan hidup di Jakarta seperti dirinya.

Meski begitu, Tio mempunyai catatan penting soal kapasitas dan kenyamanan transportasi publik, terutama saat jam sibuk karena ia temui hampir semua moda transportasi itu penuh sesak. Bahkan, LRT yang relatif baru pun tidak luput dari kepadatan.

“Menurut saya, kalau mau ongkos dinaikkan tidak apa-apa asalkan armadanya ditambah dan lebih nyaman. Karena masyarakat juga pasti mau bayar lebih kalau bisa duduk dan tidak desak-desakan,” kata Tio.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya