Kompetisi Sepak Bola Usia Muda Berikan Dampak Ganda, Jadi Penggerak Industri Olahraga Nasional

Dampak ekonomi dari kompetisi sepak bola usia muda sangat tinggi. Efek gandanya dirasakan tak cuma pecinta si kulit bundar.

oleh ThomasDiterbitkan 04 Agustus 2025, 14:00 WIB
KONI Gelar Turnamen Sepak Bola Usia Dini, Diikuti 65 Tim

Liputan6.com, Jakarta- Tak bisa dipungkiri sepak bola merupakan olahraga yang paling digemari di seluruh Indonesia. Event sepak bola nyaris selalu ramai dipadati penonton. Dengan banyaknya event kelompok umur yang digelar, ternyata potensi ekonomi dari industri olahraga tersebut cukup besar.

Kompetisi sepak bola usia muda tak lagi sekadar ajang pencarian bakat. Di balik semangat sportivitas dan pembinaan atlet masa depan, geliat turnamen kelompok usia ini kini menjelma menjadi mesin penggerak industri olahraga nasional.

Ratusan turnamen kelompok usia—dari U-9, U-11, U-13, hingga U-17 digelar rutin setiap tahun di berbagai daerah. Penyelenggaranya pun beragam, mulai dari sekolah sepak bola (SSB), akademi, operator swasta, hingga dukungan aktif dari PSSI dan pemerintah melalui program pembinaan usia dini.

Di balik persaingan yang sengit di lapangan, kompetisi ini menciptakan efek ekonomi berantai. Perputaran uang terjadi dalam berbagai bentuk: sewa lapangan, akomodasi, transportasi tim, konsumsi, penjualan merchandise, hingga belanja perlengkapan tim dan kontribusi UMKM lokal.

Melihat potensi ekonominya, Deputi Bidang Industri Olahraga Kemenpora Raden Isnanta mengakui biaya yang dikeluarkan oleh para operator kompetisi usia muda itu tidaklah kecil. Namun, melihat event-event tersebut bisa berjalan, dia menilai potensi keuntungannya juga ada.

"Berbicara soal industri, pasti bicara faktor ekonomi. Menggelar jika tidak menguntungkan, tentu tidak akan dilanjutkan. Namun, ini bisa berlanjut, berarti ada potensi keuntungan ekonomi di situ," katanya.


Banyak Turnamen Usia Dini di Indonesia

Ratusan pesepak bola usia dini dari Kawasan Indonesia Timur (KTI) bakal unjuk kemampuan pada turnamen Filanesia National Championship (FNC) U-10 & U-12 Makassar Cup 2021. (Bola.com/Abdi Satria)

Operator sepakbola usia dini seperti Liga Topskor, Indonesia Grassroot Championship, dan lebih 15 operator yang berhimpun dalam APSUMSI (Asosiasi Pembina Sepak Bola Usia Muda Seluruh Indonesia) antara lain FORSGI, BLiSPI, GEAS Indonesia, Komunitas Jujur, FOSSBI, Fosbolindo, GoBolaBali, ASBI, Liga Sentra, SBAI, Dream Come True (DCT), dan lainnya.

Yang mana, masing-masing operator tersebut setiap tahunnya menggelar kompetisi berjenjang mulai dari seri daerah hingga seri Nasional dengan rata-rata pelibatan per operator lebih dari 2000 atlet. Jumlah tersebut belum termasuk tim pendukung maupun keikutsertaan orang tua.

Operator tersebut, hidup bukan hanya dari biaya pendaftaran, tetapi ada juga yang sudah langgeng dengan sponsor Utama maupun pendamping di masing-masing Liga atau kompetisi. Artinya, lanjut Isnanta, industri sepak bola kelompok umur ini berjalan di Indonesia.

Lanjut Baca:

Bayangkan, jika satu klub dalam satu event membayar biaya pendaftaran di kisaran Rp 500 ribu saja, sementara ada ribuan klub yang ikut serta. Maka sudah bisa dilihat ada potensi puluhan miliar uang berputar dari situ saja. Belum lagi, dari biaya lainnya seperti akomodasi, konsumsi, sampai dengan transportasi. Secara tidak langsung, event ini mampu menggeliatkan ekonomi di bawah. Berapa kamar hotel yang dipesan? berapa banyak warung atau usaha penyedia makanan yang dibeli produknya? kemudian ada berapa ratus mobil yang disewa untuk membawa tim bertanding. "Jika dihitung kasar, dibuat satu tim mengeluarkan Rp25 Juta per kompetisi. Dan ada sekitar 5.000 tim kelompok umur yang ikut, maka bisa dilihat Rp 125 Miliar berputar karena kompetisi kelompok umur tersebut. Saya yakin, jumlah itu bisa lebih besar, karena ada ratusan kompetisi kelompok umur yang digelar di Indonesia," bebernya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya