Singgung Shin Tae-yong yang Nirgelar, Pengamat Sebut Gerald Vanenburg Belum Perlu Diganti

Gerald Vanenburg baru resmi menangani Timnas Indonesia U-23 selama satu bulan

oleh Asad ArifinDiterbitkan 03 Agustus 2025, 15:32 WIB
Pelatih Timnas Indonesia U-23, Gerald Vanenburg, saat sesi konferensi pers selepas duel melawan Timnas Filipina U-23 pada lanjutan Piala AFF U-23 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (18/7/2025). (Bola.com/Muhammad Iqbal Ichsan)

Liputan6.com, Jakarta Kegagalan Timnas Indonesia U-23 meraih gelar juara di Piala AFF U-23 2025 menempatkan Gerald Vanenburg dalam sorotan tajam. Pelatih asal Belanda itu dinilai belum mampu membuktikan kapasitasnya sebagai arsitek Garuda Muda.

Hasil akhir yang menyakitkan membuat sebagian publik menilai Vanenburg layak dievaluasi secara serius. Namun, pengamat sepak bola nasional, Ronny Pangemanan, menilai Vanenburg belum perlu diganti dari posisinya sekarang.

Di partai final Piala AFF U-23, Indonesia harus mengakui keunggulan Vietnam U-23 dengan skor tipis 0-1. Hasil itu sangat mengecewakan, sebab Kadek Arel dan rekan-rekannya justru tumbang di depan puluhan ribu pendukung sendiri.

Kekalahan ini bukan hanya menggagalkan ambisi juara, tetapi juga menambah panjang catatan kegagalan Garuda Muda dalam dua edisi terakhir melawan lawan yang sama di laga pamungkas. Tak ayal, desakan agar Vanenburg segera dievaluasi mulai bermunculan.


Satu Bulan yang Tak Cukup untuk Menilai Vanenburg

Pelatih Timnas Indonesia U-23 Gerald Vanenburg saat melawan Filipina di Piala AFF U-23 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Senayan, Jakarta, Jumat (18/7/2025) malam WIB. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Gerald Vanenburg baru resmi menangani Timnas Indonesia U-23 selama satu bulan. Dengan waktu persiapan yang sangat singkat, pelatih 60 tahun itu langsung dihadapkan pada turnamen resmi.

Dalam situasi tersebut, wajar bila hasil belum sepenuhnya sesuai harapan. Oleh karena itu, sebagian suara bijak menyuarakan bahwa Vanenburg layak diberi waktu lebih untuk membentuk tim sesuai visinya.

Pengamat sepak bola nasional, Ronny Pangemanan, menilai evaluasi memang perlu, namun tidak dengan mengambil keputusan terburu-buru.

“Kalau bicara soal tangung jawab, ya sebagai pelatih kepala dimana-mana dia harus bertanggung jawab. Bukan pemainnya yang harus disalahkan. Kalau pun gagal, ya pelatih yang harus disalahkan sebagai bentuk tanggung jawab,” kata Ronny via kanal YouTube NTV Sport.


Belajar dari Kasus Shin Tae-yong

Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong saat konferensi pers jelang laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 antara Timnas Indonesia Vs Vietnam di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Rabu (20/03/2024). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Situasi yang dihadapi Vanenburg saat ini memiliki kemiripan dengan awal karier Shin Tae-yong bersama Timnas Indonesia. Meski tak pernah memberikan trofi selama lima tahun masa jabatannya, Shin tetap mendapatkan dukungan penuh dari federasi dan publik di masa awal kepemimpinannya.

“Shin Tae-yong saja sampai lima tahun tak memberikan satu trofi pun tapi tetap dia dianggap sukses di awal oleh banyak netizen sebelum ada pergantian dengan Patrick Kluivert,” kata Ronny.

Ronny menilai, logika yang sama seharusnya juga berlaku untuk Vanenburg, terlebih lagi karena sang pelatih masih dalam tahap awal menyesuaikan diri dengan kultur sepak bola Indonesia.

"Makanya kan Ketua Umum PSSI Pak Erick Thohir memberi kesempatan lagi untuk melihat sampai di bulan September, Kualifikasi Piala Asia U-23 2026. Kita tuan rumah juga. Nah, di situ juga akan dilihat bagi seorang Gerald Vanenburg,” pungkasnya.

Disadur dari Bola.com: Choki Sihotang, 2 Agustus 2025

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya