Liputan6.com, Jakarta - Program Wajib Belajar (Wajar) 13 Tahun yang kini resmi diterapkan pemerintah ternyata lahir dari pemikiran Amich Alhumami, Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Bappenas periode 2022–2025.
Hal ini terungkap dalam Konferensi Internasional ICECCEP ke-4 di Bandung, Jumat (25/7), yang membahas urgensi pendidikan anak usia dini (PAUD) dalam pembangunan nasional.
Advertisement
Dalam forum tersebut, Amich memaparkan bahwa ide Wajar 13 Tahun pertama kali ia dorong saat menyusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 dan Peta Jalan Pendidikan Indonesia (PJPI) Tahun 2045.
Gagasan ini kemudian menjadi acuan dalam penyelenggaraan pendidikan nasional yang diimplementasikan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sejak periode 2024–2029.
"Pendidikan sejak prasekolah atau PAUD adalah investasi penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” kata Amich, yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Menurut Amich, PAUD memiliki peran kunci dalam membentuk kesiapan belajar anak. Sejumlah penelitian menunjukkan, pendidikan usia dini berdampak positif pada perkembangan otak dan kemampuan anak dalam menguasai keterampilan lanjutan.
"Anak-anak yang mengikuti PAUD cenderung memiliki prestasi literasi dan numerasi lebih baik, dan lebih banyak yang memenuhi ambang batas kompetensi minimum dibanding mereka yang tidak ikut PAUD,” jelasnya.
Investasi Lebih Banyak pada PAUD
Amich menekankan bahwa hampir seluruh negara di dunia kini lebih banyak berinvestasi pada PAUD demi memperoleh manfaat sosial dan ekonomi jangka panjang.
Namun, ia juga mengakui kompleksitas penyelenggaraan pendidikan anak usia dini yang harus terintegrasi dengan layanan kesehatan, gizi, pendidikan keluarga, dan lingkungan sosial, konsep yang ia sebut sebagai PAUD Holistik-Integratif.
“Perlu dibangun kemitraan strategis lintas sektor antara pemerintah, mitra pembangunan, akademisi, dan masyarakat,” ujar Dewan Pimpinan Majelis Pembinaan Kader dan SDI PP Muhammadiyah ini.
Amich menyerukan agar seluruh pemangku kepentingan memperkuat sinergi dan komitmen demi kesuksesan program ini. “Kita gandakan upaya ini demi membangun fondasi kokoh bagi generasi mendatang dan mewujudkan Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Buat Pendidikan PAUD yang Menyenangkan
Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mendukung kebijakan ini sebagai langkah menyiapkan anak sejak usia dini sebelum masuk Sekolah Dasar.
“Dengan pendidikan PAUD yang menyenangkan dan berbasis bermain, anak-anak akan memiliki learning sustainability yang kuat untuk jenjang pendidikan selanjutnya,” kata Mu’ti.
Menurut Mu’ti, pendekatan belajar di TK harus tetap mengedepankan metode bermain yang murah, mudah, dan menyenangkan. “Kita sekarang mendorong gerakan science yang menyenangkan untuk anak-anak,” pungkasnya.