Cerita Pedih Cristian Totti Pensiun Dini di Usia 19: Beratnya Jadi Anak Legenda

Cristian Totti, putra sulung dari legenda AS Roma dan Timnas Italia, Francesco Totti, resmi pensiun dari sepak bola profesional pada usia 19 tahun.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 30 Juli 2025, 11:12 WIB
Penyerang Roma asal Italia, Francesco Totti, menyapa para penggemar sambil menggendong putrinya, Isabel, di samping anak-anak lainnya, Chanel, Cristian, dan istrinya, Ilary, dalam sebuah upacara untuk merayakan pertandingan terakhirnya bersama AS Roma setelah pertandingan Serie A Italia melawan Genoa pada 28 Mei 2017 di Stadion Olimpiade Roma. (Vincenzo PINTO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Cristian Totti, putra sulung dari legenda AS Roma dan Timnas Italia, Francesco Totti, resmi pensiun dari sepak bola profesional pada usia 19 tahun. Keputusan mengejutkan ini ia ambil sebelum kariernya benar-benar dimulai. Alasannya menyentuh dan berkaitan erat dengan sosok sang ayah. Dalam dunia sepak bola, nama besar bisa jadi anugerah, tapi bagi Cristian, itu berubah menjadi beban.

Cristian sempat meniti jalan yang sama seperti ayahnya, menapaki akademi sepak bola dan bermain di level semi-profesional. Namun, tekanan media, komentar pedas di media sosial, dan bayang-bayang Totti senior membuatnya memilih jalan berbeda. Kini, alih-alih merumput di lapangan, ia akan tetap dekat dengan sepak bola lewat perannya di sekolah sepak bola milik ayahnya.

Cristian mengumumkan pengunduran dirinya baru-baru ini. Terakhir, dia hanya tampil selama 156 menit dalam enam pertandingan bersama klub Serie D, Olbia, di bawah asuhan Marco Amelia sebelum memutus kontraknya pada Desember 2024.

Setelah berbulan-bulan sebagai free agent, ia akhirnya memutuskan untuk berhenti. Kepada media Italia La Nuova, ia mengonfirmasikan keputusan itu. Dalam artikel, La Nuova menulis tajuk "Totti Jr.: 'Cukup sudah, saya berhenti bermain sepak bola.' Nama belakangnya, para pembencinya, dan gosip."


Beratnya Menjadi Seorang Totti

 Cristian tumbuh besar di Roma dan awalnya tergabung dalam akademi Giallorossi, lalu melanjutkan perjalanan ke Frosinone dan Rayo Vallecano. Ia kemudian tampil di Serie D bersama Avezzano dan Olbia, tapi tak pernah benar-benar lepas dari bayang-bayang sang ayah.

Tak hanya tekanan prestasi, Cristian juga harus menghadapi komentar bodyshaming di media sosial dan ekspektasi tinggi karena nama belakangnya. Tekanan tersebut membuat gairahnya terhadap sepak bola perlahan memudar.


Dukungan sang Pelatih

Francesco Totti turut membantu Timnas Italia menjuarai Piala Dunia 2006. (AFP/ROBERTO SCHMIDT)

Marco Amelia, pelatih terakhir Cristian di Olbia, menilai pemain muda itu punya potensi besar. “Saya menginginkannya karena dia pemain dengan kemampuan hebat, seorang gelandang yang bisa mengatur permainan, membaca celah pertahanan, menciptakan peluang, dan juga bagus saat bertahan,” kata Amelia.

Namun, Amelia juga menyadari beban besar yang dipikul Cristian sebagai putra Francesco Totti. “Saya pikir dia akan punya karier hebat di Serie C atau Serie B, tapi menjadi anak Totti memengaruhi cara orang menilainya,” ujarnya.


Tetap di Dunia Sepak Bola

Legenda AS Roma, Francesco Totti, didampingi istri dan anak-anaknya saat laga terakhirnya bersama Serigala Roma di Stadion Olimpico, Roma, Minggu (28/5/2017). Selama 25 tahun Totti berkarier di AS Roma. (EPA/Claudio Peri)

Meski gantung sepatu lebih cepat, Cristian tetap mencintai sepak bola. Status WhatsApp-nya masih memuat emoji bola dan hati sebagai tanda cintanya pada permainan ini. Ia tak benar-benar meninggalkan dunia yang membesarkan nama ayahnya.

Cristian kini akan membantu mengelola Totti Soccer School, akademi sepak bola yang didirikan ayahnya. Ia akan bekerja bersama pamannya, Riccardo Totti, dan general manager Claudio D'Ulisse dalam mencari dan membina talenta muda berbakat.

Sumber: SPORTbible

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya