Ini Kunci Mengungkap Tabir Kasus Kematian Diplomat Muda Kemlu Terlilit Lakban

Kasus kematian Arya Daru, diplomat muda Kemlu yang ditemukan tewas dengan kepala terlilit lakban akan memasuki babak akhir. Kunci penyebab kematian harus terang benderang.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiperbarui 29 Juli 2025, 13:24 WIB
Kompolnas menyambangi tempat kos yang ditinggali diplomat muda Kemlu ADP (39) semasa hidup di Jalan Gondangdia Kecil, Menteng Jakarta Pusat pada Selasa (22/7/2025).(Liputan6.com/ Ady Anugrahadi)

Liputan6.com, Jakarta Hari ini, Selasa (29/7), Polisi akan memaparkan perkembangan penyelidikan kasus kematian diplomat muda Kemlu Arya Daru. Satu per satu barang milik Arya Daru sudah ditemukan. Hanya menyisakan telepon genggam yang sampai saat ini keberadaannya masih misteri.

 Polisi juga sudah memeriksa CCTV di lokasi kejadian. Sejumlah saksi pun telah dimintai keterangan. Termasuk keluarga dan rekan kerja korban. Dari proses yang sudah berjalan, ada dua kemungkinan yakni bunuh diri dan dibunuh. Namun, kalangan akademisi menilai kencederungan paling kuat adalah bunuh diri.

Bunuh Diri Bukan Hal Mudah

Psikolog Universitas Pancasila, Aully Grashinta menganalisis, jika penyebab kematiannya adalah bunuh diri, maka hal itu tidak dilakukan secara spontan.

"Pada umumnya orang yang melakukan tindakan bunuh diri tidak spontan, karena tindakan bunuh diri adalah suatu tindakan akumulatif yang merupakan puncak dari kejadian sebelumnya," kata Aully melalui pesan suara diterima, Selasa (29/7/2025).

Perlu ditelusuri akar persoalan yang mendorong terjadinya peristiwa bunuh diri. Selalu ada faktor pemicu atau trigger yang mendorong tindakan tersebut dilakukan. Saat hal itu terpantik, maka seorang yang mau melakukan tindakan bunuh diri langsung mencari caranya.

"Bunuh diri bukan hal yang mudah! apakah itu dengan cara menenggak racun obat serangga juga harus tahu dosisnya sampai dengan tingkat yang mematikan," imbuhnya. 

Diplomat Kemlu RI Arya Daru Pangayunan ditemukan meninggal di kamar kosnya di kawasan Gondangdia Kecil, Jakarta Pusat, Selasa (8/7/2025). (Foto: Instagram/@peduliwni)

Telusuri Penyebab Bunuh Diri

Menurutnya, Polisi seharusnya tidak hanya berhenti pada kesimpulan kematian saja. Apakah bunuh diri atau dibunuh. Polisi perlu mengetahui peristiwa yang dilalui Arya sebelum ditemukan tewas. Tujuannya untuk membuka tabir penyebab kematian.

Dia menambahkan, bisa ditelusuri kondisi psikologis hingga aktivitas media sosial dan seluk beluk yang berpotensi memicu terjadinya tindakan bunuh diri.

“Juga dari cara-cara dia mempersiapkan tindakan bunuh diri tersebut kalau memang semuanya sinkron, hal itu bisa disebutkan itu bunuh diri. Tapi kalau catatan tidak ada, tidak ada intensi dan tidak indikasi mengarah ke kejadian bunuh diri, kita harus melihat hal apa yang mungkin terjadi lainnya," tutupnya.

Kuat Dugaan Bunuh Diri Dibanding Dibunuh

Analisis dugaan bunuh diri juga disampaikan Kriminolog Universitas Indonesia Josias Simon. Menurut dia, dari sejumlah bukti yang diungkap ke publik, dugaan kuat mengarah ke tindakan bunuh diri.

“Kalau dari petunjuk bukti-bukti yang ada, sebenarnya sudah terlihat apa sebab-sebabnya. Dugaan bunuh diri itu lebih terlihat bukti-buktinya. Walau ada kemungkinan dibunuh yang dilakukan secara rapih dan terorganisir namun bukti yang yang ditunjukkan lemah,” kata Josias saat berbincang dengan Liputan6.com.

Josias meminta kepolisian dapat mengungkapnya dengan ilmiah melalui metode scientific  investigation crime (SCI). 

"Jadi kalau memang ini bunuh diri, berarti dilakukan sendiri. Tapi bagaimana bisa melilit kepala sendiri dengan lakban? Itu yang harus dijelaskan secara saintifik,” tegas Josias.

Josias berharap, kehadiran Kompolnas dalam mengawal jalannya investigasi ini mampu mengurangi keraguan publik dengan kerja-kerja yang sudah diakukan penyelidik. 

"Kompolnas terasa lebih terbuka dan jujur dibanding penyidik, yang ruang geraknya terbatas karena prosedur penyidikan. Kompolnas bisa menjelaskan dengan lebih apa adanya. Itu yang memperkuat bagaimana sebenarnya kejadian itu,” katanya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya