Terdampak Perubahan Iklim, Taliban Minta Afghanistan Dilibatkan dalam COP30

Apa saja dampak perubahan iklim yang dirasakan oleh Afghanistan? Berikut selengkapnya.

oleh Khairisa FeridaDiperbarui 29 Juli 2025, 10:35 WIB
Matiul Haq Khalis, kepala Badan Perlindungan Lingkungan Nasional Afghanistan, saat berbicara kepada para anggota media dalam KTT Iklim PBB ke-29 (COP29), Senin, 11 November 2024, di Baku, Azerbaijan. (Dok. AP/Peter Dejong, arsip)

Liputan6.com, Kabul - Pejabat lingkungan hidup tertinggi Taliban pada Senin (28/7/2025) menyerukan agar Afghanistan diikutsertakan dalam pembicaraan iklim PBB. Dia mengatakan bahwa cuaca ekstrem dan kelangkaan air memberikan dampak yang mendalam terhadap kehidupan masyarakat dan perekonomian.

Delegasi Taliban menghadiri pembicaraan iklim COP29 tahun lalu di Azerbaijan, namun hanya sebagai pengamat.

Matiul Haq Khalis, kepala Badan Perlindungan Lingkungan Nasional Afghanistan, mengatakan bahwa penghentian proyek perlindungan lingkungan setelah pengambilalihan kekuasaan oleh Taliban pada tahun 2021 telah menyebabkan kerugian besar bagi rakyat Afghanistan. Khalis mengatakan dia menginginkan keikutsertaan di Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) ke-30 (COP30), yang akan diselenggarakan di Brasil akhir tahun ini.

Rusia adalah satu-satunya negara yang mengakui pemerintahan Taliban.

"Afghanistan sangat terdampak oleh perubahan iklim," kata Khalis dalam sebuah konferensi di Kabul, seperti dilansir AP. "Kekeringan, kelangkaan air, menyusutnya lahan subur, banjir bandang, dan ancaman terhadap ketahanan pangan memberikan dampak yang mendalam terhadap kehidupan masyarakat dan perekonomian."

"Meskipun kontribusi Afghanistan terhadap perubahan iklim global nyaris tidak ada, negara ini sangat menderita akibat dampaknya. Sebagai korban perubahan iklim, Afghanistan berhak hadir di forum-forum global, terutama di COP30, untuk menyuarakan kerusakan yang telah dialaminya."

Awal bulan ini, PBB menerbitkan sebuah laporan yang menyatakan bahwa bulan Juni ditandai oleh curah hujan di bawah rata-rata dan suhu di atas rata-rata di seluruh wilayah Afghanistan.

Menurut laporan dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, hingga akhir Mei, penurunan signifikan kadar kelembaban tanah telah berdampak negatif terhadap hasil dan produktivitas gandum tadah hujan.

"Musim monsun saat ini dimulai lebih awal dari biasanya, yakni pada bulan Mei, bukan Juni atau Juli seperti biasanya, dan lebih intens dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Prakiraan menunjukkan curah hujan di atas rata-rata di banyak wilayah," bunyi laporan itu.

Di Baku pada November lalu, Khalis mengatakan kepada AP bahwa pihaknya telah menyiapkan rencana aksi nasional untuk menghadapi perubahan iklim dan akan memperbarui target-target iklim mereka.

Dia menyebut bahwa negaranya memiliki potensi besar untuk tenaga angin dan surya, namun membutuhkan dukungan internasional untuk mengembangkannya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya