Apa Benar Kondisi ADHD Bisa Dilihat Lewat Tulisan Tangan Anak?

Beberapa gangguan perkembangan yang dapat terlihat lewat tulisan adalah Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), gangguan emosional ringan, hingga gangguan menulis (disgrafia).

oleh Ade Nasihudin Al AnsoriDiterbitkan 26 Juli 2025, 14:30 WIB
Kondisi ADHD Bisa Dilihat Lewat Tulisan Tangan Anak. Foto dibuat oleh AI.

Liputan6.com, Jakarta Penulis buku Practical Handbook of Graphology, Sapta Dwikardana mengungkapkan beberapa gangguan perkembangan anak dapat diketahui dari tulisan tangannya.

Sapta mengungkapkan beberapa gangguan perkembangan yang dapat terlihat lewat tulisan adalah Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), gangguan emosional ringan, hingga gangguan menulis (disgrafia).

Untuk mengenali gangguan ini pada anak, orangtua dapat melihat beberapa tanda seperti bentuk tulisan yang tidak konsisten dan sulit dibaca.

Namun, tak cukup hanya dengan menduga tapi perlu bertemu dengan psikolog untuk mengetahui kondisi anak yang sebenarnya. Jika benar ADHD maka bisa menjalani terapi lebih lanjut. 

“Untuk mengatasi gangguan ini, dapat berkonsultasi dengan psikolog atau terapis agar dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Sapta dalam sesi Ngobrol Bareng Allianz Citizens (NgobrAZ) di momen Hari Anak Nasional, 23 Juli 2025.

Di kesempatan itu, ada berbagai metode yang bisa dilakukan dalam mengenali karakter anak, salah satunya lewat tulisan tangannya (graphology). Lewat tulisan tangan, orangtua dapat ‘membaca’ suasana hati, konsistensi emosi, dan perkembangan karakter anak dari waktu ke waktu.

“Tulisan tangan menggambarkan karakter secara jujur berdasarkan ekspresi bawah sadar seseorang. Segala bentuk emosi dapat dipantau lewat perubahan tulisan, bahkan saat anak sedang mengalami stres atau merasa berada di bawah tekanan,” jelas Sapta.

“Lebih dari itu, tulisan tangan dapat membaca cara berpikir, minat, ketakutan, konsep diri, pola hubungan, hingga produktivitas,” imbuhnya.

 

Cara Baca Karakteristik Anak Lewat Graphology

Sapta menjelaskan cara membaca karakteristik lewat graphology dapat bermacam-macam, misalnya:

  • Membaca emosi dan perasaan lewat kemiringan, bentuk, dan tekanan huruf.
  • Melihat cara berpikir lewat bentuk huruf, koneksi, kecepatan tulisan, dan proporsi dan bentuk 3 zona.
  • Mengukur produktivitas lewat margin, garis dasar, dan proporsi dan bentuk 3 zona.
  • Mengenal konsep diri lewat margin, ukuran huruf, dan kapital.
  • Memahami cara interaksi sosial lewat margin, ukuran huruf, bentuk huruf, proporsi, bentuk 3 zona, dan spasi.

Di balik lekukan garis hingga tekanan pulpen, sambung, Sapta, dapat menentukan jejak emosi, kondisi mental dan psikologis, bahkan cara belajar anak.

 

Tips Menganalisis Tulisan Tangan Anak

Guna mendalami hal ini, Sapta membagikan beberapa tips menganalisis tulisan tangan anak untuk menentukan pola asuh yang tepat, yaitu:

Pantau Emosi Anak Lewat Perubahan Tulisan

Ketika anak berada dalam tekanan emosional seperti stres atau kelelahan mental, perubahan tulisan tangan juga akan terlihat.

Ciri-ciri yang dapat ditemukan, misalnya tulisan tangan yang terlihat lebih kecil dan rapat menandakan anak tidak percaya diri, tekanan pulpen yang terlihat kuat menggambarkan ketegangan/frustrasi, atau tulisan miring yang berlebihan dan mengindikasikan emosi atau keadaan mental sang anak sedang tidak stabil, sedih, atau merasa cemas.

Selain itu, garis dasar tulisan yang turun mengindikasikan rasa pesimis, tidak memiliki motivasi dan harapan dalam hidup, merasa gagal, atau memiliki masalah fisik/emosi.

Apabila menemukan ciri-ciri tersebut, orangtua dapat secara sigap mengajak anak untuk berbicara dengan suasana santai dan melakukan kegiatan bersama tertentu seperti menggambar dan journaling bersama.

 

Buka Komunikasi dengan Anak Lewat Tulisan

Dengan tulisan, orangtua bisa membangun komunikasi emosional untuk berinteraksi dengan anaknya.

Cara ini juga bisa membantu orangtua untuk menggali keseharian dan kesukaannya terhadap hal-hal tertentu. Orangtua yang ingin memulai komunikasi dengan cara ini dapat meminta anak-anak menulis tentang hari mereka dan memberikan respons dari tulisan mereka.

Cara ini dapat membuka komunikasi dua arah dengan cara yang menarik dan dekat secara emosional.

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya