Liputan6.com, Jakarta Konsep golongan darah ala Jepang, atau yang dikenal dengan istilah Ketsueki-gata, merupakan sebuah kepercayaan populer di Jepang yang menghubungkan golongan darah seseorang dengan ciri-ciri kepribadian, temperamen, bahkan kecocokan dengan orang lain. Meskipun gagasan ini tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat, popularitasnya sangat tersebar luas dan dipercaya oleh banyak orang di Jepang, serta beberapa negara Asia lainnya.
Kepercayaan ini telah menjadi bagian dari budaya pop Jepang, hingga memengaruhi kehidupan sehari-hari. Mulai dari interaksi sosial, pemilihan pasangan romantis, hingga keputusan karier, orang Jepang seringkali bertanya “apa golongan darahmu?” sebagai cara informal untuk memprediksi kepribadian atau kecocokan seseorang, mirip dengan penggunaan astrologi di budaya Barat.
Advertisement
Meskipun populer dan telah mengakar kuat dalam masyarakat, Ketsueki-gata secara luas dianggap sebagai pseudosains oleh komunitas ilmiah. Ini adalah pemikiran yang tampaknya didasarkan pada prinsip-prinsip ilmiah, namun sebenarnya tidak berakar pada fakta atau bukti empiris yang valid dan teruji. Simak ulasan lengkapnya sebagai berikut seperti Liputan6.com rangkum, Sabtu (26/7/2025).
Asal-usul Ketsueki-gata dan Kebangkitannya
Asal-usul konsep Ketsueki-gata dapat ditelusuri kembali ke tahun 1930, ketika Profesor Tokeji Furukawa dari Jepang menerbitkan laporan berjudul "A Study of Temperament and Blood-Groups" dalam Journal of Social Psychology. Dalam makalahnya, Furukawa berpendapat bahwa ada hubungan antara kepribadian dan golongan darah, membandingkan upayanya ini dengan klasifikasi temperamen oleh dokter Yunani kuno Hippocrates.
Namun, penelitian awal Furukawa ini dikritik karena terlalu mengandalkan kuesioner dan tidak memberikan bukti empiris yang kuat. Akibatnya, popularitas teori ini sempat memudar hanya enam tahun setelah publikasinya, dan banyak peneliti lain mulai menentang klaimnya yang dianggap kurang valid.
Konsep Ketsueki-gata kemudian mengalami kebangkitan popularitas pada tahun 1970-an, terutama melalui tulisan-tulisan jurnalis Masahiko Nomi. Buku-buku Nomi yang membahas kepribadian berdasarkan golongan darah menjadi bestseller, dan meskipun ada kritik dari psikolog, popularitas konsep ini justru semakin meluas di Jepang hingga saat ini.
Ciri Kepribadian Berdasarkan Golongan Darah
Menurut teori Ketsueki-gata, setiap golongan darah dikaitkan dengan serangkaian ciri kepribadian yang khas dan berbeda satu sama lain. Pemahaman ini sering digunakan untuk menilai karakter seseorang dalam interaksi sosial.
Golongan darah A
Sering digambarkan sebagai sosok yang terorganisir, rapi, dan bertanggung jawab. Mereka dikenal kreatif, cerdas, dan mampu bekerja sama dengan baik, namun juga cenderung keras kepala, mudah tegang, dan cemas.
Golongan darah B
Dikatakan memiliki kepribadian yang kuat, bersemangat, dan penuh empati. Mereka mandiri, kreatif, dan suka kebebasan, namun juga bisa dianggap egois, tidak stabil, atau kurang peka terhadap perasaan orang lain.
Golongan darah O
Sering digambarkan sebagai optimis (rakkanshugi), percaya diri, gigih, dan memiliki intuisi yang kuat. Mereka ramah, memiliki kemampuan kepemimpinan, dan mampu mengatur suasana hati sekelompok orang, namun juga bisa dianggap egois dan tidak stabil.
Golongan darah AB
Merupakan gabungan dari sifat A dan B, sehingga individu ini dikenal artistik, rasional, berbakat, dan supel. Mereka juga bisa kritis, bimbang, pelupa, tidak bertanggung jawab, pemalu, namun juga dapat dipercaya dan populer.
Pengaruh Budaya dan Kontroversi Ketsueki-gata
Popularitas Ketsueki-gata di Jepang telah menyebabkan penerapannya dalam berbagai aspek kehidupan. Beberapa perusahaan di Jepang bahkan pernah menggunakan golongan darah sebagai salah satu kriteria perekrutan karyawan, meskipun praktik ini kini mulai ditinggalkan karena dianggap diskriminatif. Dalam hal asmara, biro jodoh sering menawarkan jasa untuk memprediksi kecocokan pasangan berdasarkan golongan darah, dan anak muda di Jepang kerap bertukar informasi golongan darah saat kencan pertama.
Namun, kepercayaan ini juga menimbulkan diskriminasi, yang dikenal sebagai bura-hara (pelecehan golongan darah). Orang dengan golongan darah B, misalnya, sering dicap egois dan sulit diajak bekerja sama, yang dapat memengaruhi pandangan masyarakat terhadap mereka. Diskriminasi ini cukup memengaruhi kehidupan sosial dan tekanan di dunia kerja, menciptakan stereotip yang tidak adil.
Meskipun memiliki pengaruh budaya yang signifikan, komunitas ilmiah dan akademik menganggap kepercayaan golongan darah ini sebagai takhayul belaka atau ilmu semu karena tidak memiliki dasar bukti yang kuat. Penelitian ilmiah yang dilakukan untuk mencari korelasi antara golongan darah dan kepribadian secara konsisten menyimpulkan bahwa tidak ada kaitan menonjol antara keduanya, dan bahwa hubungan yang dirasakan mungkin merupakan efek self-fulfilling prophecy atau efek Barnum.
FAQ
1. Apa itu Ketsueki-gata?
Jawaban: Ketsueki-gata adalah kepercayaan populer di Jepang yang mengaitkan golongan darah seseorang dengan ciri-ciri kepribadian, temperamen, dan kecocokan dengan orang lain, meskipun tanpa dasar ilmiah.
2. Bagaimana asal-usul konsep golongan darah ala Jepang?
Jawaban: Konsep ini berasal dari penelitian Profesor Tokeji Furukawa pada tahun 1930 yang menghubungkan kepribadian dan golongan darah, kemudian populer kembali pada tahun 1970-an berkat jurnalis Masahiko Nomi.
3. Apa saja ciri kepribadian golongan darah A, B, O, dan AB menurut Ketsueki-gata?
Jawaban: Golongan A: terorganisir, bertanggung jawab; B: kuat, mandiri; O: optimis, pemimpin; AB: artistik, rasional, supel.
4. Apakah Ketsueki-gata memiliki dasar ilmiah?
Jawaban: Tidak, Ketsueki-gata secara luas dianggap sebagai pseudosains oleh komunitas ilmiah karena tidak memiliki bukti empiris yang kuat dan konsisten.
5. Apa dampak negatif dari kepercayaan golongan darah ala Jepang?
Jawaban: Dampak negatifnya termasuk diskriminasi atau 'bura-hara', di mana individu dapat dinilai atau diperlakukan berdasarkan stereotip golongan darah mereka.