Liputan6.com, Jakarta Kabar mengenai kondisi kesehatan Jaja Miharja, yang kini mengalami pembengkakan pada kaki dan memerlukan penggunaan penyangga (brace), menarik perhatian publik. Putrinya menyebutkan bahwa kondisi ini disebabkan oleh “arteri kendur”, sebuah istilah yang mungkin terdengar awam namun mengindikasikan adanya masalah serius pada pembuluh darah. Kondisi ini diperkirakan merupakan efek jangka panjang dari kebiasaan Jaja Miharja yang sering berdiri dalam waktu lama selama aktif berkarier di dunia hiburan.
Dalam dunia medis, “arteri kendur” bukanlah diagnosis formal, melainkan deskripsi umum untuk pembuluh darah arteri yang telah kehilangan kekenyalan atau integritasnya. Kondisi ini dapat merujuk pada beberapa penyakit arteri yang umum terjadi pada usia lanjut, seperti arteriosklerosis, aterosklerosis, penyakit arteri perifer (PAD), atau bahkan aneurisma. Semua kondisi ini berpotensi memengaruhi aliran darah dan menimbulkan berbagai gejala yang mengganggu kualitas hidup.
Advertisement
Memahami lebih dalam tentang apa itu “arteri kendur” dalam konteks medis, penyebabnya, gejala yang mungkin timbul, serta penanganan yang umum dilakukan, menjadi krusial. Terlebih, penanganan pada usia lanjut seperti Jaja Miharja memerlukan pendekatan khusus mengingat faktor penuaan dan kemungkinan adanya penyakit penyerta lainnya. Berikut ulasannya.
Apa Itu "Arteri Kendur" dalam Konteks Medis?
Istilah “arteri kendur” yang dikaitkan dengan kondisi Jaja Miharja kemungkinan menggambarkan penurunan elastisitas atau pengerasan pembuluh darah arteri di kaki. Salah satu kondisi medis yang sesuai adalah arteriosklerosis, yakni pengerasan dan penebalan arteri akibat penumpukan plak. Menurut Mayo Clinic (2023), arteriosklerosis membuat arteri kehilangan fleksibilitas dan membatasi aliran darah ke organ serta jaringan tubuh.
Jenis spesifik dari kondisi ini adalah aterosklerosis, di mana terjadi penumpukan lemak (plak) yang menyumbat arteri dan menyempitkan aliran darah. Plak ini terdiri dari kolesterol, kalsium, dan zat lainnya. Menurut American Heart Association (2022), aterosklerosis dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, serta penyakit arteri perifer (PAD) karena aliran darah yang terganggu. Gejala seperti kaki bengkak atau nyeri yang dialami Jaja Miharja cocok dengan PAD, yang umum terjadi pada tungkai.
Selain itu, ada kemungkinan bahwa “arteri kendur” merujuk pada aneurisma perifer, yaitu pelebaran abnormal arteri akibat dinding pembuluh yang melemah. Aneurisma bisa terjadi di arteri poplitea (belakang lutut) atau femoralis dan menimbulkan gejala seperti bengkak, nyeri, atau denyutan. Meski lebih sering ditemukan di otak atau aorta, aneurisma pada kaki tetap berbahaya dan memerlukan penanganan medis yang serius.
Penyebab Kondisi “Arteri Kendur” (Arteri yang Melemah atau Kehilangan Elastisitas)
Meskipun istilah “arteri kendur” bukanlah istilah medis formal, kondisi ini kemungkinan besar mengacu pada penurunan elastisitas dan kekuatan dinding arteri, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor medis serius. Berikut beberapa penyebab utamanya:
1. Penuaan (Aging)
Seiring bertambahnya usia, arteri secara alami kehilangan elastisitasnya dan menjadi lebih kaku. Menurut Mitchell et al. dalam jurnal Circulation Research, penuaan menyebabkan perubahan struktural dan fungsional pada pembuluh darah, termasuk penebalan dinding arteri dan penurunan elastisitas.
2. Aterosklerosis
Aterosklerosis menyebabkan plak menumpuk di dinding arteri, sehingga mengurangi fleksibilitas dan mempersempit lumen pembuluh darah. Menurut American Heart Association (2022), aterosklerosis merupakan penyebab utama dari pengerasan dan penyempitan arteri.
3. Hipertensi Kronis
Tekanan darah tinggi yang berlangsung lama memberikan tekanan konstan pada dinding arteri, mempercepat kerusakan elastin dan kolagen. Menurut Journal of Hypertension, tekanan darah tinggi berkontribusi terhadap remodeling vaskular dan penurunan kepadatan elastisitas arteri.
4. Diabetes Mellitus
Gula darah tinggi merusak endotelium (lapisan dalam pembuluh darah) dan mempercepat proses aterosklerosis. Menurut Mayo Clinic (2023), diabetes meningkatkan risiko kerusakan dinding arteri dan mempercepat hilangnya elastisitas arteri.
5. Peradangan Kronis dan Stres Oksidatif
Inflamasi kronis dan radikal bebas dapat merusak jaringan elastik pada dinding arteri. Menurut Libby et al. dalam Nature, peradangan memainkan peran penting dalam semua tahap aterosklerosis dan kerusakan arteri.
6. Aneurisma
Dalam beberapa kasus, arteri yang melebar atau “kendur” bisa disebabkan oleh aneurisma, yaitu pelebaran abnormal akibat kelemahan lokal pada dinding arteri. Menurut Cleveland Clinic (2023), aneurisma sering kali disebabkan oleh kombinasi antara aterosklerosis, tekanan darah tinggi, dan faktor genetik.
Gejala yang Mungkin Timbul
Berikut penjelasan tentang gejala yang mungkin timbul akibat kondisi “arteri kendur” (yang secara medis dapat dikaitkan dengan penurunan elastisitas arteri, aterosklerosis, atau aneurisma):
1. Kaki Bengkak dan Berat saat Berjalan (Peripheral Artery Disease – PAD)
Jika arteri di tungkai melemah atau menyempit, maka aliran darah ke otot kaki terganggu.
- Gejala: nyeri saat berjalan (claudication), kaki terasa dingin, lemah, kram, bengkak, atau luka yang sulit sembuh.
- Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI), PAD menyebabkan aliran darah tidak cukup ke ekstremitas bawah, yang menimbulkan rasa berat, kram, dan bengkak pada kaki.
2. Nyeri atau Tekanan di Dada (Angina)
Jika arteri koroner kehilangan elastisitas atau menyempit, jantung tidak mendapatkan cukup oksigen saat beraktivitas.
- Menurut Mayo Clinic (2023), aterosklerosis pada arteri koroner dapat menimbulkan nyeri dada atau angina, terutama saat stres atau aktivitas fisik.
3. Kelelahan dan Kelemahan Otot
Gangguan aliran darah membuat jaringan tubuh kekurangan oksigen dan nutrisi, terutama di kaki atau tangan.
- Menurut Cleveland Clinic (2023), gejala umum dari gangguan arteri perifer termasuk kelelahan ekstrem dan otot terasa lemah saat beraktivitas fisik.
4. Perubahan Warna Kulit (Pucat, Kebiruan)
Aliran darah yang tidak lancar dapat menyebabkan bagian tubuh seperti jari kaki atau kaki menjadi pucat atau kebiruan (sianosis).
- Menurut American Heart Association, kondisi seperti ini umum terjadi pada PAD dan merupakan tanda bahwa jaringan tidak mendapat cukup oksigen.
5. Denyutan Tidak Normal atau Benjolan (Aneurisma)
Jika “arteri kendur” mengacu pada aneurisma, dapat muncul benjolan berdenyut di area tertentu (biasanya di perut, paha, atau belakang lutut).
- Aneurisma perifer dapat menyebabkan pembengkakan, sensasi berdenyut, atau nyeri di area yang terkena, bahkan tanpa gejala sampai pecah.
6. Luka Sulit Sembuh atau Infeksi Kaki
Ketika suplai darah buruk, tubuh kesulitan dalam menyembuhkan luka, terutama di kaki.
- Menurut Journal of Vascular Surgery, gangguan arteri perifer meningkatkan risiko ulkus (luka terbuka) dan amputasi jika tidak ditangani.
Penanganan Medis yang Umum Dilakukan
Penanganan tergantung pada penyebab spesifik dan tingkat keparahan kondisi. Umumnya bertujuan untuk mengembalikan aliran darah, mencegah komplikasi, dan memperlambat perkembangan penyakit:
1. Perubahan Gaya Hidup (Lifestyle Modification)
Langkah pertama yang penting dalam menangani gangguan arteri seperti aterosklerosis atau penyakit arteri perifer adalah melakukan perubahan gaya hidup. Hal ini mencakup berhenti merokok, mengadopsi pola makan sehat rendah lemak jenuh dan kolesterol, serta membatasi konsumsi garam dan gula. Olahraga rutin seperti berjalan kaki atau bersepeda sangat dianjurkan karena dapat meningkatkan sirkulasi darah dan mengurangi gejala seperti kaki nyeri atau cepat lelah. Selain itu, menjaga berat badan ideal dan mengelola stres juga berperan besar dalam mencegah progresivitas penyakit.
Menurut American Heart Association (2022), perubahan gaya hidup tidak hanya memperlambat laju penyempitan arteri, tetapi juga dapat memperbaiki fungsi pembuluh darah dan menurunkan risiko serangan jantung dan stroke. Studi menunjukkan bahwa pasien yang konsisten menerapkan gaya hidup sehat mengalami perbaikan signifikan pada gejala PAD dan penurunan kebutuhan akan tindakan medis invasif seperti operasi bypass atau angioplasti.
2. Pengobatan Farmakologis (Obat-obatan)
Obat-obatan menjadi terapi utama untuk mengontrol gejala dan mencegah komplikasi pada kondisi arteri yang melemah atau menyempit. Jenis obat yang umum diberikan meliputi statin untuk menurunkan kolesterol, antihipertensi untuk mengontrol tekanan darah, serta antiplatelet seperti aspirin atau clopidogrel untuk mencegah penggumpalan darah yang bisa memicu serangan jantung atau stroke. Beberapa pasien dengan diabetes juga diberikan obat untuk menjaga kadar gula tetap stabil, karena hiperglikemia mempercepat kerusakan dinding arteri.
Mayo Clinic (2023) menekankan bahwa statin berperan penting dalam menstabilkan plak aterosklerotik yang sudah terbentuk di arteri serta menurunkan risiko komplikasi kardiovaskular. Obat-obatan ini tidak menghilangkan plak, tetapi memperlambat proses penumpukannya dan meningkatkan elastisitas pembuluh darah secara bertahap. Terapi farmakologis harus dikombinasikan dengan pengawasan dokter dan gaya hidup sehat untuk mencapai hasil maksimal.
3. Terapi Endovaskular (Minimally Invasive Procedures)
Terapi endovaskular seperti angioplasti dan pemasangan stent biasanya dilakukan pada pasien dengan penyempitan arteri yang signifikan, terutama jika gejalanya mengganggu aktivitas harian. Dalam prosedur ini, balon kecil dimasukkan melalui kateter dan dikembangkan di dalam arteri untuk membuka sumbatan, lalu dipasang stent agar arteri tetap terbuka. Prosedur ini tergolong minim invasif dan sering dilakukan tanpa perlu operasi besar, serta memiliki waktu pemulihan yang relatif singkat.
Cleveland Clinic (2023) menjelaskan bahwa angioplasti sangat efektif dalam mengatasi gangguan sirkulasi akibat PAD atau aterosklerosis. Keuntungan dari prosedur ini adalah mengurangi gejala nyeri saat berjalan, mempercepat penyembuhan luka di kaki, serta menurunkan risiko amputasi pada pasien yang mengalami komplikasi serius. Meskipun begitu, terapi ini tetap memerlukan perubahan gaya hidup dan obat-obatan untuk mencegah penyempitan ulang.
4. Operasi Bypass Arteri
Jika penyempitan atau kerusakan arteri sudah terlalu parah dan tidak membaik dengan obat atau angioplasti, maka operasi bypass arteri bisa menjadi pilihan. Dalam prosedur ini, dokter akan mengambil pembuluh darah dari bagian tubuh lain, seperti kaki atau lengan, lalu mencangkokkannya untuk melewati bagian arteri yang tersumbat. Tujuannya adalah membuat jalur baru bagi darah agar dapat mengalir ke jaringan yang kekurangan suplai oksigen.
Journal of Vascular Surgery (2007) menyebutkan bahwa bypass arteri banyak digunakan untuk kasus penyakit arteri perifer lanjut, terutama jika pasien mengalami luka yang sulit sembuh atau nyeri yang menetap meski dalam kondisi istirahat. Operasi ini tergolong lebih invasif, namun bisa sangat efektif dalam mengembalikan aliran darah normal dan mencegah amputasi. Hasil jangka panjang akan lebih baik jika pasien juga menerapkan kontrol ketat terhadap kolesterol, gula darah, dan tekanan darah.
5. Penanganan Aneurisma
Jika “arteri kendur” yang dimaksud merujuk pada aneurisma, maka strategi pengobatannya berbeda dan bergantung pada ukuran serta lokasi aneurisma. Untuk aneurisma kecil yang tidak menimbulkan gejala, pemantauan rutin melalui USG atau CT-scan dilakukan secara berkala. Namun, bila aneurisma membesar, terasa nyeri, atau menunjukkan tanda-tanda akan pecah, maka tindakan medis segera diperlukan.
Johns Hopkins Medicine (2023) menjelaskan bahwa endovascular aneurysm repair (EVAR) adalah prosedur umum yang digunakan untuk menguatkan area pembuluh darah yang melemah menggunakan graft sintetis. Jika EVAR tidak memungkinkan, dokter mungkin melakukan operasi terbuka untuk mengganti bagian arteri yang rusak. Penanganan tepat waktu penting karena pecahnya aneurisma, terutama pada aorta atau arteri besar lainnya, dapat menyebabkan perdarahan hebat yang berakibat fatal.
People Also Ask
1. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “arteri kendur”?
Istilah ini merujuk pada kondisi arteri yang melemah atau kehilangan elastisitas, bukan istilah medis resmi. Bisa disebabkan oleh aterosklerosis, arteriosklerosis, atau aneurisma.
2. Apa saja gejala umum yang menandakan adanya gangguan arteri di kaki?
Gejalanya meliputi nyeri saat berjalan (claudication), kaki bengkak, pucat, atau luka yang sulit sembuh. Terkadang terasa dingin atau mati rasa.
3. Apakah kondisi ini bisa disembuhkan sepenuhnya?
Tidak bisa disembuhkan total, tapi bisa dikendalikan dengan pengobatan, perubahan gaya hidup, dan prosedur medis. Penanganan dini sangat penting.
4. Siapa saja yang berisiko mengalami kondisi ini?
Orang dengan usia lanjut, perokok, penderita diabetes, hipertensi, atau kolesterol tinggi lebih berisiko. Gaya hidup tidak sehat juga berperan.
5. Kapan harus ke dokter jika mengalami gejala?
Segera periksa jika mengalami nyeri saat berjalan, kaki bengkak, atau luka yang tak kunjung sembuh. Gejala ini bisa menandakan penyakit arteri serius.