Jadi Diri Sendiri Tak Selalu Relevan, Orang Sukses Justru Melakukan Ini

Ungkapan "jadilah diri sendiri” tidak selalu tepat. Keaslian bisa berdampak negatif jika tidak disertai kesadaran dan tanggung jawab

oleh Linda Maulina KhairunnisaDiterbitkan 25 Juli 2025, 07:00 WIB
Ilustrasi membaca buku, teks biografi diri sendiri. (Photo Copyright by Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Di berbagai tempat, mulai dari ruang kelas hingga ruang rapat, kita sering mendengar nasihat yang sama: “Jadilah dirimu sendiri.

Keaslian dianggap sebagai kunci untuk membangun koneksi, meraih kesuksesan karier, dan menjalani hidup yang bermakna. Di tengah kemajuan teknologi seperti terapis berbasis Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dan barista robot, sisi kemanusiaan justru menjadi aset paling berharga.

Namun, nasihat itu justru menyesatkan.

Sebagai psikoterapis berlisensi, penulis buku The Science of Stuck dan Align Your Mind, serta pembicara utama perusahaan, Britt Frank kerap menyaksikan bagaimana orang bingung memahami apa sebenarnya arti dari menjadi autentik, dilansir dari CNBC Make It, Jumat, 253/7/2025).

Faktanya, tekanan untuk selalu tampil “apa adanya” justru kerap membawa lebih banyak dampak negatif daripada manfaat.

Mengapa Keaslian Sering Kali Diromantisasi

Kalimat “jadilah dirimu sendiri” memang terdengar menginspirasi, tetapi jika ditelaah lebih dalam, nasihat ini tidak selalu relevan dalam semua situasi. Bahkan, dalam sejumlah kondisi, pesan tersebut justru cenderung menyederhanakan kompleksitas kehidupan. Berikut beberapa alasannya:

Kita Bukan Satu-Satunya Versi Diri

Setiap orang memiliki beragam sisi dalam diri sendiri, hal yang bisa dirasakan siapa saja yang pernah mengalami konflik batin. Misalnya, satu bagian dari dirimu mungkin semangat untuk pergi ke gym, tapi sisi lainnya hanya ingin rebahan dan menonton serial favorit.

Mengalami kontradiksi semacam ini bukan tanda kemunafikan, melainkan bagian dari menjadi manusia. Ingat kembali saat terakhir kamu ragu mengambil keputusan: mungkin kamu ingin menyampaikan pendapat di rapat, tapi pada saat yang sama takut dinilai orang lain. Perdebatan batin itu menandakan pikiran kita adalah ekosistem yang kompleks, terdiri dari beragam dorongan, emosi, dan keinginan, bukan satu identitas tetap yang konsisten.

 

Bisa Berubah

Sebelum menerapkan gaya hidup sehat, cobalah pertimbangkan hal-hal penting seperti tujuan serta pencapaian yang ingin kamu capai (Foto: Unsplash.com/Himiway Bikes)

Siapa Dirimu Bisa Berubah, Tergantung Kondisi yang Sedang Dihadapi

Versi diri kita tidak selalu konsisten dan sangat dipengaruhi oleh kondisi tubuh maupun mental. Sistem saraf memainkan peran besar dalam membentuk reaksi dan perilaku kita, lebih besar dari yang sering kita sadari. Misalnya, kamu akan bertindak sangat berbeda saat merasa segar dan berenergi dibandingkan ketika tubuhmu kelelahan.

Dalam keadaan stres atau cemas, bisa saja Anda tiba-tiba membentak teman, meski biasanya Anda bukan tipe orang seperti itu.

Respons tersebut mungkin bukan cerminan dari dirimu dalam kondisi ideal, tapi tetap saja, itu adalah bagian dari dirimu yang muncul di situasi tertentu. Versi diri kita bisa berubah tergantung konteks, dan itu adalah hal yang sangat manusiawi.

Menggunakan “Keaslian” Sebagai Alasan Bisa Jadi Berbahaya

Mengatakan “Saya hanya menjadi diri sendiri” sering kali dijadikan dalih untuk bersikap kasar atau menyakiti orang lain. Padahal, meski semua perasaan itu valid, tidak semua perilaku bisa dibenarkan. Keaslian bukan berarti bebas bertindak tanpa memikirkan dampaknya pada orang lain.

Misalnya, menyampaikan kritik dengan cara yang menyakitkan atas nama kejujuran justru bisa merusak kepercayaan dan memperkeruh hubungan. Itulah sebabnya penting untuk mengelola emosi dan menyeimbangkan antara bersikap jujur dan tetap peka terhadap perasaan orang lain, baik dalam relasi pribadi maupun profesional.

 

Apa yang Bisa Dilakukan Sebagai Gantinya?

Wanita dengan financial independence yang baik dapat merasakan kebebasan dalam mengelola keuangan mereka (Foto: Unsplash.com/Icons8 Team)

Daripada terus mengejar keaslian yang belum tentu kontekstual, pendekatan yang lebih bijak adalah memimpin diri sendiri. Artinya, kita perlu menyadari diri sendiri terdiri dari berbagai sisi, mulai dari yang pemarah, penyayang, kolaboratif, hingga egois.

Memimpin diri sendiri berarti memilih secara sadar sisi mana yang ingin ditampilkan dalam situasi tertentu. Dengan cara ini, kita tidak hanya bereaksi secara impulsif terhadap stres atau tekanan, tetapi mampu meresponsnya dengan tenang dan terarah. Hasilnya, kita bisa tetap otentik tanpa mengorbankan hubungan atau nilai-nilai yang lebih besar.

Berikut adalah empat cara untuk mempraktikkan kepemimpinan diri:

Fokus pada Keberagaman Diri, Bukan Satu Identitas Tunggal

Anggapan kita hanya punya satu “diri autentik” terlalu menyederhanakan kompleksitas manusia. Memaksakan satu versi diri mungkin terasa aman, tapi sering kali justru menjadi batas yang menghambat pertumbuhan. Dengan mengenali diri kita terdiri dari banyak sisi yang bisa muncul berbeda tergantung situasi, kita belajar menjadi lebih fleksibel dan adaptif dalam menghadapi berbagai keadaan hidup.

Akui Diri Anda Tidak Hanya Satu

Memercayai ada satu versi “diri autentik” yang sejati justru menyederhanakan kompleksitas batin manusia.              Kenyataannya, kita memiliki banyak sisi diri yang bisa muncul bergantian sesuai konteks.

Terlalu terpaku pada satu identitas bisa terasa aman, tapi kerap menghambat perkembangan. Dengan menyadari keberagaman dalam diri, Anda belajar menyesuaikan respons dan perilaku secara bijak sesuai situasi yang dihadapi.

 

Pahami Diri Anda Bersifat Beragam, Bukan Tunggal

Ilustrasi wanita berkelas, tangguh. (Photo by Aleksandar Andreev on Unsplash)  

Konsep tentang satu “diri sejati” sering kali menyederhanakan kompleksitas manusia. Kenyataannya, kita semua memiliki beragam sisi dalam diri dan itu wajar. Terlalu melekat pada satu versi diri bisa terasa aman, tapi juga bisa membatasi pertumbuhan.

Dengan mengenali Anda memiliki berbagai sisi yang bisa muncul dalam situasi berbeda, Anda akan lebih fleksibel, sadar, dan mampu beradaptasi secara sehat dalam setiap dinamika kehidupan.

Utamakan Keselarasan, Bukan Sekadar Keaslian

Daripada sibuk mencari siapa diri Anda yang “paling asli,” cobalah membangun hubungan yang harmonis antar berbagai sisi dalam diri Anda. Bayangkan semua bagian diri yang ambisius, yang cemas, yang lembut, yang tegas duduk bersama di satu meja rapat. Saat Anda bisa mendengarkan dan memahami semuanya, Anda akan lebih mampu bertindak secara utuh dan selaras dengan nilai-nilai pribadi Anda.

 

Dahulukan Kesadaran Diri daripada Ekspresi Diri

Ilustrasi menulis, kreatif, musik, bahagia, wanita. (Freepik)

Menjadi autentik bukan berarti harus selalu mengungkapkan semua pikiran atau perasaan secara blak-blakan. Lebih penting untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri Anda, apa yang dirasakan oleh tiap sisi diri Anda lalu dengan sadar memilih respons yang paling bijak. Keaslian tanpa kesadaran bisa berubah jadi impulsif.

Utamakan Tanggung Jawab daripada Ketulusan Mentah

Mengungkapkan emosi atau “kebenaran” secara langsung memang terasa jujur, tapi belum tentu bijak. Ketulusan tanpa pertimbangan bisa melukai dan merusak relasi. Bertanggung jawab berarti Anda menyadari dampak dari ekspresi diri Anda, lalu memilih waktu dan cara terbaik untuk menunjukkan siapa diri Anda—dengan tujuan membangun, bukan menjatuhkan.

Meskipun ungkapan “jadilah diri sendiri” awalnya mungkin datang dari niat baik para pengasuh yang tulus, nasihat ini sering kali terasa tidak cukup relevan ketika dihadapkan pada kompleksitas kehidupan nyata sehari-hari.

 

Infografis Efek Donald Trump Menang Pilpres AS ke Perekonomian Global. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya