190 Kecelakaan Laut di Indonesia dalam 10 Tahun, Korban Capai 787 Jiwa

Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyoroti serangkaian kecelakaan kapal laut yang terjadi dalam sebulan terakhir. Semisal kebakaran KM Barcelona V-A di Minahasa, kapal terbalik di perairan Sipora (Mentawai), hingga tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali.

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 23 Juli 2025, 11:00 WIB
Kapal Motor Barcelona 5 terbakar di perairan Pulau Talise, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Para korban kebakaran KM Barcelona 5 tersebut pun dievakuasi ke Pulau Gangga II, pulau berpenghuni yang juga berada di Kecamatan Likupang Barat. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menyoroti serangkaian kecelakaan kapal laut yang terjadi dalam sebulan terakhir. Semisal kebakaran KM Barcelona V-A di Minahasa, kapal terbalik di perairan Sipora (Mentawai), hingga tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali.

Rentetan kejadian ini disinyalir jadi alarm keras atas kegagalan sistem keselamatan pelayaran nasional. Ketua Forum Transportasi Maritim MTI Hafida Fahmiasari menyatakan, rangkaian peristiwa itu bukan sekadar kejadian tunggal, melainkan cerminan dari pola kegagalan sistemik yang telah berlangsung lama.

Hafida menyoroti bahwa masalahnya bukan pada kurangnya regulasi, melainkan pada implementasi di lapangan dan akuntabilitas.

"Tragedi seperti ini terus berulang karena sistem tidak belajar, dan tidak ada efek jera bagi pelanggar keselamatan," tegasnya dalam pernyataan tertulis, Rabu (23/7/2025).

"Yang dibutuhkan bukan teknologi mutakhir. Yang kita butuhkan adalah rasa kemanusiaan. Bahwa setiap orang yang naik kapal berhak pulang dengan selamat. Bahwa nyawa tidak boleh menjadi harga yang kita anggap wajar demi konektivitas" seru dia.

Data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebutkan, lebih dari 190 kecelakaan laut besar terjadi di Indonesia antara tahun 2015 hingga 2025, menelan lebih dari 787 korban jiwa.

 

Kapal Tua Hingga Kelebihan Muatan

Kebakaran kapal KM Barcelona 5 yang terjadi di Perairan Talise, Likupang. (Dok. Tangkapan Layar Media Sosial @alexjourneys_)

Pola berulang dalam kasus-kasus ini mencakup kondisi kapal tua, kelebihan muatan, manifes yang tidak akurat, minimnya alat dan penerapan SOP keselamatan, dan lemahnya pengawasan di titik keberangkatan.

MTI mengidentifikasi beberapa akar masalah utama, termasuk fragmentasi pengawasan antar lembaga (Kemenhub, Syahbandar, operator, pemerintah daerah), ketiadaan inspeksi berbasis risiko untuk kapal penumpang, tidak berfungsinya sistem manifes dan komunikasi darurat secara optimal, serta minimnya penegakan hukum terhadap pelanggaran keselamatan.

 

5 Langkah Prioritas

Kapal Motor (KM) Barcelona VA Rute Talaud-Manado mengalami kebakaran di perairan Talise, Minggu (20/7/2025). (Foto: tangkapan layar video dari Koarmada)

Menanggapi kondisi ini, MTI mendesak lima langkah prioritas:

1. Audit teknis menyeluruh terhadap seluruh armada kapal penumpang, terutama kapal tua.

2. Digitalisasi manifes dan pelacakan kapal secara real-time.

3. Peningkatan kapasitas dan sertifikasi awak kapal.

4. Penegakan sanksi tegas terhadap pelanggaran keselamatan.

5. Reformasi tarif dan subsidi agar operator mampu memenuhi standar keselamatan tanpa mengorbankan layanan publik.

6. Kepastian kelayakan sarana untuk berlayar

7. Pembentukan sistem penguatan dan pemeliharaan kapasitas SDM, mengingat banyak regulasi yang belum dilaksanakan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya