Harga Minyak Dunia Tertekan, Pasar Dibayangi Risiko Perang Dagang dan Kelebihan Pasokan

Harga minyak dunia terus melemah dipicu kekhawatiran perang dagang AS-Uni Eropa, berakhirnya gencatan senjata di Timur Tengah, dan meningkatnya pasokan global. Pasar bergerak dalam tekanan teknikal dan fundamental yang semakin kuat.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 22 Juli 2025, 12:00 WIB
Tren bearish untuk WTI saat ini semakin menguat. Harga bergerak di bawah garis rata-rata (moving average) 20 dan 50 harian, yang menjadi sinyal dominasi tekanan jual. Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah global kembali melemah di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap prospek permintaan energi dan ketidakpastian geopolitik. Analis Dupoin Futures Indonesia, Andy Nugraha, menyebut sentimen negatif yang mendominasi pasar saat ini menjadi pendorong utama tren penurunan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) yang kembali memasuki zona bearish.

Pada perdagangan Senin (21/7/2025), harga WTI tercatat turun 14 sen atau 0,2% ke level USD 67,20 per barel. Penurunan ini berlanjut pada Selasa pagi (22/7/2025), ketika harga bergerak ke USD 66,99 per barel atau melemah 0,31%. Sementara kontrak pengiriman aktif untuk September jatuh ke $65,72 per barel, terkoreksi 23 sen dari sesi sebelumnya.

Tekanan Datang dari Banyak Arah

Penurunan harga minyak ini didorong oleh kombinasi faktor geopolitik dan fundamental pasar. Meski Uni Eropa baru-baru ini menerapkan sanksi tambahan terhadap minyak Rusia, dampaknya dinilai minim terhadap pasokan global. Di saat yang sama, tensi perdagangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa meningkat, memunculkan kekhawatiran akan perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang bisa menekan permintaan energi.

Pemerintah AS mengancam akan menerapkan tarif hingga 30% terhadap produk impor dari Uni Eropa jika tidak ada kesepakatan perdagangan sebelum 1 Agustus mendatang. Uni Eropa pun dikabarkan tengah menyiapkan respons balasan yang bisa memicu eskalasi lebih lanjut.

Selain itu, pasar juga bereaksi terhadap berakhirnya gencatan senjata antara Israel dan Iran yang diumumkan 24 Juni lalu. Selama periode gencatan, kekhawatiran atas gangguan pasokan dari Timur Tengah sempat mereda. Kini, fokus pasar kembali tertuju pada peningkatan pasokan global.

Data terbaru dari Joint Organizations Data Initiative (JODI) menunjukkan bahwa ekspor minyak mentah Arab Saudi pada Mei mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Lonjakan ekspor ini memperburuk tekanan yang sudah ada akibat melemahnya permintaan.

Analisis Teknikal: WTI di Bawah Tekanan

Ilustrasi harga minyak dunia (dok: Foto AI)

Secara teknikal, Andy Nugraha menilai bahwa tren bearish untuk WTI saat ini semakin menguat. Harga bergerak di bawah garis rata-rata (moving average) 20 dan 50 harian, yang menjadi sinyal dominasi tekanan jual.

“Jika tekanan ini berlanjut, harga WTI berpotensi menguji level support di kisaran $64 per barel,” ujar Andy. Sebaliknya, bila terjadi rebound teknikal, WTI bisa mengarah ke resistance terdekat di sekitar $65,50 per barel sebelum menentukan arah berikutnya.

Walaupun pelemahan dolar AS sempat memberikan sedikit dukungan terhadap harga minyak karena membuatnya lebih murah bagi pembeli global, sentimen ini belum cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan saat ini.

 

Waspadai Volatilitas dan Sentimen Global

Ilustrasi harga minyak dunia hari ini (Foto By AI)

Andy memperingatkan bahwa kondisi pasar saat ini sangat sensitif terhadap perkembangan isu global, khususnya terkait kebijakan perdagangan dan data pasokan dari negara produsen utama. Ketidakpastian yang tinggi membuat pasar cenderung reaktif terhadap pernyataan dan kebijakan baru.

"Pelaku pasar harus meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat strategi manajemen risiko. Pemahaman terhadap dinamika fundamental dan sentimen pasar sangat penting dalam kondisi yang fluktuatif seperti sekarang," tegas Andy.

Untuk sementara waktu, pasar minyak diperkirakan akan bergerak sideways, menunggu katalis yang lebih kuat untuk menentukan arah tren selanjutnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya