Liputan6.com, Jakarta - Akuisisi besar-besaran tampaknya masih sulit di Jepang. Hal ini setelah peritel Kanada Alimentation Couche-Tard pada Kamis, 17 Juli 2025 menarik tawaran senilai USD 46 miliar untuk membeli pemilik 7-Eleven yakni Seven & I Holdings, peritel asal Jepang. Nilai pembelian itu setara atau sekitar Rp 751,15 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.329).
Peritel Kanada menyatakan penarikan tawaran itu karena kurangnya keterlibatan konstruktif dari raksasa ritel Jepang itu yang dituduhnya melakukan kampanye yang disengaja untuk mengaburkan dan menunda.
Advertisement
Mengutip CNBC, Jumat (18/7/2025), seiring Couche-Tard menarik tawaran akuisisi, saham Seven & I turun 7,38% setelah turun lebih dari 9%, berdasarkan data dari LSEG.
Seven & I menyatakan kekecewaannya atas keputusan Couche-Tard. Seven & I juga tidak setuju dengan apa yang disebutnya “banyak kesalahan penafsiran”. Akuisisi oleh pemilik toko swalayan Circle-K akan menandai pengambilalihan asing terbesar oleh perusahaan Jepang dalam sejarah dan menciptakan kekuatan ritel global.
Perusahaan-perusahaan Jepang kini berada di bawah tekanan untuk meningkatkan laba pemegang saham dan mempertimbangkan tawaran akuisisi yang kredibel berkat perombahan regulasi yang telah memicu minat investor asing dan membantu mendorong pasar Tokyo ke serangkaian rekor tertinggi.
Namun, akuisisi beberapa perusahaan terbesar dan paling konservatif di Jepang masih menjadi tantangan berat bagi perusahaan-perusahaan asing, terutama yang manajemennya didukung oleh keluarga pendiri yang berpengaruh.
"Sejak awal, Seven & I bersikap obstruktif,” ujar ahli strategi veteran Jepang CLSA Securities, Nicholas Smith.
“Seluruh kisah ini tampaknya lebih berfokus pada perlindungan gaya hidup manajemen daripada menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham, yang selama ini buruk,” kata Smith.
"Saya menganggapnya sebagai isu khusus Seven & I, alih-alih mewakilii tren umum di Jepang,” ia menambahkan.
Kehilangan Arah
Dalam banyak hal, Seven & I memiliki semua ciri khas sukses bisnis Jepang yakni hasrat yang tampaknya tak berujung untuk kerja keras, dan inovasi, seta kemampuan untuk membawa kreasi luar negeri, dan meningkatkan fokus tanpa henti pada detil dan keputusan konsumen.
Pada kasus Seven 7 I, mereka mengubah jaringan toko sederhana di Amerika Serikat (AS) yang menawarkan rokok dan minuman bersoda menjadi oasis makanan segar dan makanan kemasan di mana pelanggan juga dapat membayar tagihan, mengirim paket dan membeli tiket konser.
Namun, seperti innovator Jepang lainnya mereka juga kehilangan arah setelah bertahun-tahun mengalami pertumbuhan pesat dan memicu seruan untuk perubahan.
Artisan Partners dan ValueAct Capital termasuk di antara pemegang saham yang mendesak Seven & I untuk mengurangi apa yang disebut “kembung”. Investor mengatakan, perusahaan telah berlambat-lambat selama bertahun-tahun.
“Menyedihkan. Ini menjadi preseden buruk bagi pasar modal dan M&A di Jepang karena menunjukkan kita bisa memperpanjang proses untuk menghindari akuisisi,” ujar investor Seven&I yang enggan disebutkan namanya.
“Kami mungkin akan mempertimbangkan untuk mengurangi posisi kami dalam target akuisisi potensial berkapitalisasi besar setelah ini,” ia menambahkan.
Ledakan M&A
Perusahaan asing terutama ekuitas swasta semakin aktif di Jepang. Seven&I pada Maret akan menjual toko swalayan dan bisnis peritel lainnya kepada Bain Capital seharga USD 5,5 miliar atau Rp 89,80 triliun. Hal ini untuk meningkatkan imbal hasil dan menangkis tawaran Couche-Tard.
Aktivitas merger dan akuisisi (M&A) Jepang mencapai rekor USD 232 miliar atau Rp 378,65 triliun dalam enam bulan pertama tahun ini, membantu mendorong pemulihan di Asia, menurut LSEG.
Direktur Pelaksana Neuberger Berman Kei Okamura menuturkan, semakin banyak perusahaan Jepang, terutama yang lebih kecil, semakin menyadari kalau perlu berubah terutama mengingat prospek ekonomi yang suram.
"Seandainya Couche-Tard mendekati perusahaan Jepang yang lebih kecil dengan pandangan manajemen yang berbeda, kemungkinan besar akan memberikan respons yang berbeda,” ujar dia.
Ia mengatakan, inflasi, suku bunga lebih tinggi dan yen semua hal ini benar-benar mengubah cara bisnis beroperasi. “Mereka tidak bisa lagi berpuas diri dan mengabaikan tawaran potensial ini untuk meningkatkan skala dan menciptakan nilai bagi pemegang saham,” kata dia.