Kena Tarif Trump 19%, Indonesia Diminta Jangan Terlena

Fokus utama Indonesia saat ini seharusnya tetap pada upaya mendorong investasi. Seperti yang telah dilakukan Prabowo, yang telah menjajaki hubungan strategis dengan berbagai negara, termasuk bergabung dengan BRICS.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiperbarui 16 Juli 2025, 15:12 WIB
Presiden AS Donald Trump saat keluar dari Air Force One, yang mendarat di bandara Schiphol, Amsterdam, untuk menghadiri pertemuan puncak NATO di Den Haag, pada 24 Juni 2025. (Brendan Smialowski/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto pada akhirnya mencapai kesepakatan dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, terkait penurunan tarif impor barang asal Indonesia ke AS, dari usulan sebelumnya sebesar 32 persen menjadi 19 persen.

Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia juga telah berkomitmen untuk membeli produk energi senilai USD 15 miliar, produk pertanian senilai USD 4,5 miliar, serta 50 unit pesawat Boeing terbaru.

Research Director di Prasasti Center for Policy, Studies Gundy Cahyadi, mengingatkan bahwa penting untuk melihat dinamika ini dalam konteks yang lebih luas.

"Tarif ala Trump lebih merupakan panggung politik ketimbang kebijakan jangka panjang yang serius. Pasar keuangan global sudah cukup terbiasa dengan gaya berpolitik teatrikal ini," ujarnya, Rabu (16/7/2025).

Sebagai ilustrasi, Gundy mencatat bahwa setelah Liberation Day di April 2025 lalu, volatilitas pasar global melonjak. Dengan indeks VIX menyentuh level tertingginya sejak pandemi. Namun pada Juli 2025, reaksi pasar cenderung mereda.

"Investor cenderung melihat ancaman tarif sebagai bagian dari pola lama: ancaman di depan layar, negosiasi di balik layar," ungkapnya.

 

Indonesia Tak Terlalu Bergantung pada Ekspor

Petugas beraktivitas di area bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (29/10/2021). Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mengalami surplus US$ 4,37 miliar karena ekspor lebih besar dari nilai impornya. (Liputan6.com/Angga

Lebih lanjut, Gundy menyoroti bahwa perekonomian Indonesia tidak terlalu bergantung pada ekspor, bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga di ASEAN.

"Ekspor ke AS hanya mencakup sekitar 10 persen dari total ekspor Indonesia. Dengan nilai ekspor tahun lalu sebesar USD 290 miliar. Skenario terburuk, jika akses pasar ke AS tertutup sepenuhnya, akan berdampak sekitar USD 29 miliar," bebernya.

"Angka ini signifikan, namun setara dengan hanya 2 persen dari total PDB Indonesia. Terasa, tapi tidak sampai mengguncang fondasi ekonomi," dia menegaskan.

 

Diminta Tetap Fokus Dorong Investasi

Sebuah kapal bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (4/12/2020). Perbaikan kinerja ekspor dari Kuartal II sebesar minus 11,7 persen menjadi minus 10,8 persen di Kuartal III dan kuartal IV menjdi pijakan untuk perbaikan ditahun 2021. (merdeka.com/Imam Buhori)

Menurut dia, fokus utama Indonesia saat ini seharusnya tetap pada upaya mendorong investasi. Seperti yang telah dilakukan Prabowo, yang telah menjajaki hubungan strategis dengan berbagai negara, termasuk bergabung dengan BRICS.

"Keputusan Presiden Prabowo untuk tetap hadir dalam KTT BRICS meski ada tekanan dari Presiden Trump menunjukkan arah kebijakan luar negeri Indonesia yang konsisten: memperluas kerja sama, memperkuat posisi, dan menjaga ketegasan," urainya.

"Jika Trump tampil dengan drama, maka Jakarta sedang menulis naskahnya sendiri," pungkas Gundy.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya