Cukup 22 Menit, PSG Runtuh Dihantam Chelsea

Paris Saint-Germain gagal menutup Piala Dunia Antarklub dengan gelar setelah dihantam Chelsea 3-0 di final, meski tampil dominan sebelumnya.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 14 Juli 2025, 05:53 WIB
Pelatih PSG, Luis Enrique, terlibat keributan pada laga final Piala Dunia Antarklub 2025 di MetLife Stadium, New Jersey, AS, Senin (14/7/2025) dini hari WIB. (AFP/Juan Mabromata)

Liputan6.com, Jakarta PSG melaju ke final Piala Dunia Antarklub dengan kepercayaan diri tinggi setelah menyingkirkan dua raksasa Eropa: Bayern Munchen dan Real Madrid. Di atas kertas, tim asuhan Luis Enrique tampak tak terbendung. Namun di partai puncak, semua keunggulan itu runtuh dalam 22 menit.

Kekalahan 0-3 dari Chelsea di MetLife Stadium menjadi antiklimaks dari performa cemerlang PSG sepanjang turnamen. Lini belakang yang selama ini solid goyah di hadapan kecepatan dan kreativitas Cole Palmer. Peluang emas terbuang, posisi bertahan buruk, dan penyelesaian akhir yang tumpul membuat PSG gagal menyamai ekspektasi.

Pertanyaan besar pun muncul: Apakah PSG masih pantas menyandang status tim terbaik di dunia? Penampilan di final menunjukkan bahwa bahkan tim sekelas PSG pun masih memiliki celah yang perlu ditambal.


Performa PSG Ambruk di Hadapan Serangan Chelsea

Duel antarpemain dalam laga Chelsea vs PSG di final Piala Dunia Antarklub 2025, Senin (14/7/2025). (AP Photo/Seth Wenig)

PSG mengawali turnamen dengan performa impresif. Mereka menang 2-0 atas Bayern Munchen di perempat final dan menggulung Real Madrid 4-0 di semifinal. Kombinasi serangan cepat dan pertahanan disiplin membuat mereka difavoritkan menjadi juara.

Namun, segalanya berubah di final. Dalam waktu singkat, Chelsea membalikkan keadaan. Cole Palmer membuka keunggulan dengan melewati tiga bek PSG di kotak penalti. Ia kemudian kembali mencetak gol usai mengecoh Lucas Beraldo, bek muda yang kewalahan sepanjang laga.

Gol ketiga Chelsea dari Joao Pedro menegaskan kehancuran pertahanan PSG. Robert Sanchez di bawah mistar Chelsea tampil solid dan membuat frustasi lini serang PSG yang tampil tumpul dan tidak terorganisir.

Ketiga gol ini tercipta dalam rentang waktu 22 menit saja, mulai gol pertama di menit ke-22 hingga gol ketiga di menit ke-44.


Cedera dan Rotasi Buka Titik Lemah PSG

Joao Pedro mencetak gol dalam laga Chelsea vs PSG di final Piala Dunia Antarklub 2025, Senin (14/7/2025). (AP Photo/Pamela Smith)

Ketidakhadiran Willian Pacho dan Lucas Hernandez membuat PSG harus merotasi lini belakang. Luis Enrique mengandalkan Lucas Beraldo untuk mengisi posisi penting di sebelah kiri Marquinhos. Namun pemain 21 tahun itu menjadi titik lemah dan gagal mengimbangi intensitas serangan Chelsea.

Selain itu, pemain muda Desire Doue juga tampil di bawah performa. Ia membuang peluang emas di babak pertama, memilih mengoper ke Achraf Hakimi ketimbang menyelesaikan sendiri. Kesalahan demi kesalahan tersebut memperburuk keadaan PSG.

Di lini tengah, Joao Neves mendapat kartu merah jelang akhir laga karena menarik rambut Marc Cucurella. Insiden ini mencerminkan frustrasi kolektif PSG yang gagal tampil maksimal di laga terpenting.


Kekalahan Menyakitkan, tapi Jadi Pengingat Bagi PSG

Pemain Chelsea, Cole Palmer, kiper Chelsea, Robert Sanchez, dan pemain PSG, Desire Doue, berpose usai seremoni penghargaan setelah final Piala Dunia Antarklub antara Chelsea vs PSG di East Rutherford, New Jersey, Senin, 14 Juli 2025. (AP Photo/Seth Wenig)

Meski kalah, PSG tetap dianggap sebagai salah satu tim terkuat di dunia. Namun laga ini membuktikan bahwa dominasi mereka belum mutlak. Chelsea membongkar kelemahan yang selama ini tersembunyi di balik kemenangan demi kemenangan sebelumnya.

Luis Enrique memiliki skuad bertabur bintang, tetapi kehilangan dua bek utama menunjukkan betapa pentingnya kedalaman skuad berkualitas. Kekalahan ini mungkin akan menjadi bahan refleksi bagi PSG dalam mengejar kesempurnaan.

Tidak banyak yang menjagokan Chelsea menang, tapi hasil akhir berkata lain. PSG harus menerima bahwa mereka belum sempurna, dan jalan menuju dominasi global masih panjang dan menuntut konsistensi di setiap laga besar.

 
 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya