Liputan6.com, Jakarta Setelah minyak oplosan, publik dibuat kaget dengan adanya beras oplosan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan terkait 212 merek beras yang diduga tak memenuhi standar mutu dan label.
Menurut Amran, salah satu modus yang ditemukan adalah pencantuman label yang tidak sesuai dengan kualitas beras sebenarnya atau sering disebut oplosan. Amran mencontohkan bahwa sebanyak 86% dari produk yang diperiksa mengklaim sebagai beras premium atau medium, padahal hanya beras biasa.
Advertisement
Lalu, apakah masyarakat bisa mengenali beras oplosan? Terkait hal ini, pakar teknologi industri pertanian IPB University, Profesor Tajuddin Bantacut mengatakan bahwa beras oplosan bisa dikenali secara kasat mata.
Tajuddin mengatakan beras oplosan dapat terlihat dari warna yang tidak seragam, butiran yang berbeda ukuran, dan setelah beras dimasak terasa tekstur nasi yang lembek.
“Jika menemukan nasi yang berbeda dari biasanya seperti warna, bau (aroma), tekstur dan butiran maka dapat ‘dicurigai’ sebagai beras yang telah dioplos dalam arti terdapat kerusakan mutu atau keberadaan benda asing,” jelas Tajuddin mengutip laman resmi IPB University, Minggu, 13 Juli 2025.
Apa Sih Beras Oplosan Itu?
Tajuddin mengatakan ada tiga jenis beras yang dikaitkan atau disebut oplosan di masyarakat.
Pertama, beras campuran yang dicampur dengan bahan lain seperti jagung. Jenis ini secara umum ditemukan di beberapa daerah.
Kedua, beras “blended” atau campuran beberapa jenis beras untuk memperbaiki rasa dan tekstur.
Ketiga, beras yang dicampur dengan bahan tidak lazim atau sudah rusak, kemudian dikilapkan atau dipoles ulang agar tampak bagus kembali, padahal mutunya sudah menurun.
Tajuddin meminta masyarakat agar lebih cermat saat membeli beras dan waspada terhadap penipuan kualitas.
“Hindari membeli beras tanpa label atau dari sumber yang tidak jelas. Cuci beras sebelum dimasak dan waspadai bila ada benda asing yang mengambang,” ucap Tajuddin.
Masa Simpan Beras Terbaik: Maksimal 6 Bulan
Perihal daya simpan, Tajuddin menjelaskan bahwa idealnya beras hanya disimpan maksimal enam bulan agar kualitasnya tetap terjaga.
Beras yang disimpan terlalu lama bisa mengalami kerusakan secara alami akibat berbagai faktor eksternal. Jadi, meski beras sudah disimpan di tempat yang terkendali, kualitasnya tetap bisa menurun akibat faktor lingkungan, hama, atau mikroorganisme.
Jika beras sudah rusak parah maka tidak bisa dikonsumsi tapi dikhawatirkan ada oknum nakal yang memoles ulang.
“Beras yang rusak bisa dipoles ulang. Namun, jika kerusakannya sudah parah, baik secara fisik, kimiawi, maupun mikrobiologis, maka tidak layak untuk dikonsumsi. Terlebih apabila mengandung bahan kimia atau pengawet, bisa berbahaya untuk kesehatan, “ jelasnya.