Liputan6.com, Lampung - Seorang petani kopi bernama Misni (63) warga asal Ponorogo, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan di kebun kopinya yang berada di Pekon Sukabumi, Kecamatan Batu Brak, Kabupaten Lampung Barat.
Korban sebelumnya dilaporkan hilang pada Kamis (10/7/2025) sore, sekitar pukul 16.00 WIB saat sedang memanen kopi. Beberapa warga yang juga berada di lokasi sempat mengajaknya pulang, namun saat dicari di gubuk tempat biasa ia beristirahat, korban tidak ditemukan.
Advertisement
Khawatir akan keberadaannya, warga bersama aparat pekon melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian dan langsung melakukan pencarian.
Sekitar pukul 17.50 WIB, korban akhirnya ditemukan tak bernyawa di semak belukar tak jauh dari kebunnya. Jasad korban dalam kondisi tidak utuh, salah satu kakinya hilang dan diduga dimangsa oleh Harimau Sumatra.
Camat Batu Brak, Ruspel Gultom mengonfirmasi peristiwa tragis tersebut.
Dia menyebutkan, korban kemungkinan besar menjadi sasaran serangan binatang buas saat sedang memanen kopi.
“Iya benar, korban adalah petani kopi yang ditemukan tewas diduga akibat serangan Harimau Sumatra,” kata Ruspel saat dikonfirmasi Liputan6.com, Jumat (11/7/2025).
Warga Diimbau Tak Sendirian di Kebun
Menurut Ruspel, aktivitas korban di kebun memang cukup rutin karena sedang musim panen kopi. Di kawasan tersebut, banyak petani yang juga tengah memanen hasil kebun mereka.
“Pada sore itu, para petani sudah mulai pulang, tapi korban tidak kelihatan. Saat dipanggil ke gubuknya, hanya ditemukan celana, sepatu, dan bercak darah,” terang Ruspel.
Warga yang melihat tanda-tanda mencurigakan kemudian berinisiatif melakukan pencarian. Setelah sekitar dua jam, korban ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan.
“Korban ditemukan dalam keadaan tercabik. Salah satu kakinya hilang. Ini diduga kuat akibat serangan harimau,” katanya.
Atas kejadian itu, pihak kecamatan dan aparat setempat mengimbau masyarakat untuk tidak berkebun sendirian dan sebisa mungkin pulang sebelum hari gelap.
Meski demikian, pihaknya mengakui tidak bisa melarang total aktivitas warga di kebun karena itu merupakan mata pencaharian utama.
“Warga di sini hidup dari bertani, jadi kami hanya bisa mengimbau agar lebih waspada dan tidak sendirian ketika ke kebun, terutama saat sore menjelang malam,” tutup dia.