Liputan6.com, Kyiv - Ibu kota Ukraina, Kyiv, kembali dihantam gelombang serangan besar-besaran oleh Rusia pada Rabu malam hingga Kamis (10/7/2025) dini hari.
Administrasi militer Kyiv melaporkan sedikitnya dua orang tewas dan sejumlah lainnya luka-luka akibat serangan yang memicu ledakan keras terdengar di seluruh penjuru kota sepanjang malam.
Advertisement
Pemerintah setempat segera mengeluarkan peringatan ancaman serangan drone dan rudal balistik, mengimbau warga untuk “segera menuju tempat perlindungan terdekat.”
Puluhan penduduk terlihat mengungsi di stasiun metro pusat Kyiv, tidur beralaskan tikar, memeluk hewan peliharaan, atau sekadar menunggu serangan reda sambil duduk di atas perabotan berkemah, seperti dilaporkan wartawan Agence France-Presse.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, menyebut puing-puing yang jatuh memicu kebakaran di beberapa bangunan di distrik Solomyansky dan Shevchenkivsky. Sementara itu, serpihan drone juga menimbulkan kebakaran di garasi dan sebuah SPBU di distrik Darnytsky, dikutip dari laman The Guardian, Kamis (10/7/2025).
Serangan terbaru ini terjadi hanya sehari setelah Moskow meluncurkan serangan rudal dan drone terbesar sejak perang dimulai lebih dari tiga tahun lalu, yang saat itu menewaskan sedikitnya satu warga sipil.
Gelombang serangan yang makin intens ini makin menekan sistem pertahanan udara Ukraina yang terbatas, sekaligus menguras ketahanan mental warga sipil.
Di tengah eskalasi ini, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov pada Kamis di sela pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Kuala Lumpur.
Ini menjadi pertemuan langsung kedua antara keduanya, di saat Presiden AS Donald Trump semakin gusar dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait konflik yang belum kunjung usai.
Trump, yang tahun ini kembali duduk di Gedung Putih dengan janji menghentikan perang Ukraina-Rusia secara cepat, awalnya mengambil nada lebih lunak terhadap Moskow dibanding pendahulunya, Joe Biden. Namun setelah AS melanjutkan kembali pengiriman senjata pertahanan ke Ukraina usai sempat terhenti, Trump mulai melontarkan kritik tajam kepada Putin.
Upaya Perdamaian
Dalam pernyataan terbarunya, Trump menilai ucapan Putin soal langkah menuju perdamaian “tak berarti apa-apa.” Trump juga mengatakan tengah mempertimbangkan mendukung rancangan undang-undang yang akan menjatuhkan sanksi berat pada Rusia, termasuk tarif hingga 500 persen bagi negara-negara yang membeli minyak, gas, uranium, dan komoditas ekspor Rusia lainnya.
Merespons sindiran Trump, Kremlin menanggapi santai. “Kami tenang menghadapi kritik itu,” ujar juru bicara Kremlin, seraya menegaskan Moskow akan terus berusaha memperbaiki hubungan yang “sudah rusak” dengan Washington.
Sementara itu, di Roma, dalam konferensi negara-negara sahabat Ukraina pada Rabu, utusan khusus Trump untuk Ukraina, Keith Kellogg, bertemu langsung dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Pihak Kyiv menyebut pertemuan tersebut sebagai percakapan yang “penuh substansi.”