Liputan6.com, Sumbawa - Kantor Imigrasi Kelas II TPI Sumbawa Besar menggandeng tiga desa di wilayah Sumbawa sebagai Desa Binaan Imigrasi. Langkah ini untuk membina keterampilan warganya untuk bekerja secara legal di luar negeri.
"Total kami membina atau memiliki 3 Desa Binaan, di Marga Karya, Mokong dan Maman berada di Kecamatan Moyo Hulu, Sumbawa," ungkap Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Sumbawa Besar, Tedy Anugraha, Kamis (10/7/2025).
Advertisement
Menurut Tedy, awal mula ditentukannya desa binaan adalah, adanya minat yang tinggi warga di desa tersebut yang menginginkan kerja di luar negeri. Hingga didatangi oleh agensi atau yayasan, agar mau bekerja di luar negeri.
Untuk itu, petugas Imigrasi mendatangi aparat setempat, seperti camat dan kepala desanya, berdiskusi untuk pembuatan desa binaan. Di dalamnya akan diberi pemahaman mengenai lembuatan paspor harus sesuai prosedur, definisi pekerja migran Indonesia, dan lainnya.
Namun yang unik adalah, ada satu desa binaan Marga Karya, ternyata warganya mengolah kopi dengan rempah-rempah yang diberi nama Kocimar, kopi Racik Marga.
"Kami coba berikan pembinaan, pengemasan kopi racikan mereka. Karena racikannya sangat enak, robusta bercampur dengan jahe, hangat dan harum,"katanya
Dibuat Istri Kepala Desa
Kopi racikan itu langsung dibuat istri dari Kades Marga Karya, Eli. Dia mengaku biji kopi didapat dari desa sebelah, yang dibelinya, lalu diracik dengan rempah-rempah seperti jahe, kayu manis dan lainnya.
"Saya racik sendiri, kopi robusta hasil panen desa sebelah, saya beli, masak sendiri, biji kopi yang sudah matang dan ditumbuk, lalu saya campur dengan rempah-rempah, hasilnya baru Kocimar," katanya.
Kopi racikan Eni pun semakin lama digandrungi warga hingga keluar pulau. Melalui pembinaan Imigrasi Sumbawa Besar, Eli mengemasnya untuk pengiriman jarak jauh sehingga bisa dikenal lebih luas lagi.
"Katanya aman untuk lambung, hangat di perut, awalnya saya hanya produksi hanya sekilo saja. Kini bisa 12 kilogram sekali bikin," katanya.
Tidak Perlu Kerja ke Luar Negeri
Dia pun menginginkan, agar keterampilan membuat kopi ini dikuasai juga oleh warga desa. Sehingga, tidak ada lagi pikiran mereka untuk bekerja jauh-jauh keluar negeri.
"Kalau bisa mendapatkan penghasilan di sini, kenapa harus keluar negeri,"katanya.
Pasalnya, 1 kemasan kopi racik robusta ini, dihargai dengan harga yang bersaing. Yakni, Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu. Sementara, dari 1 Kilogram biji kopi, Eni mengaku bisa memproduksi 4 sampai 6 bungkus Kocimar.
"Jadi, kalau sekilo biji kopi harganya Rp 35 ribu, dari harga jualnya lagi kita bisa dapat Rp 180 ribu. Alhamdulillah, semakin banyak pesanannya,"kata Eni.