Kisah Kejatuhan Anderson: The Next Ronaldinho yang Kariernya Merosot Drastis usai Tinggalkan Manchester United

Namanya melejit saat berseragam Manchester United, bahkan digadang-gadang sebagai 'The Next Ronaldinho'. Dibeli dari Porto saat masih remaja, harapan besar melekat padanya.

oleh Gia Yuda PradanaDiperbarui 09 Juli 2025, 09:06 WIB
3. Anderson - Gelandang asal Brasil ini diboyong Manchester United dari FC Porto pada musim panas 2007. Pemain yang sempat meraih Golden Boy Awards itu ditebus MU dengan mahar 28,35 juta pounds atau sekitar Rp537 miliar. (AFP/Paul Ellis)

Liputan6.com, Jakarta Anderson Luis de Abreu Oliveira pernah berada di puncak dunia. Namanya melejit saat berseragam Manchester United, bahkan digadang-gadang sebagai 'The Next Ronaldinho'. Dibeli dari Porto saat masih remaja, harapan besar melekat padanya.

Namun, harapan hanyalah permulaan. Karier Anderson di Old Trafford yang penuh suka cita tak berakhir dengan kisah manis. Ia menjadi sosok yang dicintai fans, bukan karena prestasi luar biasa, tapi karena energi positif dan tingkah lakunya yang menghibur.

Setelah hengkang dari Manchester United, jalan hidup Anderson justru dipenuhi masalah. Kariernya merosot drastis dan kehidupan pribadinya terus dihantui kontroversi hingga hari ini.


Kilau Singkat di Old Trafford

Gelandang Manchester United, Anderson (kiri) berebut bola dengan gelandang Arsenal, Gilberto Silva pada laga putaran kelima Piala FA 2007/2008 di Old Trafford Stadium, Manchester (16/2/2008). Anderson yang baru didatangkan MU dari FC Porto pada awal musim 2007/2008 langsung mewarisi jersey bernomor punggung 8. Ia mengenakannya hingga tengah musim 2013/2014. Saat itu dipinjamkan ke Fiorentina. (AFP/Andrew Yates)

Anderson tiba di Manchester United pada 2007 dengan banderol £27 juta (sekitar Rp570 miliar) dan segudang ekspektasi. Gelar Golden Boy yang diraihnya saat masih di Porto menjadi bukti betapa tinggi potensi yang ia miliki.

Musim pertamanya merupakan puncak pencapaian. Ia bermain 38 kali, mengangkat trofi Liga Inggris dan Liga Champions, bahkan mencetak penalti krusial di final melawan Chelsea di Moskow. Namun, setelah itu, performanya mulai meredup.

Masalah kebugaran dan kedisiplinan mulai menghantui. Mantan rekan setimnya, Rafael, mengenang, “Kami bisa berada di bus tim dan melewati rest area, dan Anderson akan spontan berdiri dan berteriak, ‘McDonald's, McDonald's’. Tak heran performa terbaiknya justru saat ia bermain banyak laga karena saat itu dia tak sempat makan terlalu banyak.”


Dibayangi Cedera dan Gaya Hidup Buruk

Anderson. Gelandang Brasil yang kini berusia 34 tahun dan telah pensiun dini pada September 2019 bersama Adana Demirspor ini tercatat sebagai salah satu pemain Amerika Latin termahal yang pernah didatangkan Manchester United. Ia didatangkan pada awal musim 2007/2008 dari FC Porto dengan nilai transfer 31,5 juta euro atau kini setara Rp464 miliar. Bertahan hingga tengah musim 2014/2015, ia total tampil dalam 181 laga bersama MU di semua ajang dengan torehan 9 gol dan 21 assist. (AFP/Patrik Stollarz)

Tak hanya pola hidup, insiden kecelakaan mobil pada 2010 di Portugal juga memperburuk nasibnya. Anderson selamat dari mobil yang meledak beberapa saat setelah kecelakaan, tapi dampak mental dan fisiknya cukup besar.

Rio Ferdinand, legenda United, juga menyayangkan minimnya dedikasi Anderson. “Anderson adalah pemain yang kadang membuat saya frustrasi. Ia punya bakat luar biasa, tapi tidak menerapkannya sebaik mungkin. Kalau ia lebih serius, mungkin ia takkan sering cedera,” ungkapnya.

Anderson jadi contoh klasik pemain berbakat yang gagal mengatur hidup di tengah sorotan. Padahal, secara teknis, ia punya segala yang dibutuhkan untuk jadi pemain top dunia.

Lanjut Baca:

Setelah masa peminjaman singkat di Fiorentina, Anderson kembali ke Brasil dengan harapan membangun ulang kariernya. Namun, lagi-lagi, masalah lama membayang. Berat badannya naik signifikan, kebugarannya menurun drastis. Salah satu momen paling mengkhawatirkan terjadi di Internacional. Dalam satu pertandingan, ia harus mengenakan masker oksigen di bangku cadangan setelah ditarik keluar karena kelelahan. Perhatian publik pun tak terelakkan. Setelah beberapa musim yang mengecewakan, termasuk masa pinjaman ke Coritiba, ia kembali ke Eropa dan bergabung dengan Adana Demirspor. Namun, dia hanya tampil 15 kali, dan gantung sepatu di usia 31.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya