Liputan6.com, Jakarta Harga minyak bertahan mendekati level tertinggi dalam dua minggu pada hari Selasa, seiring investor mengevaluasi perkembangan terbaru terkait tarif AS dan peningkatan produksi OPEC+ yang lebih tinggi dari perkiraan untuk bulan Agustus.
Dikutip dari CNBC, Rabu (9/7/2025), kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 57 sen, atau 0,82%, menjadi ditutup pada USD 70,15 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 40 sen, atau 0,59%, menjadi USD 68,33 per barel.
Advertisement
Kedua acuan harga minyak ini mencatat penutupan tertinggi sejak 23 Juni, untuk hari kedua berturut-turut.
Ketegangan Tarif AS Pengaruhi Pasar Global
Ekonomi besar Asia seperti Jepang dan Korea Selatan menyatakan pada hari Selasa bahwa mereka akan berupaya bernegosiasi dengan Amerika Serikat untuk mengurangi dampak tarif tinggi yang akan diberlakukan oleh Presiden AS, Donald Trump, mulai awal Agustus.
Trump kembali meningkatkan tensi perang dagang pada hari Senin, dengan memberi tahu 14 negara bahwa mereka akan dikenakan tarif, mulai dari 25% bagi negara seperti Jepang dan Korea Selatan, hingga 40% untuk Laos dan Myanmar.
Tarif yang dikenakan Trump menimbulkan ketidakpastian di pasar dan kekhawatiran terhadap potensi dampaknya pada ekonomi global dan permintaan minyak.
Di Jerman, sebagai ekonomi terbesar di Eropa, ekspor turun lebih besar dari perkiraan pada bulan Mei, menurut data hari Selasa, karena permintaan dari AS menurun untuk bulan kedua berturut-turut akibat dampak tarif.
Produksi OPEC+ Naik, Pasar Waspadai Risiko Kelebihan Pasokan
Meskipun pasar tertekan oleh keputusan OPEC+ untuk mengakhiri pemotongan produksi secara sukarela, keketatan pasokan produk distilat menengah dan serangan Houthi terhadap kapal kargo turut menopang harga, kata analis Janiv Shah dari Rystad Energy.
Pada hari Sabtu, kelompok OPEC+ yang mencakup Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya seperti Rusia, sepakat untuk meningkatkan produksi sebesar 548.000 barel per hari (bph) pada bulan Agustus — lebih tinggi dari kenaikan 411.000 bph dalam tiga bulan sebelumnya.
Analis HSBC memperingatkan bahwa ketika permintaan minyak secara musiman menurun, peningkatan ekspor OPEC+ bisa memberikan tekanan turun terhadap harga.
Analis Commerzbank memperkirakan harga Brent bisa turun ke $65 per barel pada musim gugur mendatang karena potensi kelebihan pasokan.
Keputusan OPEC+ tersebut hampir sepenuhnya menghapus pemotongan sukarela sebesar 2,2 juta bph yang diberlakukan sejak 2023.
Menurut sumber Reuters, kelompok produsen ini diperkirakan akan menyetujui peningkatan sekitar 550.000 bph lagi untuk bulan September dalam pertemuan pada 3 Agustus, yang berarti seluruh pemotongan akan dibatalkan.
Data Stok Minyak AS Jadi Sorotan Pasar
Kelompok dagang American Petroleum Institute (API) dan Badan Informasi Energi AS (EIA) dijadwalkan merilis data persediaan minyak AS masing-masing pada hari Selasa dan Rabu.
Para analis memperkirakan perusahaan energi menarik sekitar 2,6 juta barel minyak dari persediaan selama pekan yang berakhir 4 Juli.
Jika perkiraan ini benar, maka ini akan menjadi kali keenam dalam tujuh minggu terakhir perusahaan energi mengurangi stok minyak mereka. Sebagai perbandingan, pada minggu yang sama tahun lalu terjadi penurunan sebesar 3,4 juta barel, sementara rata-rata lima tahun terakhir (2020–2024) menunjukkan kenaikan sebesar 1,9 juta barel.